Headline.co.id, Kepulauan Selayar ~ KM Nurul Salsa tenggelam setelah mengalami gangguan mesin dalam pelayaran dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, pada Rabu, 15 Juli 2026. Kapal berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi ketika kondisi mesin dan cuaca membuat perjalanan tidak dapat dilanjutkan dengan aman. Operasi pencarian kemudian berkembang hingga Laut Flores dan Kepulauan Sabalana setelah korban selamat serta barang dari kapal ditemukan jauh dari titik awal. Hingga pembaruan sebelum identifikasi jenazah terbaru, 59 orang selamat, satu orang meninggal, dan 18 orang masih dicari dari total 78 orang.
Rangkaian peristiwa KM Nurul Salsa memperlihatkan bagaimana data kecelakaan laut dapat berubah selama operasi penyelamatan. Jumlah korban diperbarui setelah keluarga melapor ke posko, sementara wilayah pencarian terus disesuaikan dengan arus, angin, dan lokasi penemuan korban.
Pada 21 Juli 2026, tim kembali menemukan satu jenazah yang masih diduga sebagai korban serta barang-barang yang diperkirakan terkait penumpang. Karena identitasnya belum dipastikan, temuan itu masih harus melalui pemeriksaan sebelum mengubah data resmi.
Berangkat dari Pulau Jampea pada Pagi Hari
KM Nurul Salsa bertolak dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu sekitar pukul 05.00 WITA. Pelayaran tersebut merupakan perjalanan antarpulau di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar.
Kapal membawa penumpang dan muatan menuju pusat kabupaten. Berdasarkan pembaruan hasil verifikasi di posko, jumlah orang yang dikaitkan dengan perjalanan tersebut kemudian tercatat sebanyak 78 orang.
Perubahan angka dari laporan awal terjadi karena tidak semua data langsung tersedia pada saat kecelakaan. Tim perlu mencocokkan informasi dari manifest, keluarga, penyintas, dan laporan masyarakat untuk memperoleh jumlah yang lebih akurat.
Gangguan Mesin Terjadi di Barat Pulau Polassi
Dalam perjalanan menuju Benteng, kapal mengalami gangguan mesin di perairan barat Pulau Polassi. Posisi tersebut disebut berada sekitar 43 mil laut dari Pelabuhan Benteng.
Keterangan yang tersedia menyebut gangguan mesin terjadi ketika kondisi cuaca dan perairan memburuk. Kapal akhirnya tenggelam, sedangkan penumpang berupaya bertahan menggunakan rompi pelampung, gabus, rompong, atau benda lain yang dapat mengapung.
Tim SAR kemudian bergerak menuju titik kecelakaan dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, syahbandar, nelayan, dan unsur terkait. Cuaca, gelombang, dan luasnya laut menjadi tantangan utama sejak pencarian dimulai.
Data Penumpang Berubah Setelah Verifikasi
Pada tahap awal, jumlah korban yang diumumkan lebih rendah dibandingkan data terbaru. Setelah posko menerima laporan dari keluarga dan melakukan pendataan ulang, jumlah orang yang berada dalam daftar korban menjadi 78.
Pembaruan data penting karena menentukan jumlah orang yang harus ditemukan dan identitas yang perlu dicocokkan. Dalam kecelakaan transportasi laut, perbedaan data awal tidak dapat langsung dianggap sebagai hasil akhir sebelum proses verifikasi selesai.
Hingga hari kelima operasi, data mencatat 59 orang selamat, satu orang meninggal dunia, dan 18 orang masih dicari. Angka itu digunakan sebagai rujukan sebelum jenazah yang ditemukan pada 21 Juli selesai diidentifikasi.
Tujuh Korban Ditemukan Selamat Setelah Pencarian
Pada hari keempat operasi, tim menemukan lima korban dalam keadaan selamat. Mereka bertahan di laut dan ditemukan setelah pencarian diperluas berdasarkan arah hanyut serta informasi yang dihimpun petugas.
Sehari kemudian, dua korban lain bernama Jasmal dan Nurmiati ditemukan oleh kapal nelayan di sekitar Kepulauan Sabalana, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Keduanya bertahan menggunakan gabus dan mengenakan jaket pelampung.
KRI Marlin-877 mengevakuasi kedua korban menuju Kabupaten Kepulauan Selayar. Mereka tiba di Pelabuhan Rauf Rahman Benteng pada Senin, 20 Juli 2026, sekitar pukul 21.00 WITA, kemudian menjalani pemeriksaan awal dan dibawa untuk memperoleh perawatan medis.
Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo menyampaikan harapan agar korban lain masih dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Ia juga menyatakan tim akan terus memaksimalkan operasi sesuai evaluasi dan perkembangan positif di lapangan.
Temuan Terbaru Membuka Petunjuk Baru
Penyisiran di sekitar Perairan Sabalana menghasilkan temuan barang yang diduga milik korban. KRI Marlin-877 sebelumnya juga mengamankan rompi pelampung bertuliskan KM Nurul Salsa di perairan utara Pulau Sanipadan.
Setiap lokasi temuan dicatat untuk membantu menganalisis kemungkinan jalur hanyut. Posisi benda dapat dibandingkan dengan arah arus dan tempat penyintas ditemukan sehingga tim memiliki dasar untuk menetapkan sektor pencarian berikutnya.
Tim SAR juga menemukan satu jenazah yang diduga korban pada 21 Juli. Identitas serta kaitannya dengan daftar korban KM Nurul Salsa belum boleh dianggap pasti sebelum proses pemeriksaan selesai.
Sikap hati-hati tersebut diperlukan untuk menjaga ketepatan data dan melindungi keluarga dari informasi yang belum terverifikasi. Pembaruan resmi baru dapat diberikan setelah identitas korban dipastikan oleh pihak berwenang.
Operasi Pencarian Menjangkau Perairan yang Lebih Luas
Area pencarian pada hari keenam mencapai sekitar 1.980 mil laut persegi dan dibagi dalam lima sektor. Basarnas mengerahkan KN SAR Kamajaya, KN SAR Pacitan, dan KN SAR Puntadewa, sedangkan TNI Angkatan Laut melibatkan KRI Marlin serta KRI Hiu.
Pesawat patroli maritim Boeing 737-200 turut digunakan untuk menyisir wilayah yang sulit dijangkau secara cepat oleh kapal. Helikopter Caracal disiagakan, sementara Rescue Boat dari Basarnas Mataram bergerak untuk memperkuat operasi dari arah Nusa Tenggara Barat.
Prediksi tim menunjukkan benda dan korban dapat bergerak ke arah barat daya. Karena itu, pencarian tidak lagi terbatas pada perairan Selayar, tetapi berkembang menuju Laut Flores, Kepulauan Sabalana, dan jalur perairan yang berpotensi dilalui arus.
Operasi masih menunggu hasil identifikasi jenazah, analisis barang temuan, serta laporan baru dari nelayan dan masyarakat pesisir. Informasi tersebut akan menjadi dasar pemutakhiran jumlah korban dan penentuan area penyisiran berikutnya.















