Headline.co.id, Jakarta ~ Polri menyiapkan 3.500 paket sembako untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo tersebut dikemas di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, sebelum didistribusikan melalui jalur laut menuju wilayah terdampak. Selain sembako, bantuan mencakup sekitar 17,5 ton beras, ribuan liter minyak goreng, hingga mainan untuk anak-anak.
Distribusi bantuan bagi korban gempa Nusa Tenggara Timur dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing daerah. Polri menyiapkan dua kapal Polairud untuk membawa logistik dari Dermaga Pelni Marina Labuan Bajo menuju Dermaga Reo, Kabupaten Manggarai, yang dinilai relatif aman sebagai akses menuju wilayah terdampak pascagempa.
Bantuan untuk masyarakat terdampak gempa Nusa Tenggara Timur tersebut selanjutnya akan diarahkan ke sejumlah wilayah di daratan Flores, mulai dari Kabupaten Manggarai hingga Kabupaten Sikka. Jumlah bantuan yang diterima setiap daerah akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Polri Siapkan 3.500 Paket Sembako
Proses pengemasan bantuan berlangsung di Gudang Bulog Labuan Bajo, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, pada Senin (17/8/2026) sejak pukul 14.00 Wita.
Pengemasan dikoordinasikan Pengelola PB/J Polri Madya TK III sekaligus Ketua LO Polda NTT Kombes Pol. Edwar Jacky Tofani Umbu Kaledi bersama Kasubaghapus Baginvent Ropal Kompol Yogi Maulana.
Personel Polwan Polres Manggarai Barat juga dilibatkan dalam proses tersebut di bawah pimpinan Kabag Ren Polres Manggarai Barat AKP Ratna Yuda Topang.
Selain 3.500 paket sembako, Polri menyiapkan 3.500 kantong beras Bulog dengan kapasitas masing-masing sekitar lima liter atau total kurang lebih 17.500 kilogram.
Bantuan lainnya berupa sekitar 3.500 liter minyak goreng dan 500 mainan anak.
Setiap paket sembako berisi lima bungkus mi instan, satu botol kecap, satu kotak teh, satu kilogram gula pasir, serta satu kotak biskuit.
Dua Kapal Polairud Dikerahkan Angkut Bantuan
Setelah proses pengemasan selesai, seluruh logistik dipindahkan dari Gudang Bulog menuju Dermaga Pelni Marina Labuan Bajo.
Pengangkutan dilakukan menggunakan dua unit dump truck dan satu kendaraan Dalmas roda enam.
Bantuan kemudian dimuat ke KM BIMA-7014 milik Polairud Mabes Polri dan KP Pulau Padar XXII-3018 milik Polairud Polda NTT.
Pendistribusian bantuan direncanakan diberangkatkan pada Selasa (18/8/2026) dari Labuan Bajo menuju Dermaga Reo, Kabupaten Manggarai.
Dermaga Reo dipilih karena dinilai menjadi salah satu akses yang relatif aman untuk memasuki wilayah terdampak gempa di daratan Flores.
Kepala Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Kakorpolairud) Irjen Pol. Raden Firdaus Kurniawan Ferry turut memonitor proses pemuatan logistik ke kedua kapal pada Senin (17/8/2026) sekitar pukul 17.10 Wita.
“Polri memastikan bantuan logistik untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores dapat segera didistribusikan. Kami terus melakukan monitoring dan memastikan seluruh bantuan yang telah dikumpulkan dan dimuat ke kapal dalam kondisi siap untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Raden Firdaus.
Bantuan Disalurkan dari Manggarai hingga Sikka
Polri merencanakan penyaluran bantuan secara bertahap kepada masyarakat terdampak di sejumlah kabupaten di Pulau Flores.
Wilayah distribusi mencakup kawasan mulai Kabupaten Manggarai hingga Kabupaten Sikka. Volume bantuan untuk setiap daerah akan disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan kondisi masyarakat terdampak.
