Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mempercepat pembangunan empat sabo dam prioritas di Sungai Aek Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Langkah ini diambil sebagai strategi pengendalian banjir dan material sedimen untuk melindungi permukiman warga dari risiko luapan saat hujan deras.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa penanganan di Aek Tukka saat ini masih bersifat darurat dengan pembangunan tanggul sungai menggunakan metode pancang (sheet pile) di kawasan padat permukiman dan tanggul tanah. Namun, ia menekankan pentingnya percepatan pembangunan sabo dam sebagai solusi permanen.
“Khusus di sini (Aek Tukka) saya minta dipercepat pembangunan sabo dam-nya. Paling tidak tahun ini harus sudah ada yang selesai. Karena kalau terjadi hujan deras empat sampai lima jam, saya khawatir tanggul darurat ini tidak akan mampu menahan material dari hulu. Karena itu dam harus segera dibangun agar sedimen, pasir, kayu, dan batu bisa tertahan di atas, sementara air tetap mengalir,” ujar Menteri PU dalam keterangannya saat meninjau langsung lokasi penanganan bencana banjir di kawasan Aek Tukka dan Aek Gala-Gala bersama Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI Richard Taruli Horja Tampubolon serta Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, seperti dilansir Jumat (27/2/2026).
Percepatan ini dimulai dengan penyelidikan tanah dan pengeboran (soil investigation) untuk memastikan desain konstruksi yang aman dan efektif sebagai dasar pelaksanaan pembangunan pada 2026. Pada tahap awal 2026, akan dibangun empat sabo dam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Tukka, yaitu Sabo Dam TK-D.1 di Desa Bona Lumban, TK-D.2 di Desa Hutan Nabolon, TK-D.3 di Desa Sigala-gala, dan TK-D.4 di Desa Tukka.
Keempat sabo dam tersebut dirancang dengan bentang 15–50 meter dan tinggi 3–6 meter serta total kapasitas tampungan mencapai 205.000 meter kubik untuk menahan sedimen dan material dari hulu. “Kalau air saja tidak ada masalah. Yang menjadi persoalan adalah ketika air membawa batu, kayu, dan pasir dalam jumlah besar. Itu yang harus kita tahan di dam,” jelas Dody.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan, Feriyanto Pawenrusi, menjelaskan bahwa pembangunan sabo dam ini merupakan bagian dari rencana pengendalian sungai secara menyeluruh di wilayah Tapanuli. “Kami menyiapkan sabo plan untuk memperlambat arus air dan mengendalikan sedimen. Total kebutuhan untuk penanganan sungai-sungai di wilayah Tapanuli mencapai 30 sabo dam dan 6 sand pocket. Seluruh sungai kita sentuh. Atensi Bapak Menteri untuk Tukka, sesuai arahan, pada 2026 sudah ada yang selesai,” ujarnya.
Penanganan sungai-sungai besar di Sumatera Utara dan provinsi lainnya direncanakan berlangsung bertahap hingga empat tahun. Namun, khusus Sungai Aek Tukka, Menteri Dody meminta agar pekerjaan prioritas dapat diselesaikan pada 2026. “Fokus utama kita di sini. Supaya masyarakat di kanan-kiri sungai tidak lagi terdampak banjir meski hujan deras turun. Itu tugas utama yang harus kita tuntaskan,” kata Feriyanto.
Melalui percepatan pembangunan sabo dam permanen ini, Kementerian PU memastikan penanganan di Aek Tukka tidak hanya bersifat darurat, tetapi menjadi bagian dari sistem pengendalian sedimen dan mitigasi banjir yang lebih kuat, terstruktur, dan berkelanjutan.



















