Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 zona musim (ZOM) atau sekitar 11,83 persen dari wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Di samping itu, BMKG juga memantau perkembangan fenomena El Nino yang diperkirakan berpotensi terjadi pada pertengahan tahun ini.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa informasi mengenai musim kemarau di Indonesia disusun berdasarkan satuan zona musim (ZOM), yaitu wilayah yang memiliki karakteristik pola curah hujan yang relatif homogen. “Penentuan awal musim menggunakan referensi normal curah hujan periode 1991–2020,” ujar Ardhasena dalam pemaparan perkembangan iklim 2026 di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Ia menambahkan bahwa berdasarkan karakteristik curah hujan tersebut, Indonesia dibagi ke dalam tiga pola hujan utama, yakni pola monsunal, ekuatorial, dan lokal atau anti-monsunal. Pola monsunal mendominasi wilayah selatan khatulistiwa dan ditandai dengan satu musim hujan serta satu musim kemarau dalam setahun. Sementara itu, pola ekuatorial yang umumnya berada di sekitar garis khatulistiwa memiliki dua puncak musim hujan dan dua periode relatif kering setiap tahun.
Pola lokal atau anti-monsunal banyak ditemukan di sebagian wilayah timur Indonesia. Pola ini memiliki karakteristik yang berlawanan dengan wilayah Jawa. Ketika Pulau Jawa memasuki musim kemarau, beberapa wilayah dengan pola lokal justru mengalami musim hujan, demikian pula sebaliknya.
Ardhasena menyatakan bahwa Indonesia saat ini memiliki 699 zona musim yang menjadi dasar dalam penyusunan informasi iklim nasional. Dari jumlah tersebut, sebanyak 200 zona musim telah memasuki musim kemarau hingga akhir Mei 2026. Wilayah yang telah mengalami musim kemarau meliputi sebagian kecil Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Banten bagian utara, DKI Jakarta bagian utara, Jawa Barat bagian utara, serta sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Selain itu, musim kemarau juga telah terjadi di sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah bagian timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, hingga Papua Selatan, khususnya wilayah Merauke.
Di sisi lain, BMKG terus memantau perkembangan fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi kondisi musim kemarau tahun ini. Ardhasena mengingatkan bahwa pada Maret 2026, BMKG telah merilis prediksi adanya peluang 50 hingga 60 persen terjadinya El Nino dengan intensitas maksimum pada kategori moderat. “Pemutakhiran informasi iklim tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam menyusun langkah antisipatif dan mitigasi sejak dini,” ungkapnya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat, khususnya di wilayah yang telah memasuki musim kemarau, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang dapat ditimbulkan, seperti kekeringan, gangguan terhadap sektor pertanian, berkurangnya ketersediaan sumber daya air, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.






















