Headline.co.id, Jakarta ~ Pesan Pramono Anung mengenai loyalitas kader menjadi salah satu bagian penting dalam pelantikan 19.675 pengurus Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa se-Indonesia di Taman Fatahillah, Jakarta Barat, Rabu malam, 22 Juli 2026. Gubernur Jakarta itu mengaitkan loyalitas dengan kemampuan partai bertahan melewati perubahan kepemimpinan, naik-turun perolehan kursi, dan pergantian generasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum konsolidasi organisasi menjelang Hari Lahir ke-28 PKB.
Pramono Anung tidak hanya hadir sebagai kepala daerah tempat acara berlangsung, tetapi juga berbicara sebagai tokoh politik yang mengaku mengikuti perjalanan PKB sejak awal. Ia menempatkan pengalaman Cak Imin memimpin partai sejak 2005 sebagai contoh bahwa ketekunan membangun organisasi berpengaruh terhadap kemampuan partai memulihkan kekuatan.
Dalam konteks acara, pesan Pramono Anung diarahkan kepada ribuan pengurus cabang yang baru dilantik. Karena itu, pernyataannya lebih tepat dibaca sebagai penegasan tentang disiplin organisasi dan regenerasi kader, bukan sebagai pengumuman koalisi baru atau keputusan politik elektoral tertentu.
Loyalitas Ditempatkan sebagai Fondasi Konsolidasi
Pramono mengatakan dirinya sempat berbincang dengan Cak Imin mengenai orang-orang yang meninggalkan partai. Ia lalu menyampaikan pandangan bahwa tokoh yang keluar dari partainya tidak pernah tumbuh menjadi besar, baik dalam pengalaman PDI Perjuangan maupun PKB.
“Semua orang yang meninggalkan partainya, nggak pernah ada yang menjadi besar,” ujar Pramono. Ia menambahkan bahwa pengalaman semacam itu terdapat di PDI Perjuangan maupun PKB.
Pernyataan itu muncul setelah Pramono menegaskan, “Prestasi PKB dan juga kepemimpinan Bapak Muhaimin Iskandar sudah sangat teruji.” Susunan sambutan tersebut menunjukkan bahwa loyalitas diposisikan sebagai salah satu unsur yang membuat struktur partai tetap kokoh ketika menghadapi konflik, penurunan dukungan, atau pergantian kader.
Pramono juga menyebut konsolidasi dan regenerasi PKB sebagai proses yang luar biasa. Ia berharap pelantikan pengurus DPC membawa berkah serta kemajuan bagi partai. Pesan itu relevan dengan fungsi DPC sebagai struktur yang menjalankan organisasi di tingkat kabupaten dan kota.
Perjalanan Cak Imin Menjadi Contoh Ketahanan Organisasi
Dalam sambutannya, Pramono menggambarkan perjalanan Cak Imin memimpin PKB seperti roller coaster. Ia menyebut partai tersebut pernah berada pada angka 28 kursi di DPR, sebelum kemudian mencapai 68 kursi.
Pramono mengatakan ia mengikuti perjalanan Cak Imin sejak 2005 dan melihat kepemimpinan PKB mengalami fase naik-turun, termasuk ketika jumlah kursinya pernah berada di angka 28.
Ia kemudian memuji kegigihan Cak Imin membangun kembali kekuatan partai. Menurut Pramono, capaian 68 kursi menjadi titik tertinggi yang memperlihatkan kemampuan PKB memperluas representasi setelah melewati fase penurunan.
Ia menilai kegigihan Cak Imin membangun partai berkontribusi terhadap pemulihan kekuatan PKB hingga mencapai 68 kursi.
Dalam sambutan itu, angka kursi tidak digunakan untuk membandingkan PKB dengan partai lain. Angka tersebut menjadi bagian dari narasi Pramono mengenai ketahanan kepemimpinan, kontinuitas organisasi, dan kemampuan memulihkan dukungan melalui kerja politik jangka panjang.
Regenerasi DPC Melalui Seleksi dan Musyawarah
Pesan mengenai loyalitas disampaikan dalam acara yang memiliki agenda organisasi konkret. PKB melantik 19.675 pengurus dari 514 DPC. Sebanyak 2.570 kader hadir di Jakarta sebagai perwakilan, dengan lima orang dari setiap DPC mengikuti pelantikan simbolis.
Ketua DPP PKB Abdul Halim Iskandar menjelaskan DPP telah menerbitkan surat keputusan bagi para pengurus yang dilantik. Sebelum menetapkan ketua DPC, partai menyeleksi 1.816 kandidat melalui musyawarah cabang, uji kelayakan, dan uji kompetensi hingga terpilih 514 ketua.
Cak Imin mengatakan mekanisme penentuan pengurus tidak lagi memakai voting. PKB memilih musyawarah mufakat karena kompetisi internal dinilai dapat meninggalkan luka bagi pihak yang kalah. Menurutnya, cara tersebut memungkinkan semua unsur terlibat dan mengambil keputusan bersama.
“Ini cara baru pengelolaan organisasi yang lebih partisipatif,” kata Cak Imin. Ia menjelaskan mekanisme tersebut terus disempurnakan melalui psikotes serta uji kelayakan dan kepatuhan.
Rangkaian seleksi itu memberi konteks terhadap pesan Pramono. Loyalitas yang dibicarakan tidak berdiri sendiri, tetapi berada dalam proses pembentukan kepengurusan yang diklaim melewati musyawarah serta pengujian calon pemimpin cabang.
Batas Makna Politik dari Sambutan Pramono Anung
Pramono juga mengingatkan kedekatan personalnya dengan Cak Imin sejak forum diskusi pada masa gerakan mahasiswa 1998. Ia menghubungkan hubungan tersebut dengan sejarah interaksi PKB dan PDI Perjuangan pada awal Reformasi, termasuk ketika PKB mengajukan Megawati Soekarnoputri sebagai calon wakil presiden.
Konteks sejarah itu memperkuat posisi Pramono sebagai tokoh yang berbicara berdasarkan pengalaman politik lintas periode. Namun, sambutannya tidak memuat keterangan mengenai pembentukan kerja sama elektoral baru, pembagian posisi, atau dukungan pada calon tertentu.
Karena itu, implikasi paling langsung dari pidato tersebut berada pada ranah konsolidasi internal PKB. Para pengurus baru menerima pesan agar menjaga kesetiaan, menghindari perpecahan, dan menjalankan struktur organisasi yang telah dibentuk melalui proses seleksi.
Acara pelantikan berakhir dengan sumpah dan janji para pengurus untuk memperjuangkan cita-cita PKB serta menjalankan tugas organisasi. Tahap berikutnya berada pada pelaksanaan kerja partai oleh 514 DPC di daerah masing-masing setelah kepengurusan mereka ditetapkan.

















