Headline.co.id, Yogyakarta ~ Ceramah sebelum salat tarawih di Masjid Darul Muttaqin Universitas Alma Ata menghadirkan Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., Rektor Universitas Negeri Yogyakarta periode 2009–2017, yang menekankan pentingnya Ramadhan sebagai momentum pendidikan spiritual dan pembentukan karakter, Selasa malam. Dalam tausiyah tersebut, Prof Rochmat menjelaskan bahwa orientasi utama ibadah puasa adalah membentuk pribadi bertaqwa yang kualitasnya harus terus dijaga hingga Ramadhan berikutnya. Kegiatan ceramah ini berlangsung sebagai bagian dari rangkaian ibadah Ramadhan di lingkungan kampus dengan tujuan memperkuat pemahaman keagamaan jamaah. Melalui materi ceramah, jamaah diajak memahami dimensi pendidikan, spiritual, sosial, dan pengendalian diri yang terkandung dalam ibadah puasa.
Prof Rochmat Wahab menyampaikan bahwa tujuan utama pendidikan sejatinya adalah membangun pribadi bertaqwa yang mengarah pada konsep insan kamil, sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Muhammad Iqbal. Ia menegaskan bahwa Ramadhan menjadi wahana pembelajaran komprehensif bagi umat Islam dalam menginternalisasi nilai ketakwaan.
“Orientasi berpuasa adalah menjadikan pribadi yang bertaqwa, dan ketakwaan itu harus terus dijaga sampai Ramadhan berikutnya. Tujuan utama pendidikan adalah membangun pribadi bertaqwa, menjadi insan kamil sebagaimana diteorikan oleh Muhammad Iqbal,” ujar Prof Rochmat dalam ceramahnya.
Dalam pemaparannya, Prof Rochmat menekankan bahwa Ramadhan memiliki dua misi utama, yakni misi pendidikan dan misi spiritual, yang saling melengkapi dalam membentuk pribadi beriman. Ia menjelaskan bahwa puasa juga menjadi sarana pembentukan akhlak, sejalan dengan tujuan diutusnya Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Selain aspek spiritual, Ramadhan juga dinilai memiliki dimensi kognitif yang mendorong peningkatan pengetahuan agama. Prof Rochmat mengaitkan hal tersebut dengan wahyu pertama yang memerintahkan membaca sebagai simbol pentingnya semangat belajar sepanjang hayat.
“Momentum Ramadhan sangat tepat untuk meningkatkan pengetahuan agama. Wahyu pertama, iqra’, mengajarkan kita merawat spirit belajar berbagai ilmu dan belajar ilmu kehidupan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyoroti peran Ramadhan dalam membina pengendalian diri, khususnya dalam menahan emosi dan hawa nafsu. Menurutnya, latihan pengendalian diri selama puasa menjadi pelajaran penting, terutama bagi kalangan remaja dalam menjaga stabilitas emosi.
Prof Rochmat juga menekankan dimensi sosial dalam ibadah puasa yang mengajarkan empati dan kepedulian terhadap sesama melalui praktik berbagi dan berinfak, baik dalam kondisi lapang maupun sempit.
Ia menegaskan bahwa seluruh nilai pendidikan Ramadhan bermuara pada pembentukan pribadi yang seimbang dalam hubungan vertikal kepada Allah serta hubungan horizontal dengan sesama manusia.
“Esensi Ramadhan adalah mengajarkan kita menjadi pribadi bertaqwa, berempati, dan menuju insan kamil yang sempurna, baik dalam hubungan vertikal kepada Allah maupun secara horizontal kepada sesama,” tuturnya.
Ceramah tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan nilai spiritual dan pendidikan karakter di lingkungan Universitas Alma Ata selama Ramadhan, sekaligus memberikan pemahaman komprehensif kepada jamaah mengenai makna puasa sebagai proses pembentukan manusia berakhlak, berilmu, dan peduli sosial.



















