Headline.co.id, Pekanbaru ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra dalam sepekan ke depan. Peringatan ini disampaikan oleh Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, yang meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Prediksi ini didasarkan pada indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang menunjukkan peningkatan kekeringan bahan bakar ringan di permukaan tanah.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, menekankan pentingnya perhatian dari seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah pencegahan, terutama di lahan gambut. “Prediksi BMKG menunjukkan dalam satu minggu ke depan tingkat kemungkinan kejadian kebakaran di Sumatra meningkat. Ini menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih waspada dan memperkuat upaya pencegahan sejak dini,” ujar Ferdian di Pekanbaru, Riau, Rabu (8/7/2026).
FFMC adalah indeks yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kekeringan bahan bakar ringan, seperti humus permukaan dan serasah daun kering. Semakin tinggi nilai FFMC, semakin mudah api menyala dan menjalar ketika ada sumber panas. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kebakaran lahan yang lebih luas, terutama di kawasan bergambut.
Kebakaran di Pekanbaru
Peringatan ini diperkuat dengan kejadian kebakaran lahan di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru. Kebakaran terjadi di area penggunaan lain dengan jenis tanah gambut dan vegetasi berupa pakis, semak belukar, dan kelapa sawit. Laporan dari Manggala Agni Daerah Operasi Sumatra IV/Pekanbaru menyebutkan bahwa luas lahan yang terbakar mencapai sekitar satu hektare, dengan 0,3 hektare berhasil dipadamkan pada hari pertama operasi.
Operasi pemadaman melibatkan berbagai pihak, termasuk Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Pemadam Kebakaran, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pemadaman dilakukan menggunakan satu unit pompa Mini Striker dengan pola satu jalur untuk mengejar kepala api, dan sumber air diperoleh dari kanal di sekitar lokasi.
Imbauan untuk Masyarakat
Ferdian mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan menghindari aktivitas yang dapat memicu api. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Jangan melakukan pembakaran lahan, jangan membuang puntung rokok sembarangan, dan segera laporkan apabila melihat adanya titik api,” tegasnya.
Pemadaman di lahan gambut memerlukan waktu lebih lama karena api dapat merambat di bawah tanah. Oleh karena itu, petugas akan terus melakukan pendinginan dan memastikan tidak ada bara yang berpotensi memunculkan api kembali. Pencegahan dianggap lebih efektif daripada melakukan pemadaman setelah kebakaran terjadi.














