Headline.co.id, Jakarta ~ Utang pemerintah Amerika Serikat yang telah melampaui US$40 triliun menjadi perhatian investor ketika Departemen Keuangan Amerika Serikat memperbesar pembelian kembali atau buyback obligasi Treasury berjangka panjang. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meredam tekanan imbal hasil, tetapi reaksi pasar pada Jumat (21/8/2026) menunjukkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS belum mereda. Dolar AS tertekan, imbal hasil obligasi tetap tinggi, sementara sebagian investor mulai meningkatkan diversifikasi ke emas dan Bitcoin.
Langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah masih dapat meningkatkan buyback obligasi Treasury. Sehari sebelumnya, pemerintah mengumumkan rencana menggandakan nilai pembelian kembali surat utang jangka panjang pada kuartal berikutnya setelah pasar menghadapi lonjakan imbal hasil.
Namun, kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat belum mampu memberikan ketenangan berkelanjutan kepada pasar. Imbal hasil Treasury sempat turun setelah pengumuman buyback, tetapi kembali meningkat karena investor masih mempertimbangkan besarnya utang pemerintah, defisit fiskal, inflasi yang berada di atas target Federal Reserve, serta ketidakpastian arah kebijakan ekonomi AS.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Utang AS di Atas US$40 Triliun Jadi Sorotan Pasar
Besarnya beban utang pemerintah menjadi salah satu faktor yang membuat investor mempertanyakan efektivitas intervensi Treasury dalam menekan biaya pinjaman.
Kekhawatiran pasar tidak hanya berpusat pada kemampuan pemerintah memengaruhi harga obligasi dalam jangka pendek, tetapi juga pada kondisi fiskal yang mendasari kenaikan imbal hasil tersebut.
Strategist Goldman Sachs Vitali Meschoulam mengatakan persoalan yang dihadapi AS saat ini semakin terlihat sebagai persoalan fiskal, bukan sekadar masalah teknis di pasar obligasi.
“Keraguan kami bukan karena pembuat kebijakan tidak memiliki alat untuk memengaruhi imbal hasil obligasi jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa mereka bisa, setidaknya untuk sementara. Keraguan kami adalah masalah yang dihadapi saat ini semakin terlihat sebagai masalah fiskal, bukan teknis,” kata Meschoulam.
Menurut dia, pemerintah memang memiliki kemampuan untuk menekan premi jangka waktu atau term premium pada obligasi. Namun, efektivitas kebijakan tersebut dapat berkurang ketika perhatian pasar mulai beralih kepada dinamika pembiayaan utang pemerintah.
Efek Buyback Treasury Mulai Memudar
Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan peningkatan pembelian kembali surat utang pemerintah, terutama obligasi berjangka panjang.
Bessent mengatakan salah satu tujuan kebijakan tersebut adalah memberikan sinyal kepada pasar bahwa tingkat imbal hasil saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi Amerika Serikat.
Respons awal pasar terlihat dari penurunan tajam imbal hasil Treasury pada Rabu. Namun, efek tersebut tidak bertahan lama karena imbal hasil kembali meningkat pada perdagangan berikutnya.
Pada Jumat, imbal hasil Treasury tenor 30 tahun naik sekitar 1,4 basis poin menjadi 5,2508%.
Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun berada di 4,7041% setelah pada perdagangan sebelumnya naik sekitar 4,5 basis poin.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar belum sepenuhnya yakin bahwa peningkatan buyback dapat mengatasi tekanan yang berasal dari kondisi fiskal secara lebih luas.
Investor Pertanyakan Kredibilitas Kebijakan AS
Kebijakan pembelian kembali Treasury juga memunculkan kekhawatiran mengenai semakin besarnya intervensi pemerintah dalam mengelola biaya pinjaman.
Currency strategist Commonwealth Bank of Australia Carol Kong menilai langkah tersebut menjadi contoh lain penggunaan instrumen tidak konvensional oleh pemerintah AS.
“Pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan pada dasarnya merupakan contoh lain bagaimana pemerintah AS menggunakan instrumen yang tidak konvensional untuk mengelola biaya pinjaman. Ini terjadi di tengah tingginya utang pemerintah, defisit fiskal yang terus membesar dan ketidakpastian kebijakan,” kata Kong.
Menurut Kong, kondisi tersebut dapat menjadi hambatan tambahan bagi sentimen investor terhadap aset dolar AS.
Investor juga berpotensi meningkatkan aktivitas lindung nilai terhadap dolar dan mengalihkan sebagian dana ke aset lain apabila ketidakpastian fiskal terus meningkat.
Dolar AS Tertekan
Tekanan terhadap kepercayaan pasar turut tercermin pada pergerakan dolar Amerika Serikat.
Indeks dolar berada di jalur penurunan lebih dari 0,8% sepanjang pekan dan terakhir berada di level 98,82, mendekati posisi terendah dalam tiga bulan terhadap sekeranjang enam mata uang utama.
