Headline.co.id, Lumajang ~ Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, menekankan pentingnya pencegahan stunting yang dilakukan secara sistematis, komprehensif, dan berkelanjutan dengan keluarga sebagai pusat intervensi utama. Hal ini disampaikan Dewi saat mengunjungi Posyandu Anggrek di Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, pada Jumat (13/2/2026).
Dewi menegaskan bahwa keterlibatan aktif keluarga, terutama ibu sebagai pengasuh utama, sangat menentukan keberhasilan pencegahan stunting. Menurutnya, stunting bukan hanya masalah tinggi badan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi masa depan. “Pencegahan stunting membutuhkan konsistensi. Keluarga harus memastikan asupan gizi seimbang setiap hari, imunisasi lengkap sesuai jadwal, serta rutin memantau pertumbuhan anak di Posyandu. Intervensi tidak boleh terputus,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa strategi pencegahan dimulai sejak fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode tersebut, ibu hamil wajib menjalani pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, mengonsumsi tablet tambah darah, serta memperoleh edukasi gizi yang memadai. Setelah kelahiran, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan menjadi fondasi utama imunitas dan tumbuh kembang bayi. Selanjutnya, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) harus memenuhi unsur gizi seimbang, meliputi karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak, vitamin, serta mineral.
Pemantauan pertumbuhan secara berkala di Posyandu juga menjadi instrumen penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala sesuai standar pertumbuhan anak. Dalam kunjungan tersebut, layanan Posyandu dirangkaikan dengan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), pemberian vitamin A, serta obat cacing bagi balita. Intervensi tersebut dinilai efektif mencegah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan mikronutrien dan infeksi cacing.
Dewi Natalia menambahkan bahwa aspek sanitasi dan perilaku hidup bersih turut menentukan keberhasilan pencegahan stunting. Akses air bersih, penggunaan jamban sehat, serta kebiasaan mencuci tangan pakai sabun harus menjadi budaya dalam keluarga. “Jika ingin membangun sumber daya manusia unggul, maka pencegahan stunting harus menjadi gerakan bersama yang terukur dan konsisten, dimulai dari keluarga, diperkuat Posyandu, dan didukung lintas sektor,” katanya.
Melalui pendekatan menyeluruh yang mencakup intervensi gizi spesifik, layanan kesehatan dasar, dan perbaikan sanitasi, Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan komitmennya menjadikan Posyandu sebagai pusat penguatan kualitas generasi guna mewujudkan anak-anak yang sehat dan berdaya saing.

















