Headline.co.id, Jogja ~ Perubahan pola dan jadwal makan selama bulan puasa dapat menjadi tantangan bagi penderita diabetes. Meski demikian, Dr. Ali Baswedan, Sp.PD-KEMD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Endokrin Metabolik RSA UGM, menyatakan bahwa penderita diabetes tetap dapat berpuasa dengan syarat tertentu. Pertama, mereka harus berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan izin. “Artinya harus ada izin dari dokter karena itu penting. Dokter lah yang dapat menentukan dapat berpuasa atau tidak,” jelas Ali pada Selasa (24/2).
Syarat kedua adalah tidak boleh melewatkan sahur dan menghindari konsumsi berlebihan saat berbuka. Ali menekankan bahwa tidak semua penderita diabetes diizinkan berpuasa, terutama mereka yang memiliki komplikasi berat seperti luka atau infeksi paru aktif, serta mereka yang mengalami lonjakan gula darah atau sakit akut. Jika mengalami gejala seperti batuk, pilek, demam, atau luka di kaki, pasien disarankan tidak memaksakan diri untuk berpuasa. “Nanti yang menentukan boleh puasa atau tidak itu dari dokter, karena dokter itu punya riwayatnya,” tambahnya.
Pola makan yang teratur selama puasa penting bagi penderita diabetes untuk menghindari fluktuasi gula darah. Ali menyarankan agar sahur tidak dilewatkan untuk mencegah penurunan gula darah di siang hari. “Dan tentu pada saat berbuka puasa jangan berlebihan,” pesannya. Ali juga menyarankan pembagian waktu makan setelah berbuka menjadi tiga kloter: setelah adzan, sebelum tarawih, dan sesudah tarawih. “Jika berbuka puasa secara berlebihan, akan terjadi lonjakan secara berlebihan,” terangnya.
Terkait dosis obat, Ali menyarankan pengurangan setengah dari dosis biasa, meskipun ada panduan yang menyebutkan pengurangan sepertiga. “Jika mengurangi sepertiga dari dosis, kemungkinan terjadinya drop itu kan lebih besar. Tapi kalau setengah dulu tidak apa-apa,” ungkapnya. Evaluasi dilakukan setelah 45 hari untuk menentukan penyesuaian dosis lebih lanjut.
Ali juga memberikan panduan menu sahur dan berbuka bagi penderita diabetes. Untuk sahur, disarankan mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti beras merah, roti gandum, atau oatmeal, serta protein dan sayuran. Air putih juga penting. Saat berbuka, disarankan memulai dengan makanan manis dalam porsi kecil. “Pokoknya secukupnya. Tapi yang manis-manis memang dianjurkan pada saat buka itu yang manis dianjurkan tapi sedikit saja porsinya,” jelasnya. Sebelum tarawih, nasi boleh dikonsumsi, dan setelah tarawih, bisa mengonsumsi camilan.
Tanda-tanda gula darah tinggi meliputi haus berlebihan, sering buang air kecil, lemas, badan panas, dan pusing. Sementara gula darah rendah ditandai dengan lemas berlebihan dan berkeringat. Ali menyarankan pengecekan gula darah selama tiga hingga empat hari pada waktu sebelum sahur, siang hari, dan dua hingga tiga jam sebelum berbuka.
Sebagai penutup, Ali menekankan pentingnya membatalkan puasa jika mengalami gejala gula darah rendah seperti berdebar-debar. “Wajib dibatalkan karena risiko terjadinya hipoglikemia (gula darah rendah) itu jauh lebih berbahaya,” jelasnya. Gula darah ideal sebaiknya berada di bawah 200 atau 180, atau dalam rentang 110-180.




















