Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i secara resmi meluncurkan Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam dengan konsentrasi Manajemen Pesantren di Universitas Darunnajah, Jakarta. Acara peresmian ini berlangsung pada Selasa (18/8/2026) di GOR Universitas Darunnajah. Dalam kesempatan tersebut, Wamenag berharap program ini dapat melahirkan lulusan yang mampu memperkuat tata kelola dan kemandirian pesantren di Indonesia.
Peresmian ini ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) izin penyelenggaraan program studi dari Wamenag kepada Presiden Universitas Darunnajah, Hadiyanto Arief. SK tersebut adalah Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 996 Tahun 2026. Sebagai simbol pembukaan resmi program ini, Wamenag memukul gong di hadapan para hadirin.
Dalam sambutannya, Wamenag menekankan pentingnya program doktoral ini untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang profesional dalam mengelola pesantren. Saat ini, terdapat sekitar 42 ribu pesantren di bawah pembinaan Kementerian Agama dengan lebih dari 12,3 juta santri. Menurutnya, ekosistem pesantren yang besar ini memerlukan penguatan kapasitas pengelola agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Wamenag juga menyoroti bahwa pesantren tidak hanya memerlukan kekuatan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang terampil dalam perencanaan, pengelolaan kelembagaan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi. “Penguatan pesantren yang besar itu harus ditopang oleh orang-orang yang memahami manajemen pesantren,” tegasnya. Ia berharap program ini dapat menjadi bidang keilmuan yang serius untuk menyiapkan SDM pengelola pesantren yang kompeten.
Lebih lanjut, Wamenag berharap lulusan program ini tidak hanya menguasai teori dan tata kelola pendidikan, tetapi juga mampu menjadi penggerak transformasi pesantren. Para lulusan diharapkan dapat mengembangkan lembaga keuangan, unit usaha, serta berbagai platform pemberdayaan yang memperkuat kemandirian pesantren dan ekonomi umat. Ia juga menekankan pentingnya penyesuaian kurikulum Manajemen Pesantren dengan tantangan yang dihadapi agar pesantren dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Acara peresmian ini turut dihadiri oleh Presiden Perhimpunan Pengasuh Pesantren se-Indonesia Muhammad Tata Taufik, Staf Khusus Menteri Agama Nona Gayatri Nasution, Tenaga Ahli Menteri Agama Junisab Akbar, serta Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama Asro’i. Kehadiran mereka menandakan dukungan penuh terhadap inisiatif ini, yang diharapkan dapat membawa perspektif baru dalam pengelolaan pesantren di Indonesia.













