Highlight Berita:
Headline.co.id, Dakar ~ Awa Diba menjalani persalinan selama 24 jam di Dakar, Senegal, sehari sebelum tenaga kesehatan di negara itu dijadwalkan melakukan mogok kerja yang membatasi layanan rumah sakit pada penanganan darurat. Diba, seorang peserta pelatihan keperawatan, melahirkan anak pertamanya di tengah kondisi ruang perawatan yang menurut pengalamannya dipenuhi keterbatasan fasilitas, panas, teriakan, dan listrik yang tidak selalu tersedia. Pengalaman itu terjadi saat dokter, apoteker, dan dokter gigi menekan pemerintah agar memperbaiki perekrutan, kondisi kerja, serta investasi pada rumah sakit dan peralatan medis. Situasi tersebut memperlihatkan tekanan yang dihadapi sistem kesehatan Senegal, ketika kebutuhan layanan publik berhadapan dengan keterbatasan fasilitas dan ruang fiskal negara.
Diba mengatakan suasana di dalam rumah sakit membuatnya terkejut. Ia berbagi kamar dengan empat perempuan lain, melihat retakan di langit-langit, menghadapi kipas yang tidak berfungsi, serta merasakan perbedaan fasilitas antar-ruangan karena sebagian memiliki pendingin udara dan sebagian lainnya tidak. Pasokan listrik juga disebut tidak stabil.
'Ada banyak teriakan. Saya melihat hal-hal di dalam rumah sakit yang mengejutkan saya,' kata Diba.
Persalinan 24 Jam di Tengah Keterbatasan Rumah Sakit
Diba masuk rumah sakit sebagai peserta pelatihan perawat dan keluar sebagai seorang ibu dengan putri yang sehat. Sebelum menekuni keperawatan, ia tumbuh di Casamance, Senegal bagian selatan, dan mempelajari komunikasi digital di sebuah universitas di Ziguinchor. Ia kemudian pindah ke Dakar dan menjalani pelatihan ulang, termasuk penempatan di Hopital Principal de Dakar dan rumah sakit anak Albert Royer.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Perubahan jalur karier itu juga berlangsung di tengah sulitnya pasar kerja bagi anak muda. Menurut Badan Statistik dan Demografi Nasional Senegal atau ANSD, tingkat pengangguran penduduk berusia 15 sampai 34 tahun mencapai 28,4 persen pada kuartal pertama 2026. Diba melihat keperawatan memberi peluang berbeda karena tersedia kemungkinan magang berbayar maupun kerja sif di klinik.
Tenaga Medis Mogok Tuntut Rekrutmen dan Peralatan
Tekanan pada layanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan jumlah dokter. Pada akhir 2024, sebanyak 5.236 dokter tercatat di Dewan Medis Nasional Senegal, dengan 4.407 di antaranya bekerja di sektor publik. Dr Marc Manga, anggota serikat medis SAMES di Ziguinchor, menilai persoalan mutu layanan juga berkaitan langsung dengan ketersediaan peralatan dan akses diagnosis.
'Bagaimana kita bisa berbicara tentang kualitas layanan ketika rumah sakit kekurangan peralatan dasar dan pasien harus menempuh ratusan kilometer untuk mendapatkan diagnosis?' kata Manga.
Pada 16 dan 17 September, dokter, apoteker, dan dokter gigi melakukan mogok setelah penghentian kerja selama 48 jam pada pekan sebelumnya. Layanan darurat tetap berjalan, sedangkan kegiatan medis rutin terganggu. SAMES menuntut perekrutan lebih banyak tenaga, perbaikan kondisi karier dan pensiun, serta investasi lebih besar pada rumah sakit dan peralatan medis, terutama di luar Dakar. Serikat itu menyebut tuntutan tersebut telah disampaikan sejak 2023.
'Kami menunggu, kami berharap, dan kami terus menindaklanjuti. Sayangnya, tidak ada tanggapan yang masuk akal diberikan kepada kami,' kata Sekretaris Jenderal SAMES Dr Diabel Drame.
Beban Utang Mempersempit Ruang Belanja Kesehatan
Tekanan terhadap rumah sakit terjadi ketika Senegal mencatat pertumbuhan ekonomi 6,7 persen pada 2025 dan mulai memproduksi minyak serta gas. Namun, IMF memperkirakan total utang sektor publik mencapai 132 persen dari produk domestik bruto pada akhir 2024. Setelah Presiden Bassirou Diomaye Faye menjabat, audit pemerintah menemukan pinjaman yang sebelumnya tidak diungkapkan dan memicu revisi besar pada angka utang.
IMF menyatakan proses rekonsiliasi mengubah angka utang pemerintah pusat pada akhir 2023 dari 74,4 persen menjadi 111 persen dari PDB, terutama karena kewajiban yang sebelumnya tidak dilaporkan. Pada saat yang sama, pemotongan bantuan Amerika Serikat disebut berdampak pada program HIV, malaria, dan kesehatan reproduksi. Faye kemudian melakukan pembicaraan dengan IMF dan Bank Dunia di Washington serta bertemu investor dan penyandang dana di Abu Dhabi.
Faye menyebut arsitektur utang global 'tidak memadai' dan 'tidak adil' karena dinilainya menghambat akses terhadap layanan publik penting, termasuk kesehatan dan pendidikan. Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah Senegal juga menyatakan komitmen pada agenda keadilan reparatif terkait perdagangan budak trans-Atlantik, sementara Ousmane Sonko pada Juni menyampaikan dukungan terhadap reparasi ekonomi bagi Afrika.
Diba berencana mengambil spesialisasi hematologi untuk merawat pasien kanker, leukemia, dan penyakit sel sabit. Dari pengalamannya di fasilitas kesehatan, ia melihat ketakutan menjadi salah satu hal yang paling menonjol pada pasien, terutama mereka yang datang ketika kondisi penyakit sudah berat.
'Mereka takut mati. Ketika masuk, mereka berpikir: Saya tidak akan pernah keluar. Saya tidak akan meninggalkan tempat ini hidup-hidup. Saya akan mati,' kata Diba.
Menurut Diba, rumah sakit publik terlalu sering menjadi pilihan terakhir. Ia mengatakan sebagian pasien menunggu sampai penyakit mencapai tahap akhir sebelum datang. Status rumah sakit publik juga tidak selalu berarti layanan tanpa biaya karena konsultasi, pemeriksaan, obat-obatan, dan pengobatan tetap membutuhkan uang. Akibatnya, sebagian orang menunggu sampai memiliki cukup dana, kemudian kembali harus menunggu diagnosis dan perawatan.
Myriam Lahir di Tengah Harapan Perubahan
Setelah 24 jam menjalani persalinan, Diba meninggalkan rumah sakit dengan putrinya yang diberi nama Myriam. Nama itu merujuk pada Maryam atau Mary dalam tradisi Al-Quran, ibu dari Yesus, yang menjalani rasa sakit dan kesendirian saat melahirkan sebelum membawa anaknya dalam pelukan.
Bagi Diba, kelahiran Myriam menjadi cerita pribadi yang bertemu langsung dengan profesi yang sedang ia tekuni. Putrinya lahir menjelang mogok medis, di dalam sistem kesehatan yang dipilih Diba untuk ia layani melalui profesi keperawatan.
'Saya tidak ingin putri saya mengalami ini,' kata Diba.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















