Headline.co.id, Kotawaringin Timur ~ Polri memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dengan mengoptimalkan teknologi deteksi dini, kendaraan khusus, peralatan pemadaman, dan rekayasa tata air gambut. Upaya tersebut dilakukan untuk mendeteksi, menjangkau, serta memadamkan titik api di sejumlah wilayah Kalteng. Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo mengecek langsung kesiapan personel serta sarana dan prasarana penanganan karhutla pada sejumlah lokasi.
Penguatan penanganan karhutla Kalteng dilakukan karena wilayah itu mencatat 107.309 hotspot, 2.819 firespot, dan 9.228,04 hektare lahan terbakar berdasarkan data terbaru. Kebakaran dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur, sementara kualitas udara di Palangka Raya dilaporkan mencapai AQI 3.242 atau masuk kategori sangat berbahaya.
Polri Kerahkan Kendaraan Khusus dan Drone Thermal
Dalam penanganan karhutla, Polri mengerahkan berbagai kendaraan operasional untuk mendukung mobilitas personel, terutama di wilayah dengan medan yang sulit dijangkau. Kendaraan tersebut meliputi kendaraan double cabin, AWC, kendaraan Damkar dan tactical Karhutla, kendaraan Komodo, sepeda motor modifikasi, hingga ATV.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kesiapan kendaraan itu ditujukan untuk mendukung petugas dalam menjangkau lokasi kebakaran. Selain kendaraan operasional, Polri memperkuat pemantauan titik panas dengan menggunakan drone thermal.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu menemukan sumber panas yang sulit terlihat secara langsung. Kepulan asap dan kondisi medan di lokasi kebakaran dapat menyulitkan pemantauan, sehingga drone thermal digunakan untuk membantu petugas mendeteksi sumber panas.
Untuk mempercepat proses pemadaman, Polri juga menyiapkan puluhan unit pompa serta ratusan perlengkapan pendukung. Peralatan itu mencakup selang, konektor, fire beater, dan folding water tank.
Rekayasa Tata Air Gambut Jadi Bagian Mitigasi
Upaya penanganan karhutla Kalteng tidak hanya dilakukan melalui pemadaman. Polri juga mendorong rekayasa tata air di lahan gambut melalui penyekatan kanal, pengisian kembali air, pembangunan sumur bor, serta embung.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga muka air gambut tetap lembap sehingga potensi terjadinya kebakaran dapat ditekan. Infrastruktur tata air menjadi bagian dari upaya mitigasi, terutama di kawasan gambut yang membutuhkan pengelolaan kelembapan lahan.
“Saat ini terdapat 220 sumur bor dan 104 embung yang menjadi bagian dari infrastruktur mitigasi karhutla di Kalteng,” demikian pernyataan Polri dalam rilisnya, Jumat (11/09/2026).
Jumlah sumur bor dan embung itu disebut sebagai bagian dari infrastruktur mitigasi karhutla di Kalimantan Tengah. Selain mendukung pencegahan, rekayasa tata air diarahkan untuk membantu mengurangi potensi meluasnya kebakaran di lahan gambut.
Karhutla Kalteng Berdampak pada Kualitas Udara
Data terbaru menunjukkan kebakaran masih tersebar di wilayah Kalimantan Tengah. Dari catatan tersebut, Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan konsentrasi kebakaran tertinggi.
Kondisi kualitas udara di Palangka Raya turut menjadi perhatian. Indeks kualitas udara atau AQI di wilayah tersebut dilaporkan mencapai 3.242 dan masuk kategori sangat berbahaya.
Polri memastikan langkah pencegahan dan penanganan terus diperkuat. Upaya itu mencakup deteksi dini, kesiapan personel, penggunaan peralatan operasional, pemadaman titik api, serta pengelolaan tata air gambut untuk mengantisipasi meluasnya karhutla di Kalteng.