Pada saat bersamaan, sejumlah mata uang utama menguat.
Euro diperdagangkan di sekitar US$1,1685 dan mencatat kenaikan sekitar 1% sepanjang pekan.
Poundsterling naik 0,08% menjadi US$1,3643 dan telah menguat sekitar 0,8% dalam sepekan.
Dolar Australia juga naik 0,13% menjadi US$0,7123, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,23% menjadi US$0,5957.
Pergerakan tersebut memperlihatkan meningkatnya tekanan terhadap dolar ketika investor kembali menilai risiko fiskal Amerika Serikat.
The Fed Hadapi Kondisi Keuangan yang Kompleks
Strategi Treasury juga mendapat perhatian dari pejabat Federal Reserve karena penurunan imbal hasil obligasi secara berkelanjutan dapat membuat kondisi keuangan menjadi lebih longgar.
Presiden Federal Reserve St. Louis Alberto Musalem menegaskan The Fed akan tetap menentukan kebijakan berdasarkan perkembangan pasar tenaga kerja dan inflasi.
The Fed tidak akan menjadikan kebijakan pengelolaan utang pemerintah sebagai faktor utama dalam menentukan arah suku bunga.
Namun, apabila buyback Treasury berhasil menurunkan imbal hasil dan memberikan dorongan terhadap kegiatan ekonomi, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan apabila inflasi masih membutuhkan kebijakan moneter ketat.
Musalem sebelumnya menilai The Fed seharusnya menaikkan suku bunga pada pertemuan 28–29 Juli, bukan mempertahankannya di kisaran 3,50%–3,75%.
Ia juga memberikan sinyal cenderung mendukung kenaikan suku bunga dalam rapat 15–16 September karena menilai kondisi keuangan masih cukup longgar untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Bessent Bantah Ada Konflik dengan The Fed
Scott Bessent membantah adanya potensi konflik antara kebijakan Departemen Keuangan dan Federal Reserve.
Menurut dia, keputusan suku bunga sepenuhnya berada di bawah kewenangan The Fed dan terpisah dari strategi pengelolaan utang yang dilakukan Treasury.
Bessent juga menyatakan kedua lembaga dapat bekerja sama apabila diperlukan dalam menyesuaikan perubahan neraca dan pengurangan kepemilikan obligasi yang dilakukan Federal Reserve.
Pemerintah juga menyiapkan langkah konsolidasi fiskal baru. Bessent mengatakan dirinya bersama Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought akan menjalankan upaya tersebut atas arahan Presiden AS Donald Trump.
Meski demikian, pasar masih menunggu apakah langkah fiskal tersebut mampu meredakan kekhawatiran yang telah mendorong aksi jual Treasury.
Investor Mulai Beralih ke Emas dan Bitcoin
Besarnya utang pemerintah AS dan tekanan terhadap dolar turut membuat sebagian investor mencari alternatif di luar aset tradisional Amerika Serikat.
Emas dan Bitcoin menjadi dua aset yang kembali mendapat perhatian ketika investor meningkatkan diversifikasi.
Bitcoin pada Jumat diperdagangkan naik sekitar 1,6% menjadi US$73.823,43 setelah mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan.
Aset kripto tersebut berada di jalur kenaikan sekitar 17% sepanjang pekan. Jika bertahan, penguatan itu akan menjadi kenaikan mingguan terbesar Bitcoin dalam sekitar dua setengah tahun.
Sementara itu, harga emas spot berada di jalur kenaikan lebih dari 3% sepanjang pekan.
Pergerakan emas dan Bitcoin terjadi ketika kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal AS dan prospek dolar semakin meningkat.
Efektivitas Kebijakan Treasury Jadi Ujian Berikutnya
Perkembangan pasar menunjukkan tantangan utama Departemen Keuangan AS bukan hanya menurunkan imbal hasil obligasi dalam jangka pendek.
Pasar juga menunggu apakah pemerintah mampu menunjukkan arah pengelolaan fiskal yang dapat mengurangi kekhawatiran terhadap besarnya utang dan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Program buyback dapat memberikan dukungan terhadap pasar obligasi, tetapi dampaknya sejauh ini belum bertahan lama.
Di sisi lain, penurunan imbal hasil yang terlalu besar juga dapat menimbulkan persoalan berbeda apabila membuat kondisi keuangan semakin longgar ketika The Fed masih berupaya membawa inflasi menuju target 2%.
Dengan utang pemerintah telah melampaui US$40 triliun, pergerakan Treasury, dolar AS, kebijakan fiskal pemerintah, serta arah suku bunga Federal Reserve menjadi rangkaian faktor yang terus diperhatikan investor dalam menilai prospek aset Amerika Serikat.


















