Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan bahwa Indonesia sedang meningkatkan kewaspadaan dan persiapan untuk menghadapi fenomena El Nino serta potensi kemarau panjang. Pernyataan ini disampaikan dalam Sidang ke-21 Forum Kehutanan Persatuan Bangsa-Bangsa (UNFF21) di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat. “Tahun ini kita harus jauh lebih hati-hati. Adanya potensi kemarau yang lebih panjang akibat El Nino menuntut kewaspadaan tinggi dari kita semua,” ujar Menhut pada Rabu (13/5/2026).
Berdasarkan analisis data cuaca, diprediksi bahwa fenomena El Nino dengan intensitas rendah hingga moderat akan terjadi pada Juni 2026, yang berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang. Menhut meminta seluruh jajaran dan mitra terkait untuk tidak lengah serta terus meningkatkan patroli dan pemantauan di wilayah-wilayah rawan.
Dalam rangkaian UNFF21, Menhut juga melaporkan capaian signifikan Indonesia dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini menjadi bukti nyata komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat aksi iklim melalui perlindungan ekosistem hutan secara berkelanjutan. Menurut Menhut, dalam satu dekade terakhir, Indonesia berhasil mengurangi luas kebakaran hutan dan lahan sebesar 86 persen.
“Keberhasilan ini merupakan hasil dari penguatan sistem pencegahan dan peringatan dini yang terintegrasi, penegakan hukum yang tegas, serta pendekatan berbasis masyarakat di tingkat tapak,” jelas Menhut. Capaian positif ini terus berlanjut, di mana pada periode satu tahun terakhir (2024-2025), Indonesia mencatatkan penurunan luas karhutla yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menhut menambahkan bahwa penurunan ini didorong oleh penguatan pemantauan titik panas (hotspot) dan respons cepat pemadaman oleh tim gabungan di lapangan. Ia juga menekankan bahwa penekanan angka karhutla tidak bisa dilakukan oleh pemerintah pusat semata, tetapi juga memerlukan kerja sama erat masyarakat, aparat penegak hukum, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pencegahan dilakukan secara efektif sejak dini.
“Kolaborasi dan kesiapsiagaan adalah kunci. Kita harus memastikan bahwa angka karhutla dapat terus ditekan demi menjaga kelestarian hutan dan memastikan kualitas udara yang sehat bagi masyarakat,” tutur Menhut.




















