Headline.co.id, Jakarta ~ Departemen Keuangan Amerika Serikat memperbesar pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah berjangka panjang di tengah kenaikan imbal hasil Treasury dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS. Kebijakan yang diumumkan pada Rabu (19/8/2026) itu mendapat perhatian Federal Reserve (The Fed) karena berpotensi memengaruhi kondisi keuangan yang menjadi salah satu pertimbangan kebijakan moneter. Pada saat bersamaan, dolar AS tertekan dan berada di jalur penurunan mingguan pada perdagangan Jumat (21/8/2026).
Langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat tersebut dilakukan dengan rencana menggandakan nilai pembelian kembali surat utang jangka panjang pada kuartal berikutnya. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan itu antara lain ditujukan untuk memberikan sinyal bahwa tingkat imbal hasil Treasury saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perekonomian AS.
Namun, intervensi Departemen Keuangan Amerika Serikat belum mampu menekan imbal hasil obligasi secara berkelanjutan. Imbal hasil Treasury sempat turun tajam setelah pengumuman buyback pada Rabu, tetapi kembali meningkat pada perdagangan berikutnya, sementara investor masih mencermati utang pemerintah AS, defisit fiskal, inflasi, dan arah kebijakan pemerintah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
The Fed Tetap Fokus pada Inflasi dan Pasar Tenaga Kerja
Presiden Federal Reserve St. Louis Alberto Musalem menegaskan The Fed tidak akan menjadikan strategi pengelolaan utang pemerintah sebagai dasar utama dalam menentukan kebijakan moneternya.
Musalem mengatakan kepada CNBC bahwa bank sentral akan tetap berfokus pada dua mandat utama, yakni stabilitas harga dan kondisi pasar tenaga kerja.
Sikap tersebut muncul setelah kebijakan Treasury berpotensi memengaruhi kondisi keuangan melalui pergerakan imbal hasil obligasi.
Apabila program buyback berhasil menurunkan imbal hasil Treasury dalam jangka panjang, kondisi keuangan dapat menjadi lebih longgar. Situasi tersebut dapat mendorong aktivitas perekonomian.
Namun, kondisi itu berpotensi menjadi tantangan apabila The Fed masih membutuhkan kebijakan suku bunga yang ketat untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Jika penurunan imbal hasil mendorong kegiatan ekonomi ketika tekanan harga masih tinggi, kondisi keuangan justru dapat bergerak menjauh dari arah yang diinginkan The Fed.
Dalam skenario tersebut, tekanan untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan tingkat suku bunga dapat semakin besar.
Musalem Beri Sinyal Cenderung Dukung Kenaikan Suku Bunga
Musalem sebelumnya berpendapat The Fed seharusnya menaikkan suku bunga dalam pertemuan 28–29 Juli 2026, bukan mempertahankannya pada kisaran 3,50%–3,75%.
Ia kembali memberikan sinyal bahwa dirinya cenderung mendukung kenaikan suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee pada 15–16 September.
Menurut Musalem, kondisi keuangan saat ini relatif longgar sehingga masih memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi.
Pandangan tersebut membuat pergerakan imbal hasil Treasury menjadi semakin penting untuk diperhatikan. Penurunan biaya pinjaman akibat intervensi pemerintah dapat memperlonggar kondisi keuangan bahkan ketika The Fed sedang berupaya mengendalikan inflasi.
Mary Daly Nilai Terlalu Dini Tarik Kesimpulan
Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly mengambil posisi lebih hati-hati dalam menanggapi perubahan strategi Treasury.
Dalam wawancara dengan Bloomberg Television, Daly mengatakan tingkat imbal hasil obligasi jangka panjang saat ini belum memberikan banyak petunjuk mengenai langkah yang perlu diambil The Fed.
Ia menilai kebijakan moneter saat ini masih berada pada posisi yang tepat.
Daly juga menyatakan sangat mendukung keputusan The Fed mempertahankan suku bunga dalam rapat Juli.
Meski demikian, ia tetap mengamati pergerakan obligasi jangka panjang untuk melihat informasi yang diberikan pasar mengenai prospek perekonomian AS.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan dampak peningkatan penerbitan surat utang jangka pendek terhadap pelaksanaan kebijakan moneter, Daly mengatakan masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan.
Penerbitan utang jangka pendek dalam jumlah lebih besar dapat memberikan tekanan pada suku bunga pasar uang dan menciptakan tantangan teknis bagi The Fed dalam mengendalikan tingkat suku bunga.
Namun, menurut Daly, persoalan yang lebih mendasar adalah kemampuan dan komitmen The Fed dalam mencapai mandat inflasi serta ketenagakerjaan.
Bessent Bantah Ada Konflik Treasury dan The Fed
Menteri Keuangan AS Scott Bessent membantah anggapan bahwa langkah Treasury dapat menimbulkan konflik dengan kebijakan Federal Reserve.
Menurut dia, keputusan mengenai tingkat suku bunga sepenuhnya menjadi ranah The Fed dan terpisah dari strategi yang dijalankan Departemen Keuangan.
Terkait kemungkinan perubahan neraca The Fed, Bessent mengatakan kedua lembaga dapat bekerja sama apabila diperlukan, termasuk menyesuaikan kebijakan dengan pengurangan kepemilikan obligasi yang sedang dilakukan bank sentral.
Bessent juga membuka kemungkinan pemerintah meningkatkan kembali pembelian obligasi Treasury apabila dibutuhkan.
Pemerintah AS pada Rabu sebelumnya mengumumkan akan menggandakan nilai pembelian kembali surat utang berjangka panjang pada kuartal berikutnya sebagai respons terhadap tingginya imbal hasil.
Namun, dampak awal kebijakan itu terhadap pasar obligasi tidak berlangsung lama.
