Headline.co.id, Jakarta ~ Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi dan energi dunia. Dalam menghadapi situasi ini, Indonesia berfokus memperkuat fondasi domestik dengan mempercepat agenda swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional. Langkah ini tidak hanya mengandalkan komoditas utama seperti minyak sawit, tetapi juga membuka peluang bagi komoditas lain seperti singkong sebagai bahan baku energi masa depan.
Indonesia dinilai memiliki bantalan ekonomi yang relatif kuat dalam menghadapi gejolak global, didukung oleh basis produksi yang kokoh dan pasar ekspor yang tetap berjalan. Salah satu komoditas utama yang menjadi penopang adalah minyak sawit. Pada 2025, produksi crude palm oil (CPO) Indonesia mencatatkan peningkatan signifikan. Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyatakan bahwa produksi sawit nasional tahun lalu mencapai angka yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. “Produksi sawit kita. Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total ini secara total produksi kita dengan PKO itu, 56 juta,” kata Eddy, Rabu (11/03/2026).
Data menunjukkan bahwa produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton, naik sekitar 7,5 persen dibanding 2024 yang berada di angka 48,16 juta ton. Kenaikan ini didukung oleh kondisi cuaca yang baik sepanjang tahun serta harga sawit yang relatif tinggi pada tahun sebelumnya, sehingga petani lebih intensif merawat kebun. Di pasar global, permintaan ekspor juga tetap kuat. Sepanjang 2025, volume ekspor sawit Indonesia tumbuh 9,5 persen, dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton. Harga minyak sawit yang lebih kompetitif dibanding minyak nabati lain menjadi faktor pendorong utama.
Meskipun konflik global memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga sekitar 50 persen, ekspor sawit Indonesia tetap berjalan. “Dengan perang ini yang kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih jalan. Sawit masih ekspornya masih jalan. Walaupun terjadi kenaikan biaya yang luar biasa. Kenaikan biaya logistik dengan insurance itu kira-kira 50 persen kenaikannya,” ungkap Eddy Martono. Meski ada indikasi penurunan permintaan baru akibat kenaikan biaya transportasi, kontrak ekspor yang sudah berjalan tetap dipenuhi dan pengiriman masih berlangsung ke berbagai negara tujuan utama seperti India dan China.
Di dalam negeri, konsumsi sawit juga terus meningkat, terutama untuk kebutuhan energi melalui program biodiesel. Pada 2025, konsumsi domestik mencapai 24,7 juta ton, naik sekitar 3,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara konsumsi biodiesel sendiri meningkat hingga 12,7 juta ton, naik sekitar 10,9 persen. Program biodiesel menjadi bagian penting dari strategi Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Saat ini, implementasi program berada pada bauran B40, dengan peningkatan ke level lebih tinggi seperti B50 dalam jangka panjang.
Eddy Martono melanjutkan bahwa peningkatan program biodiesel harus diiringi dengan peningkatan produksi agar tidak mengganggu keseimbangan ekspor. “Menteri Pertanian minta supaya kita memang setuju untuk peningkatan produktivitas untuk meningkatkan produksi kita karena program pemerintah ini akan swasembada energi utamanya untuk biodiesel. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi,” ungkapnya.
Selain sawit, pemerintah juga mulai mengoptimalkan komoditas lain sebagai sumber energi alternatif, salah satunya singkong. Komoditas ini diproyeksikan menjadi bahan baku bioetanol untuk mendukung bauran energi nasional. Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia, Arifin Lambaga, mengatakan bahwa potensi singkong Indonesia sangat besar untuk mendukung ketahanan energi. “Karena kita tahu sekarang risiko kekurangan energi kita sangat besar karena adanya perang di Timur Tengah itu. Nah oleh karena itu tentu pemerintah menginginkan semua potensi yang bisa memproduksi energi itu dioptimalkan,” pungkas Arifin.
Saat ini, produksi singkong nasional mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan peningkatan produktivitas dan dukungan varietas unggul, angka tersebut dinilai masih bisa ditingkatkan secara signifikan. Menurut Arifin, kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar mencapai 1,4 juta kiloliter per tahun. Jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari singkong, maka diperlukan sekitar 10 juta ton singkong segar. “Konversinya rata-rata untuk satu liter bioetanol membutuhkan lima sampai tujuh kilogram singkong segar,” ujarnya.
Kementerian Pertanian saat ini meminta pelaku industri dan petani untuk menyiapkan rencana produksi agar komoditas ini dapat menjadi bagian dari ekosistem energi nasional. “Kami diminta membuat perencanaan produksi singkong yang kemudian dikonversi menjadi bioetanol,” imbuhnya.
Dengan kekuatan pada sektor pangan, energi nabati, serta basis produksi komoditas yang besar, Indonesia memiliki posisi strategis dalam menghadapi ketidakpastian global. Ketika konflik geopolitik mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, kekuatan sumber daya domestik menjadi benteng utama menjaga stabilitas nasional. Langkah memperkuat swasembada pangan dan energi pun menjadi strategi jangka panjang Indonesia untuk memastikan ekonomi tetap tangguh, bahkan di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks.






















