Headline.co.id, Jakarta ~ Sejumlah astronom memprediksi awal puasa Ramadan 1447 Hijriah akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan perhitungan astronomi terkait visibilitas hilal. Prediksi ini muncul karena hilal atau bulan sabit penanda awal bulan Hijriah dinyatakan tidak mungkin terlihat pada Selasa, 17 Februari 2026. Informasi tersebut dilaporkan media Timur Tengah dan diperkuat keterangan para ahli astronomi serta keputusan resmi sejumlah otoritas keagamaan di berbagai negara. Meski demikian, penetapan resmi di tiap negara tetap menunggu hasil pemantauan hilal dan keputusan lembaga berwenang masing-masing.
Laporan media Al Arabiya menyebutkan, berdasarkan kalkulasi astronomi, bulan Syaban tahun ini diperkirakan berjumlah 30 hari. Dengan demikian, Ramadan diproyeksikan dimulai pada 19 Februari 2026 dan berlangsung selama 30 hari, sehingga Idulfitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Namun, terdapat kemungkinan perbedaan awal Syawal di beberapa negara. Sejumlah pihak memperkirakan Idulfitri berpotensi dirayakan lebih awal, yakni pada 20 Maret 2026, apabila terdapat perbedaan metode penetapan atau hasil rukyat hilal di wilayah tertentu.
Profesor riset surya, Mohamed Gharib, menjelaskan bahwa secara teknis hilal memang telah muncul sebelum waktu observasi. Akan tetapi, faktor utama dalam penentuan awal bulan Hijriah adalah lamanya hilal berada di atas cakrawala setelah matahari terbenam.
“Meski hilal Ramadan secara teknis sudah muncul sebelum waktu observasi, durasi keberadaannya di atas cakrawala setelah matahari terbenam menjadi faktor kunci. Jika waktu tinggalnya terlalu singkat, hilal tidak akan dapat diamati dengan mata telanjang maupun teleskop,” ujarnya.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa secara ilmiah, peluang rukyat pada 17 Februari 2026 sangat kecil atau bahkan mustahil. Artinya, Syaban hampir dipastikan digenapkan menjadi 30 hari sehingga Ramadan dimulai pada 19 Februari 2026.
Pendapat lain sempat menyebutkan kemungkinan Ramadan dimulai pada 18 Februari, dengan asumsi Syaban digenapkan lebih cepat. Namun, berdasarkan parameter astronomi yang tersedia, skenario tersebut dinilai kurang kuat secara ilmiah.
Astronom asal Maroko, Hicham El Aissaoui, juga memprediksi umat Islam di Arab Saudi akan menjalani puasa selama 30 hari pada tahun ini. Prediksi tersebut selaras dengan perhitungan bahwa Ramadan dimulai pada 19 Februari dan berakhir pada 21 Maret 2026.
Sejumlah Negara Resmi Tetapkan 19 Februari
Beberapa negara telah lebih dahulu mengumumkan awal Ramadan 1447 H berdasarkan data astronomi dan keputusan otoritas keagamaan masing-masing.
Di Oman, Komite Utama Pengamatan Bulan menetapkan Rabu, 18 Februari 2026, sebagai hari terakhir Syaban dan Kamis, 19 Februari 2026, sebagai hari pertama Ramadan. Komite tersebut menyatakan hilal mustahil terlihat pada 17 Februari di seluruh wilayah negara itu.
Kepresidenan Urusan Agama di Turki juga menyampaikan hal serupa. Otoritas tersebut menegaskan bahwa hilal tidak akan terlihat pada 17 Februari, baik di kawasan Arab, negara-negara Islam, maupun di benua Amerika. Dengan demikian, awal puasa ditetapkan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Di Singapura, Dewan Agama Islam Singapura yang dipimpin Mufti negara itu turut mengumumkan bahwa Ramadan dimulai pada 19 Februari 2026. Otoritas setempat menegaskan bahwa secara astronomi hilal tidak mungkin teramati pada 17 Februari.
Sementara itu, Dewan Fatwa Australia menetapkan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Mufti Agung Australia, Dr. Ibrahim Abu Mohamad, menyatakan, “Malam pertama Ramadan—termasuk pelaksanaan salat Tarawih—akan dimulai pada Rabu malam, 18 Februari, setelah matahari terbenam.”
Dewan Fatwa Australia juga menegaskan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan prinsip tidak menerima laporan rukyat yang bertentangan dengan fakta ilmiah yang dapat diverifikasi. Berdasarkan data astronomi, hilal mustahil terlihat pada 17 Februari sehingga 18 Februari menjadi hari terakhir Syaban dan 19 Februari sebagai awal Ramadan.
Makna Ramadan dan Ibadah yang Dijalankan
Ramadan merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah dan dipandang sebagai bulan paling suci bagi umat Islam. Selama bulan ini, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dengan menahan diri dari makan, minum, merokok, serta aktivitas suami-istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Perintah puasa termaktub dalam Al-Qur’an:
“Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumus ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Selain puasa wajib, umat Islam juga melaksanakan salat Tarawih setiap malam setelah salat Isya. Ibadah sunnah ini menjadi salah satu ciri khas Ramadan yang memperkuat dimensi spiritual dan sosial umat Muslim di berbagai negara.
Potensi Perbedaan Idulfitri
Meski banyak negara memulai Ramadan pada tanggal yang sama, potensi perbedaan saat Idulfitri tetap terbuka. Faktor perbedaan metode hisab dan rukyat, serta kondisi geografis masing-masing wilayah, dapat memengaruhi hasil pengamatan hilal Syawal.
Sejumlah pihak memperkirakan Idulfitri 1447 H dapat jatuh pada 20 Maret 2026 apabila hilal terlihat lebih awal di negara tertentu. Namun, jika Ramadan digenapkan menjadi 30 hari, maka Idulfitri diproyeksikan jatuh pada 21 Maret 2026.
Para ahli menegaskan bahwa dinamika tersebut merupakan bagian dari sistem kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan. Karena itu, umat Islam diimbau menunggu pengumuman resmi dari otoritas keagamaan masing-masing negara sebelum memastikan tanggal pelaksanaan ibadah.
Dengan merujuk pada data astronomi yang dapat diverifikasi serta pernyataan resmi lembaga keagamaan di sejumlah negara, awal puasa 2026 secara luas diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari. Keputusan final di tiap negara tetap berada di tangan otoritas yang berwenang melalui mekanisme penetapan resmi yang berlaku.





















