Headline.co.id, Jakarta ~ Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (Balintan) mengambil langkah strategis untuk mengatasi ancaman kekeringan yang dapat menyebabkan gagal panen di wilayahnya. Dengan menerapkan sistem pompanisasi, UPTD Balintan berupaya memastikan pasokan air tetap tersedia bagi lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kondisi cuaca ekstrem yang melanda beberapa daerah di Indonesia.
Pompanisasi merupakan metode penyedotan air dari sumber terdekat, seperti sungai atau waduk, untuk dialirkan ke lahan pertanian. Kepala UPTD Balintan, Budi Santoso, menyatakan bahwa metode ini dipilih karena efektif dalam menjamin ketersediaan air selama musim kering. “Kami berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir risiko gagal panen akibat kekurangan air,” ujar Budi.
Selain itu, UPTD Balintan juga berencana untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi lahan dan kebutuhan air di wilayah tersebut. Dengan demikian, mereka dapat segera mengambil tindakan jika ditemukan indikasi kekurangan air. “Pemantauan ini penting agar kami bisa bertindak cepat dan tepat sasaran,” tambah Budi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ke depan, UPTD Balintan berencana untuk mengembangkan sistem pompanisasi ini agar lebih efisien dan dapat menjangkau lebih banyak lahan pertanian. Mereka juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan program ini berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi para petani. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan risiko gagal panen akibat kekeringan dapat diminimalisir, sehingga ketahanan pangan di wilayah tersebut tetap terjaga.



















