Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Standardisasi Nasional (BSN) merayakan pencapaian signifikan dengan menempati peringkat ke-23 dunia dalam Global Quality Infrastructure Index (GQII) 2025. Posisi ini menunjukkan peningkatan empat peringkat dari sebelumnya dan merupakan yang tertinggi di kawasan ASEAN. Pencapaian ini menandakan kemajuan dalam sistem standardisasi, akreditasi, dan metrologi yang menjadi dasar kepercayaan dalam perdagangan domestik dan internasional.
Pelaksana Tugas Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono, menekankan pentingnya mutu sebagai faktor utama dalam persaingan global. Ia menyatakan bahwa produk yang tidak memenuhi standar akan kesulitan bersaing di pasar internasional. “Di tengah arus globalisasi dan persaingan yang semakin ketat, mutu produk tidak lagi sekadar nilai tambah, melainkan menjadi syarat utama untuk bertahan dan berdaya saing,” ujarnya di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Infrastruktur Mutu Nasional terdiri dari tiga pilar utama: standardisasi, akreditasi, dan metrologi. Ketiga pilar ini membentuk sistem terpadu yang memastikan produk memenuhi persyaratan mutu dan keselamatan. Berdasarkan GQII 2025, Indonesia menunjukkan kinerja kuat di ketiga pilar tersebut, dengan posisi ke-38 dunia untuk standardisasi, ke-32 dunia untuk metrologi, dan peringkat ke-4 dunia untuk akreditasi. Pada pilar akreditasi, Indonesia bahkan menempati posisi pertama di Asia, melampaui sejumlah negara maju.
Penguatan sistem penilaian kesesuaian nasional, termasuk laboratorium pengujian, lembaga inspeksi, dan lembaga sertifikasi yang telah terakreditasi secara internasional, juga tercermin dalam capaian ini. Selain berdampak pada industri besar, penguatan Infrastruktur Mutu Nasional juga dirasakan oleh pelaku usaha mikro dan kecil (UMK). Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang didukung sistem pengujian dan sertifikasi meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk lokal.
Data BSN menunjukkan bahwa dari 5.940 jenis produk yang beredar di Indonesia, sebanyak 1.099 jenis atau sekitar 18,5 persen telah menerapkan SNI. Sebanyak 204 produk di antaranya berhasil menembus pasar ekspor. Sepanjang 2025, sebanyak 19 UMK binaan BSN juga berhasil masuk pasar internasional setelah mengadopsi SNI. Hal ini menunjukkan bahwa standar tidak hanya berfungsi sebagai instrumen perlindungan domestik, tetapi juga sebagai pintu masuk ke pasar global.
Momentum peringatan 29 tahun BSN sejak berdiri pada 26 Maret 1997 menjadi refleksi penguatan peran lembaga tersebut dalam membangun kepercayaan terhadap produk nasional. BSN menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan kementerian, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan daya saing industri, memperluas akses pasar, serta memperkuat perlindungan konsumen melalui standar yang andal.























