Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat pemulihan sekolah terdampak gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan menyiapkan 672 ruang kelas sementara dan memperluas pendampingan psikososial. Langkah ini dilakukan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 melanda Flores sejak 15 Agustus 2026 dan merusak ribuan satuan pendidikan. Pemerintah mengambil kebijakan tersebut untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan sekaligus menjaga keselamatan serta kondisi psikologis peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan. Pemulihan dilakukan melalui penyediaan ruang belajar yang lebih tahan terhadap musim hujan, asesmen bangunan, serta dukungan psikososial.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus pada Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, mengatakan pemulihan pendidikan tidak hanya berfokus pada pembangunan ruang kelas. Menurut dia, anak-anak yang terdampak bencana juga membutuhkan rasa aman dan pendampingan untuk kembali mengikuti pembelajaran.
“Pemulihan anak-anak tidak berhenti pada tersedianya ruang kelas,” kata Saryadi dalam Taklimat Media Perkembangan Penanganan Bencana NTT di Bidang Pendidikan yang digelar secara daring, Senin (14/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
2.447 Satuan Pendidikan Terdampak Gempa Flores
Berdasarkan pemantauan hingga 10 September 2026, sebanyak 2.447 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA, SMK, serta pendidikan khusus terdampak gempa. Dampaknya dirasakan oleh 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan.
Sebanyak 62.722 warga satuan pendidikan juga sempat berada di pengungsian. Jumlah tersebut terdiri atas 54.494 peserta didik dan 8.228 guru serta tenaga kependidikan. Dalam bencana itu, tujuh warga satuan pendidikan meninggal dunia, yakni enam peserta didik dan satu guru.
Kerusakan infrastruktur juga cukup besar. Sebanyak 730 satuan pendidikan tercatat mengalami kerusakan berat. Dari 13.750 ruang kelas yang telah dilaporkan, sebanyak 8.728 ruang mengalami kerusakan. Data tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan, verifikasi, dan validasi di lapangan masih berlangsung.
Meski demikian, proses belajar tetap dilaksanakan. Sebanyak 1.960 satuan pendidikan masih menggunakan moda darurat, seperti tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas sementara. Sementara itu, 487 satuan pendidikan telah kembali menggelar pembelajaran tatap muka secara normal di ruang kelas.
672 Ruang Kelas Sementara Disiapkan
Ancaman musim hujan membuat kebutuhan ruang belajar yang lebih layak menjadi prioritas. Sebelumnya, Kemendikdasmen telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat dengan nilai sekitar Rp5,5 miliar. BNPB juga membantu distribusi logistik pendidikan hingga ke sekolah terdampak serta mengalihfungsikan 40 tenda pengungsian yang sudah tidak digunakan menjadi ruang kelas darurat.
Sejumlah sekolah dan masyarakat turut membangun ruang belajar sementara secara swadaya menggunakan bambu, kayu, dan terpal. Pembangunan tersebut didukung dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) serta belanja tidak terduga pemerintah daerah.
Namun, Kemendikdasmen menilai tenda dan terpal tidak memadai untuk digunakan selama berbulan-bulan, terutama ketika musim hujan tiba. Karena itu, kementerian menyiapkan ruang kelas sementara dengan bahan lokal dan atap yang lebih kuat. Ruang tersebut dirancang untuk digunakan sekitar empat hingga enam bulan sambil menunggu pembangunan kembali sekolah secara permanen.
“Seluruh dinas pendidikan kabupaten menyampaikan bahwa tenda dan terpal darurat tidak akan cukup untuk beberapa bulan ke depan. Karena itu, kami mengarahkan penyediaan ruang darurat yang lebih tahan,” ujar Saryadi.
Pada tahap pertama, bantuan pembangunan 672 ruang kelas sementara disalurkan dengan total nilai sekitar Rp3,5 miliar. Prioritas diberikan kepada sekolah yang mengalami kerusakan berat serta wilayah yang diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan. Kebutuhan ruang kelas sementara untuk satuan pendidikan lainnya masih dihitung dan diverifikasi.
Asesmen Bangunan dan Pembelajaran Bertahap
Pemulihan fisik sekolah dilakukan melalui asesmen yang melibatkan Kemendikdasmen, Kementerian Pekerjaan Umum, BNPB, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan tim revitalisasi. Bangunan sekolah dikelompokkan dalam kategori hijau, kuning, dan merah.
Ruang kelas kategori kuning dan merah tidak digunakan hingga dinyatakan aman. Adapun ruang dengan kerusakan ringan dapat kembali dipakai setelah bagian yang membahayakan, seperti plafon rusak, diperbaiki. Sebelum peserta didik kembali ke ruang kelas, sekolah juga diminta menggelar simulasi evakuasi dan pembekalan kesiapsiagaan.
Pembelajaran tatap muka terbatas mulai diterapkan secara bertahap sejak akhir Agustus hingga awal September 2026. Peserta didik kelas 6, 9, dan 12 diprioritaskan agar tetap memiliki waktu mempersiapkan diri menghadapi Tes Kemampuan Akademik pada Oktober mendatang.
Kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026. Pelaksanaannya berpedoman pada tiga prinsip, yakni keselamatan warga satuan pendidikan, fleksibilitas moda dan waktu pembelajaran sesuai kondisi lapangan, serta dukungan psikososial.
Pendampingan Psikososial Diperluas
Kemendikdasmen mencatat 857 satuan pendidikan dengan 101.888 peserta didik membutuhkan pendampingan psikososial. Hingga kini, dukungan tersebut telah diberikan di 75 sekolah bersama berbagai mitra.
Ke depan, kementerian akan melatih 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah. Program ini ditargetkan menjangkau sekitar 51.000 pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak.
“Fokusnya pada dukungan psikososial dan pemulihan pembelajaran pascabencana,” kata Saryadi.
Pemerintah Provinsi NTT juga mengalokasikan sekitar Rp2,4 miliar dari bantuan Presiden untuk mendukung program psikososial bagi guru dan tenaga kependidikan. Selain itu, Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan awal sekitar Rp6 miliar untuk peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan terdampak, serta sekitar Rp1,1 miliar untuk operasional pendidikan darurat.
Santunan bagi peserta didik dan guru yang menjadi korban gempa telah disalurkan dengan total sekitar Rp330 juta. Untuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi permanen, bantuan revitalisasi mulai diberikan kepada 187 satuan pendidikan dengan total nilai sekitar Rp50 miliar.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan, pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus bergotong royong memastikan hak pendidikan bagi anak-anak Flores tetap terpenuhi, sekalipun kondisinya memang sulit pascagempa bumi,” ujar Saryadi.


















