Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Indonesia secara resmi mengungkapkan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ayatollah Khamenei menjadi korban dalam serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan duka cita tersebut disampaikan melalui surat pribadi dari Presiden Prabowo Subianto yang diserahkan kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dalam sebuah pertemuan di Jakarta pada Rabu, 4 Maret 2026.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, yang bertemu langsung dengan Dubes Boroujerdi, menyatakan bahwa surat tersebut ditujukan kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Hal ini menunjukkan solidaritas Indonesia di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah setelah serangan yang terjadi pada 28 Februari lalu. “Kami menyampaikan rasa duka yang mendalam,” demikian pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri RI pada hari yang sama.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Sugiono tidak hanya menyampaikan rasa duka, tetapi juga menegaskan sikap prinsipil Indonesia. Ia menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di tengah ketegangan yang melibatkan aksi balasan Iran di kawasan Teluk Persia. Pemerintah Indonesia mendesak agar diplomasi menjadi prioritas utama untuk meredakan eskalasi. “Diplomasi harus menjadi prioritas utama,” tegas Sugiono setelah pertemuannya dengan Dubes Iran.
Serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 menargetkan beberapa lokasi di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa serangan tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Insiden ini memicu serangan rudal balasan dari Teheran ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Menanggapi situasi tersebut, Indonesia menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog. Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono juga telah melakukan komunikasi via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk membahas eskalasi ini serta mengungkapkan keinginan Indonesia untuk menjadi fasilitator demi mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.



















