Headline.co.id, Bandung ~ (Kemenag) — Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo Syafi’i, mengungkapkan lima agenda riset penting bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang mencakup berbagai bidang strategis. Agenda tersebut meliputi ketahanan pangan, kemandirian energi, hilirisasi dan industri nasional, transformasi digital dan kecerdasan buatan, serta riset yang berujung pada hilirisasi dan kemaslahatan. Pengumuman ini disampaikan dalam Kuliah Umum bertema “Peran Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN dalam Membangun Peradaban Berbasis Sains dan Nilai Keislaman” di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Kamis, 3 September 2026.
Romo Syafi’i menekankan pentingnya riset PTKIN yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Ia menyatakan bahwa pengembangan riset tidak hanya harus fokus pada bidang keilmuan, tetapi juga pada isu strategis yang memerlukan teknologi dan inovasi. Agenda pertama yang diusulkan adalah ketahanan pangan, yang mencakup riset dalam pertanian modern, teknologi pangan, peningkatan produktivitas, pengelolaan air, benih unggul, dan teknologi pascapanen.
Agenda kedua adalah ketahanan dan kemandirian energi. Riset di bidang ini diarahkan pada pengembangan energi surya, bioenergi, baterai, kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan energi terbarukan. Agenda ketiga, hilirisasi dan industri nasional, bertujuan untuk mendorong pengolahan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah, termasuk teknologi manufaktur, material maju, elektronika, semikonduktor, dan teknologi kelautan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Transformasi digital dan kecerdasan buatan menjadi agenda keempat. Pengembangan di bidang ini mencakup kecerdasan buatan, pengolahan data, robotika, keamanan siber, dan teknologi digital yang dapat memenuhi kebutuhan di sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, industri, pemerintahan, dan pelayanan masyarakat. Romo Syafi’i menegaskan bahwa PTKIN harus berperan sebagai pencipta teknologi, bukan sekadar pengguna.
Agenda kelima menyoroti riset yang berujung pada hilirisasi dan kemaslahatan. Wamenag menekankan pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan riset dengan inovasi, produk, industri, lapangan kerja, dan manfaat bagi masyarakat. “Kita harus membangun ekosistem: Riset → Inovasi → Produk → Industri → Lapangan Kerja → Kemaslahatan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa arah baru riset PTKIN ini diharapkan dapat menghasilkan solusi nyata, teknologi, industri, lapangan kerja, dan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar publikasi ilmiah.

















