Headline.co.id, Batang ~ Pemerintah Kabupaten Batang kini mengakomodasi siswa penderita talasemia melalui jalur afirmasi disabilitas fisik tak tampak dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Kebijakan ini diapresiasi oleh Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Batang sebagai langkah positif untuk mendukung hak pendidikan anak-anak dengan penyakit kronis. Langkah ini diambil setelah adanya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada tahun 2025.
Ahli Medis POPTI Batang dan dokter anak di RSUD Batang, Tan Evi Susanti, menjelaskan bahwa talasemia merupakan kondisi disabilitas yang memerlukan perhatian khusus meskipun gejalanya tidak tampak secara fisik. “Talasemia itu termasuk penyakit disabilitas karena seorang anak dengan penderita talasemia memang aktivitasnya terbatas dan dia juga membutuhkan waktu setiap dua atau tiga minggu sekali untuk transfusi darah,” ujarnya di RSUD Batang, Selasa (23/6/2026).
Tan Evi mengungkapkan rasa terima kasih kepada Dinas Pendidikan atas kesempatan yang diberikan, yang diharapkan dapat mengurangi stigma dan hambatan bagi anak disabilitas untuk bersekolah. Tahun ini, empat anak mengajukan surat keterangan medis untuk keperluan PPDB, namun baru satu siswa tingkat SMA yang berhasil lolos. Untuk tingkat SMP, sosialisasi kebijakan ini masih perlu ditingkatkan.
Proses Administrasi dan Tantangan
Dian Widiastuti, orang tua dari anak penyandang talasemia di Batang, berbagi pengalamannya dalam mengurus administrasi agar anaknya dapat diterima di SMA negeri. Proses ini melibatkan pemenuhan dokumen medis dan akademis, termasuk surat keterangan dokter dan asesmen inklusi dari Sekolah Luar Biasa (SLB) yang diterbitkan oleh Cabang Dinas Pendidikan Provinsi.
“Untuk kendala teknisnya kemarin alhamdulillah lancar, untuk permintaan surat keterangan sehatnya sangat kooperatif,” kata Dian. Proses asesmen inklusi juga melibatkan tes, dengan hasil yang keluar dalam 3 hingga 5 hari kerja sebelum dikirimkan ke Cabang Dinas Provinsi.
Berkat kelancaran proses tersebut, anak Dian kini berhasil diterima di sekolah tujuan melalui jalur afirmasi disabilitas. Dian berharap kebijakan ini dapat terus disosialisasikan agar lebih banyak sekolah di Kabupaten Batang menerima siswa dengan disabilitas kronis tak tampak seperti talasemia.





















