Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Penguatan El Nino yang diprediksi berlangsung hingga Februari 2027 menjadi salah satu risiko cuaca yang diantisipasi pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Di tengah prakiraan WMO bahwa El Nino akan mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan menyatakan ketersediaan beras Indonesia masih berada dalam kondisi terjaga. Pemerintah mendasarkan penilaian itu pada cadangan beras sekitar 5,25 juta ton pada Agustus 2026, proyeksi produksi yang lebih tinggi daripada kebutuhan domestik, serta penyaluran Cadangan Beras Pemerintah untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga.
Menurut data pemerintah yang terdapat dalam bahan, produksi beras pada 2026 diperkirakan berada pada kisaran 34,77 juta hingga 38,6 juta ton. Kebutuhan domestik diperkirakan sekitar 31,10 juta ton. Dengan perbandingan tersebut, pemerintah memproyeksikan masih tersedia ruang surplus meskipun risiko El Nino dan ketidakpastian global tetap perlu diantisipasi.
Cadangan Beras Nasional Disebut Mencapai 5,25 Juta Ton
Zulkifli Hasan menyebut cadangan beras nasional mencapai sekitar 5,25 juta ton pada Agustus 2026. Angka tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menyatakan ketahanan pangan masih terjaga ketika fenomena El Nino sedang menguat di kawasan Pasifik tropis.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
‘Dengan proyeksi tersebut, Indonesia dapat mencatat surplus beras antara 3,67 juta hingga 7,50 juta ton pada 2026,’ kata Zulkifli Hasan. Pemerintah juga disebut telah menyalurkan hampir 1,9 juta ton Cadangan Beras Pemerintah atau CBP untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan.
Langkah penyaluran CBP menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan jumlah produksi, tetapi juga menggunakan instrumen cadangan untuk mempertahankan pasokan di dalam negeri. Dalam konteks El Nino, strategi tersebut menjadi penting karena cuaca yang berubah dapat memengaruhi pola tanam, ketersediaan air, hasil pertanian, serta distribusi di beberapa wilayah.
Produksi Beras Diproyeksikan Melampaui Kebutuhan Domestik
Proyeksi produksi beras 2026 berada di atas perkiraan kebutuhan domestik. Pada batas bawah proyeksi, produksi diperkirakan 34,77 juta ton, sedangkan pada batas atas mencapai 38,6 juta ton. Sementara itu, kebutuhan domestik disebut sekitar 31,10 juta ton. Selisih inilah yang mendasari proyeksi surplus 3,67 juta hingga 7,50 juta ton.
Meski demikian, bahan tidak menyebut bahwa surplus tersebut menghilangkan seluruh risiko. Pemerintah justru menyatakan tetap mengambil langkah antisipatif terhadap kemungkinan gangguan ketahanan pangan akibat perubahan cuaca dan kondisi geopolitik global. Artinya, perhatian diarahkan tidak hanya pada jumlah stok, tetapi juga pada kesinambungan distribusi dan kemampuan menjaga kebutuhan domestik.
‘Pemerintah akan terus melindungi pasokan dan distribusi pangan agar kebutuhan domestik tetap terpenuhi,’ ujar Zulkifli Hasan. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa cadangan dan produksi harus tetap diikuti pengelolaan distribusi untuk menghadapi ketidakpastian yang dapat muncul selama periode El Nino.
Pemerintah Antisipasi Risiko Cuaca dan Geopolitik
El Nino yang aktif sejak Juni 2026 diperkirakan semakin kuat dalam beberapa bulan mendatang. WMO menyatakan peluang fenomena ini bertahan hingga Februari 2027 hampir 100 persen. Suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur juga telah meningkat jauh di atas normal, dengan nilai mingguan pada akhir Juli hingga pertengahan Agustus berada di kisaran 2,2 hingga 2,6 derajat Celsius di atas rata-rata.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan dan suhu daratan di berbagai wilayah. WMO memperkirakan periode September hingga November 2026 akan menunjukkan pengaruh kuat El Nino, meskipun dampaknya berbeda menurut lokasi dan musim. Karena itu, pemerintah Indonesia menempatkan perubahan cuaca sebagai salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengamanan pangan.
Antisipasi juga mencakup risiko dari kondisi geopolitik global. Bahan tidak merinci bentuk gangguannya, tetapi menyebut pemerintah mempertimbangkan faktor tersebut bersamaan dengan perubahan cuaca saat menjaga ketahanan pangan nasional.
El Nino Global Tetap Menjadi Risiko bagi Pangan
WMO menyebut El Nino sangat kuat berpotensi meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, dan banjir di berbagai belahan dunia. Dampaknya juga dapat menjalar ke produksi pertanian, ketahanan pangan, harga komoditas, dan rantai pasokan global. Beberapa wilayah disebut telah mengalami kekeringan dan banjir, termasuk bagian Amerika Latin, sementara perubahan curah hujan juga dirasakan di Amerika Tengah, India, Afrika, Asia Tenggara, dan Australia.
Kepala WMO Celeste Saulo mengatakan, ‘El Nino ini memerlukan persiapan dan respons yang luar biasa.’ Namun WMO juga menegaskan bahwa kekuatan El Nino tidak otomatis membuat setiap negara mengalami bencana dengan tingkat yang sama. Dampak lokal tetap dipengaruhi musim, posisi geografis, serta faktor iklim lain seperti kondisi Samudra Hindia dan Atlantik.
Bagi Indonesia, angka cadangan dan proyeksi produksi memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga pasokan selama 2026. Namun, karena El Nino diperkirakan mencapai puncak pada akhir tahun dan bertahan hingga Februari 2027, keberlanjutan pemantauan produksi, stok, distribusi, dan stabilitas harga tetap menjadi bagian penting dari antisipasi ketahanan pangan.




















