Headline.co.id, Yogyakarta ~ Founder Data Sorcerers, Marchel Andrian Shevchenko, membedah teknologi di balik kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam Workshop Pemanfaatan AI untuk Produktivitas Kerja dan Pengembangan Usaha yang diselenggarakan oleh Innovative Academy UGM di Ballroom Teaching Industry Learning Center (TILC), Sekolah Vokasi UGM, Senin (29/6/2026). Melalui sesi bertajuk “Apa itu AI: Teknologi di Balik Kecerdasan Buatan dan Bagaimana Cara Kerja AI”, Marchel mengajak peserta yang mayoritas merupakan pelaku UMKM untuk memahami dasar AI, perkembangan teknologinya, hingga cara kerja berbagai model AI yang saat ini banyak digunakan. Pemahaman tersebut dinilai penting agar pelaku usaha mampu memanfaatkan teknologi AI secara tepat sesuai kebutuhan bisnis.
Dalam pemaparannya, Marchel menjelaskan bahwa pemahaman mengenai dasar AI menjadi langkah awal sebelum seseorang memanfaatkan berbagai platform berbasis kecerdasan buatan. Menurutnya, banyak pengguna saat ini telah menggunakan AI, namun belum memahami teknologi yang bekerja di baliknya.
Mengenal Perkembangan Teknologi AI
Pada sesi tersebut, Marchel memaparkan perkembangan teknologi AI mulai dari Machine Learning (ML), Deep Learning, hingga Large Language Model (LLM). Ia menjelaskan bahwa perkembangan tersebut membuat AI semakin mampu memahami dan menghasilkan informasi layaknya manusia.
Marchel juga memperkenalkan konsep Large Language Model (LLM) untuk membantu peserta memahami bagaimana AI memproses informasi dan menghasilkan respons.
“Basic fundamental AI adalah database. AI bekerja dengan memanfaatkan data untuk menghasilkan respons sesuai instruksi yang diberikan pengguna,” jelas Marchel.
Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan konsep Multimodal Large Language Model (MLLM), yakni teknologi AI yang mampu memproses berbagai jenis masukan, seperti teks, gambar, audio, maupun grafik.
Bedah Teknik Prompting agar Hasil AI Lebih Optimal
Tidak hanya membahas teknologi di balik AI, Marchel turut mengulas pentingnya teknik prompting dalam penggunaan AI. Menurutnya, kualitas respons AI sangat dipengaruhi oleh instruksi yang diberikan pengguna.
Ia mengibaratkan proses prompting seperti memasak yang memerlukan bumbu agar menghasilkan cita rasa yang sesuai.
“Prompting itu ibarat memasak. Harus diberi parameter atau instruksi yang tepat agar model dapat menghasilkan keluaran yang lebih baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Marchel juga membedah teknik prompting dari aspek morfosintaksis. Peserta diajak memahami bagaimana struktur bahasa dan pemilihan kata dapat memengaruhi kualitas jawaban yang dihasilkan AI.
Selain itu, Marchel menjelaskan mekanisme Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF), yaitu proses pembelajaran AI melalui umpan balik pengguna, seperti fitur suka dan tidak suka atau pemilihan respons terbaik. Menurutnya, mekanisme tersebut memungkinkan model AI terus meningkatkan kualitas respons yang dihasilkan.
Pelaku UMKM Diajak Menganalisis Kebutuhan AI untuk Bisnis
Pada bagian akhir sesi, peserta diajak menganalisis kebutuhan teknologi AI yang sesuai dengan karakteristik usaha masing-masing. Marchel membandingkan sejumlah pendekatan teknologi, seperti agentic AI, automation, dan expert system untuk membantu peserta menentukan solusi yang paling relevan bagi bisnis mereka.
Menurutnya, pemilihan teknologi AI tidak dapat disamaratakan karena setiap usaha memiliki kebutuhan yang berbeda.
“Pemilihan AI harus disesuaikan dengan jenis usaha, skala bisnis, jumlah insight yang dihasilkan setiap hari, serta produk atau layanan yang dimiliki,” kata Marchel.
Melalui sesi tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami teknologi di balik AI, tetapi juga mampu memilih dan memanfaatkan solusi AI yang sesuai untuk mendukung produktivitas dan pengembangan usaha.






