Dolar AS Tertekan, Investor Pertanyakan Kondisi Fiskal
Kebijakan Treasury berlangsung ketika dolar AS berada di bawah tekanan.
Pada Jumat (21/8/2026), indeks dolar berada di jalur penurunan lebih dari 0,8% sepanjang pekan. Indeks tersebut terakhir berada di posisi 98,82, mendekati level terendah dalam tiga bulan terhadap enam mata uang utama.
Euro diperdagangkan di sekitar US$1,1685 dan membukukan kenaikan sekitar 1% sepanjang pekan. Poundsterling naik 0,08% menjadi US$1,3643 dan menguat sekitar 0,8% secara mingguan.
Dolar Australia naik 0,13% menjadi US$0,7123, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,23% menjadi US$0,5957.
Currency strategist Commonwealth Bank of Australia Carol Kong menilai strategi pembelian kembali Treasury mencerminkan penggunaan instrumen yang tidak konvensional untuk mengelola biaya pinjaman pemerintah.
“Pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan pada dasarnya merupakan contoh lain bagaimana pemerintah AS menggunakan instrumen yang tidak konvensional untuk mengelola biaya pinjaman. Ini terjadi di tengah tingginya utang pemerintah, defisit fiskal yang terus membesar dan ketidakpastian kebijakan,” kata Kong.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap sentimen investor terhadap aset berdenominasi dolar AS.
Investor juga dapat meningkatkan lindung nilai terhadap dolar sekaligus melakukan diversifikasi menuju aset lainnya.
Imbal Hasil Treasury Kembali Naik
Tekanan terhadap pasar obligasi masih terlihat pada perdagangan Jumat.
Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun naik sekitar 1,4 basis poin menjadi 5,2508%. Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun berada pada 4,7041% setelah meningkat 4,5 basis poin pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan tersebut menunjukkan kelegaan awal pasar setelah pengumuman program buyback mulai memudar.
Strategist Goldman Sachs Vitali Meschoulam mengatakan persoalan yang dihadapi AS saat ini semakin terlihat sebagai masalah fiskal dibandingkan sekadar persoalan teknis di pasar obligasi.
“Keraguan kami bukan karena pembuat kebijakan tidak memiliki alat untuk memengaruhi imbal hasil obligasi jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa mereka bisa, setidaknya untuk sementara. Keraguan kami adalah masalah yang dihadapi saat ini semakin terlihat sebagai masalah fiskal, bukan teknis,” kata Meschoulam.
Menurut dia, pengalaman sejumlah negara menunjukkan premi jangka waktu obligasi memang dapat ditekan. Namun, ketika perhatian pasar beralih pada kemampuan pemerintah membiayai utangnya, upaya menekan imbal hasil dapat menjadi semakin tidak efektif.
Utang AS Dorong Investor Melirik Emas dan Bitcoin
Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal semakin besar seiring utang pemerintah AS yang telah melampaui US$40 triliun.
Situasi tersebut ikut mendorong sebagian investor beralih ke alternatif seperti emas dan Bitcoin, dua aset yang sebelumnya mendapatkan keuntungan ketika investor melakukan diversifikasi dari aset AS.
Bitcoin pada Jumat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Aset kripto tersebut diperdagangkan naik sekitar 1,6% menjadi US$73.823,43 dan berada di jalur penguatan sekitar 17% sepanjang pekan.
Jika kenaikan tersebut bertahan, Bitcoin berpotensi mencatat penguatan mingguan terbesar dalam sekitar dua setengah tahun.
Harga emas spot juga berada di jalur kenaikan lebih dari 3% sepanjang pekan seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap prospek fiskal AS dan pelemahan dolar.
Departemen Keuangan AS Juga Siapkan Tekanan Ekonomi terhadap Iran
Di tengah sorotan terhadap pengelolaan utang, Departemen Keuangan AS juga menjadi salah satu instrumen utama pemerintah Presiden Donald Trump dalam meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Bessent mengatakan pemerintahan AS berencana memperkuat tekanan melalui sanksi dan berbagai langkah ekonomi lainnya.
“Jika kita memberikan tekanan ekonomi maksimal, maka kemungkinan besar tidak akan ada pemulihan aktivitas ekonomi skala besar,” kata Bessent dalam wawancara televisi yang dikutip Jumat (21/8/2026).
Washington juga berencana meminta negara-negara sekutunya ikut menjalankan kebijakan tersebut.
“Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia,” ujar Bessent.
Ia mengatakan negara yang tetap melakukan bisnis dengan Iran, termasuk melalui transfer uang, pembelian minyak atau membantu pengiriman lewat jalur laut, berpotensi menghadapi tindakan pemerintah AS.
“Jika Anda bersikeras melakukan bisnis dengan [Iran] … Departemen Keuangan AS dan pemerintah AS akan mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaganya untuk menindak Anda,” katanya.
Menurut Bessent, pemerintah akan memberikan penjelasan lebih rinci mengenai langkah tersebut melalui konferensi pers pada Senin.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak ancaman terbaru tersebut. Ia menilai penguatan kembali kebijakan yang sebelumnya tidak berhasil justru berpotensi meningkatkan permusuhan masyarakat Iran.
Perkembangan di pasar obligasi, pelemahan dolar, serta meningkatnya perhatian terhadap kondisi fiskal membuat kebijakan Departemen Keuangan AS kini menjadi salah satu faktor yang dicermati investor. Di sisi lain, pejabat The Fed menegaskan kebijakan moneter tetap akan ditentukan berdasarkan perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja, meskipun perubahan strategi pengelolaan utang Treasury dapat memengaruhi kondisi keuangan yang lebih luas.


















