Headline.co.id, Sidoarjo ~ Sendang Agung yang terletak di Desa Urang Agung, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus bertahan sebagai salah satu warisan budaya penting bagi masyarakat setempat. Meskipun kawasan sekitarnya mengalami perkembangan permukiman dan pertanian, sendang ini tetap menjadi bagian integral dari identitas warga.
Hingga saat ini, Sendang Agung masih menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh masyarakat. Dikelilingi oleh pepohonan rindang, suasana di sekitar sumber mata air ini terasa sejuk, dan airnya masih dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Sendang Agung sudah ada jauh sebelum dibangun fasilitas pelindung modern. Meskipun tidak ada catatan tertulis mengenai asal-usulnya, keberadaan sendang ini telah menjadi bagian dari kehidupan warga selama beberapa generasi.
Secara historis, Desa Urang Agung berada di kawasan budaya Delta Brantas yang dikenal sebagai daerah agraris penting di Jawa Timur. Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah ini diduga menjadi bagian dari sistem pertanian dan pengairan tradisional yang mendukung kehidupan masyarakat.
Sejarawan Denys Lombard menilai bahwa struktur air tradisional di Jawa memiliki ketahanan yang kuat terhadap perubahan zaman. “Struktur air tradisional di Jawa sering kali bertahan lintas zaman, meski bentuk fisiknya berubah, sementara asal-usulnya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat,” tulis Denys Lombard sebagaimana dikutip pada Rabu (3/6/2026).
Pada masa lalu, Sendang Agung tidak hanya berfungsi sebagai sumber air untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial masyarakat. Antropolog Koentjaraningrat menjelaskan bahwa ruang komunal tradisional memiliki peran penting dalam memperkuat solidaritas sosial. “Ruang komunal tradisional seperti sendang mencerminkan nilai gotong royong, spiritualitas, dan hubungan harmonis manusia dan lingkungan,” ujarnya.
Selain memiliki fungsi sosial, Sendang Agung juga menyimpan nilai spiritual yang masih dijaga masyarakat. Dalam tradisi Jawa, air dipandang sebagai simbol kehidupan dan kesucian sehingga sendang kerap menjadi bagian dari berbagai ritual budaya, seperti bersih desa dan doa bersama.
Tokoh masyarakat Urang Agung, Sutrisno, menyatakan bahwa Sendang Agung telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak zaman leluhur. “Sendang ini sudah ada sejak zaman leluhur kami. Dulu semua warga bergantung di sini. Airnya tidak pernah kering, bahkan saat kemarau panjang. Ini bukan sekadar sumber air, tetapi bagian dari kehidupan kami,” katanya.
Meskipun perannya sebagai sumber air utama mulai berkurang seiring hadirnya sumur bor dan jaringan perpipaan modern, Sendang Agung tetap memiliki nilai penting sebagai simbol identitas budaya masyarakat. Keberadaan situs ini dinilai memiliki nilai sejarah, sosial, budaya, dan pendidikan yang memenuhi syarat untuk diusulkan sebagai objek cagar budaya. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang mengatur perlindungan terhadap objek berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai penting bagi sejarah maupun kebudayaan.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur menegaskan bahwa upaya pelestarian warisan budaya tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada nilai yang hidup di tengah masyarakat. “Pelestarian dilakukan tidak hanya pada bentuk fisik, tetapi juga pada nilai dan makna yang terkandung di dalamnya,” demikian pernyataan lembaga tersebut.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, Sendang Agung dinilai layak dikembangkan sebagai ruang edukasi sejarah lokal, destinasi wisata budaya, sekaligus pusat pelestarian tradisi masyarakat. Bagi masyarakat Urang Agung, Sendang Agung bukan sekadar sumber mata air, melainkan penanda identitas, ruang budaya, dan saksi perjalanan panjang desa yang tetap menjaga akar sejarahnya di tengah perubahan zaman.





















