Headline.co.id, Jogja ~ The Conversation Indonesia kembali menggelar TCID Author Awards untuk mengapresiasi ilmuwan dan lembaga di Indonesia yang aktif dalam publikasi. Penghargaan ini bertujuan untuk menghargai kontribusi para peneliti dan akademisi dalam menyebarluaskan gagasan berbasis sains di media sosial masyarakat Indonesia.
Dalam acara penghargaan yang dilaksanakan secara daring pada Jumat (6/2), Universitas Gadjah Mada (UGM) dinobatkan sebagai Universitas Terproduktif Kedua dengan total 51 publikasi sepanjang tahun 2025. TCID 2025 memberikan penghargaan dalam tiga belas kategori, melibatkan 323 perguruan tinggi, kementerian, lembaga, serta 799 penulis aktif yang berpartisipasi melalui tulisan dan keilmuan mereka.
Direktur Penelitian UGM, Prof Mirwan Ushada, menyatakan rasa syukur atas penghargaan dari The Conversation Indonesia terhadap kontribusi para akademisi dan ilmuwan UGM dalam mempublikasikan artikel ilmiah dan opini. Menurut Mirwan, pencapaian ini menunjukkan bahwa UGM terus berupaya membumikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat melalui suara para pakar. “Pencapaian ini menjadi apresiasi bagi seluruh sivitas UGM dosen, peneliti, dan mahasiswa yang gigih berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan publikasi,” ujar Mirwan, Jumat (13/2).
Dengan memanfaatkan akses mudah ke media sosial, publikasi yang disampaikan para akademisi ini memungkinkan masyarakat menjadi lebih kritis dalam memahami dan memanfaatkan informasi berbasis data. Mirwan menegaskan bahwa UGM berkomitmen untuk meningkatkan minat literasi masyarakat agar lebih terbuka terhadap inovasi, berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan secara sadar, serta memiliki pemahaman mendalam mengenai isu global. Bagi Mirwan, publikasi ilmiah berperan penting dalam menyebarluaskan pengetahuan yang kredibel dan berdampak bagi masyarakat.
Yanuar Nughroho, pendiri Nalar Institute sekaligus Dewan Penasihat untuk Keberlanjutan TCID, menyatakan bahwa menyuarakan sains dan kebenaran informasi di ruang publik adalah kerja intelektual yang penting. Upaya ini membantu masyarakat menjadi lebih kritis dan mengambil keputusan secara sadar di tengah krisis nalar publik. “Ilmuwan tidak bisa hanya menjadi produsen ilmu pengetahuan. Ilmuwan juga harus menjadi penjaga integritas pengetahuan publik. Artinya, ilmuwan tidak boleh netral ketika kebenaran dimanipulasi oleh pemerintah ataupun pihak tertentu,” ujarnya.
Dengan merayakan suara ilmuwan, TCID Author Awards menegaskan pentingnya menyuarakan sains di ruang publik sebagai kerja intelektual yang berdampak. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan sains ke publik serta melahirkan masyarakat yang kritis, berpengetahuan, dan mampu mengambil keputusan secara sadar dalam berdemokrasi.




















