Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kehutanan Republik Indonesia telah meluncurkan aplikasi e-ticketing terpadu bernama “Ayo Ke Taman Nasional” (AKTN). Langkah ini diambil untuk mendigitalisasi layanan publik di sektor konservasi, mengurangi risiko kelebihan kapasitas pengunjung, dan menertibkan tata kelola wisata alam di Indonesia. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan bahwa platform ini dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) untuk menyatukan sistem pemesanan tiket di seluruh Taman Nasional, Taman Wisata Alam, dan Suaka Margasatwa yang sebelumnya masih terpisah atau manual.
Raja Juli Antoni menjelaskan, “Aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat bayar nontunai melalui QRIS dan transfer bank, tetapi juga dilengkapi fitur pemantauan jumlah pengunjung secara real time.” Fitur ini penting bagi pengelola kawasan untuk mengontrol daya dukung dan daya tampung lingkungan, sehingga kenyamanan wisatawan serta kelestarian ekosistem tetap terjaga.
Dari sisi tata kelola keuangan, digitalisasi ini menutup celah kebocoran anggaran di pintu masuk wisata. Setiap transaksi pembelian tiket otomatis tercatat secara transparan dan akuntabel sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang disetorkan langsung ke kas negara.
Masyarakat yang ingin berwisata alam kini dapat mengakses sistem AKTN melalui tiga jalur resmi: pengguna Android dapat mengunduh aplikasi “Ayo ke Taman Nasional” di Google Play Store, pengguna iOS dapat mengakses portal web resmi di [https://ayoketamannasional.kehutanan.go.id/id](https://ayoketamannasional.kehutanan.go.id/id), dan pembelian di tempat dapat dilakukan melalui kios tiket digital (e-kiosk) yang disediakan di pintu masuk unit pelaksana teknis.
Sebelum diluncurkan, sistem ini telah melalui uji coba intensif di berbagai destinasi wisata darat dan situs penyelaman bawah laut, termasuk di Jawa & Bali seperti TN Gunung Merbabu, TN Gunung Merapi, TN Baluran, TN Alas Purwo, TN Gunung Halimun Salak, TWA Kawah Ijen, TWA Telogo Warno, dan TWA Grojogan Sewu. Di Sumatera & Kalimantan, uji coba dilakukan di TN Kerinci Seblat dan TN Betung Kerihun Danau Sentarum. Sementara di Sulawesi & NTT, TN Bunaken, TN Wakatobi, dan TN Kelimutu menjadi lokasi uji coba.
Melihat respons pasar dan akurasi data yang positif selama uji coba, Kemenhut menginstruksikan seluruh Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE untuk mempercepat transisi digital. Pemerintah menargetkan sistem e-ticketing ini dapat diterapkan sepenuhnya di seluruh kawasan konservasi Indonesia pada akhir tahun 2026.
Pada tahap pengembangan berikutnya, Kemenhut berkomitmen memperluas ketersediaan aplikasi ke App Store, memperkuat sistem keamanan siber untuk melindungi data pribadi, serta menambah fitur penunjang seperti pemandu wisata lokal, opsi ubah jadwal, pengembalian dana, hingga konsep gamification yang menarik bagi para pencinta alam bebas.





