Menurut Raden Firdaus, mekanisme tersebut dilakukan agar bantuan dapat diterima masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Pendistribusian ini merupakan bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat. Bantuan akan disalurkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing wilayah terdampak, sehingga dapat diterima oleh masyarakat secara tepat sasaran,” ujarnya.
Selain logistik dari Kapolri, Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang turut mengirimkan perlengkapan dapur.
Bantuan tersebut terdiri atas 10 lusin sendok makan, 10 panci, 10 wajan atau kuali, serta 10 centong sayur atau ikan.
Polri Koordinasi dengan Jajaran di Wilayah Terdampak
Polri juga melakukan koordinasi dengan jajaran kewilayahan dan pihak terkait selama proses pengiriman bantuan.
Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan perjalanan logistik dari Labuan Bajo hingga lokasi penerima berlangsung aman dan tidak mengalami hambatan.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan jajaran kewilayahan dan seluruh pihak terkait untuk memastikan proses distribusi berjalan aman, lancar, dan efektif. Apabila masih terdapat tambahan bantuan, tentunya akan kami data dan distribusikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan,” kata Raden Firdaus.
Polri memastikan bantuan yang telah dimuat ke KM BIMA-7014 dan KP Pulau Padar XXII-3018 akan disalurkan secara bertahap kepada masyarakat terdampak gempa di daratan Flores.
Distribusi juga terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi serta kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
BNPB Masih Temukan Warga Mengungsi Mandiri
Di tengah proses distribusi logistik tersebut, BNPB juga terus melakukan penyisiran daerah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari melakukan asesmen di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, pada Rabu (19/8/2026).
Asesmen dilakukan di Dusun Coal, Desa Coal, dan Dusun Dahang, Desa Pangga.
Di dua wilayah tersebut, BNPB menemukan warga yang mengungsi secara terpusat maupun mandiri.
Berdasarkan hasil asesmen, sebanyak 148 rumah mengalami kerusakan. Rinciannya terdiri atas 101 rumah rusak berat, 12 rusak sedang, dan 35 rusak ringan. Satu warga dilaporkan meninggal dunia.
Jumlah pengungsi di Desa Coal mencapai 1.108 orang, sedangkan di Desa Pangga lebih dari 20 keluarga melakukan pengungsian mandiri.
“Kami saat ini langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi masyarakat dari laporan camat tadi sudah ada bantuan pangan dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti,” ujar Abdul Muhari.
Akses Sulit Jadi Tantangan Penyaluran Logistik
BNPB mencatat akses menuju beberapa daerah terdampak masih menjadi tantangan dalam penyaluran bantuan.
Perjalanan dari Labuan Bajo menuju lokasi asesmen di Kecamatan Kuwus membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam dan harus melewati akses jalan yang cukup sulit.
Kondisi tersebut membuat penyaluran bantuan perlu dilakukan dengan memperhitungkan akses dan keberadaan titik-titik pengungsian mandiri.
“Ini akan jadi atensi kita tentu saja karena jarak dari Labuan Bajo ke sini ditempuh sekitar 3,5 jam dan akses jalan cukup sulit sehingga tentu saja kita akan pastikan masyarakat terdampak di sini menerima bantuan pangan dan kebutuhan sandang, kebutuhan dasar permakanan dan non-permakanan kita pastikan terpenuhi di sini,” kata Abdul Muhari.
BNPB bersama BPBD di kabupaten terdampak masih melanjutkan distribusi logistik kepada masyarakat.
Pos pendukung logistik untuk wilayah NTT dipusatkan di Labuan Bajo dan Maumere.
Pengiriman 3.500 paket sembako oleh Polri menjadi bagian dari dukungan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, sementara pemerintah terus melakukan pendataan dan penyisiran untuk memastikan warga yang berada di pengungsian terpusat maupun mandiri dapat menerima bantuan sesuai kebutuhan.


















