Headline.co.id, Kota Gorontalo ~ Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengadakan sidang senat terbuka yang dipimpin oleh Ketua Senat Prof. Dr. Femmy M. Sahami pada Selasa (3/2/2026). Dalam acara tersebut, lima guru besar baru dikukuhkan, salah satunya adalah Prof. Dr. Suleman Bouti, seorang budayawan Gorontalo yang diangkat sebagai guru besar tetap dalam bidang sosiolinguistik ortografi.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Ortografi dalam Masyarakat Tutur Minoritas”, Prof. Suleman Bouti mengkritisi pandangan umum yang menganggap ortografi hanya sebagai sistem penulisan bunyi. Ia menegaskan bahwa ortografi adalah arena sosial yang mencerminkan dinamika kekuasaan, identitas, dan legitimasi. “Ia adalah wajah bahasa yang dilihat dunia, bukan sekadar menyalin suara, tetapi menata relasi sosial penuturnya,” ujarnya.
Setiap huruf dalam ortografi, menurut Suleman, menyimpan ideologi dan negosiasi tentang siapa yang berhak menentukan bentuk “benar” dan siapa yang dikecualikan. Ia mengangkat pertanyaan kritis mengenai peran ortografi bagi masyarakat tutur minoritas yang memiliki tradisi lisan yang kuat. Kekayaan budaya seperti doa, ritual, pantun, dan peribahasa yang diwariskan secara oral sering kali “dibekukan” menjadi artefak ketika dimasukkan ke dalam ortografi. “Di sinilah paradoks ortografi bekerja. Ia menjanjikan pelestarian, tetapi pada saat yang sama dapat menjadi instrumen pembekuan,” ungkapnya.
Riset yang dilakukan Suleman di Gorontalo mengungkapkan kompleksitas multiliterasi yang unik, di mana dua sistem ortografi bersejarah, Arab-Pegon (warisan Islam) dan Latin (simbol modernitas negara), hidup berdampingan. Kedua sistem ini tidak sepenuhnya cocok dengan struktur fonetik dan morfologis bahasa Gorontalo, sehingga penyesuaian bunyi dan huruf menjadi ruang negosiasi tradisi dan modernitas.
Fenomena ini sejalan dengan kasus global seperti masyarakat Berber di Afrika Utara yang menggunakan tiga aksara (Latin, Arab, Tifinagh) atau perpecahan Hindi-Urdu yang menggunakan Devanagari dan Nastaliq. “Di titik inilah ortografi bukan lagi sistem fonetik melainkan politik tanda, simbol visual yang mengatur siapa yang dianggap bagian dari bangsa, dan siapa yang tidak,” jelasnya.
Dalam konteks Indonesia, logika serupa terlihat di mana aksara-aksara lokal seperti Jawa, Batak, Bugis, dan Rejang tersingkir oleh latinisasi yang dipromosikan negara. Di balik wacana efisiensi dan modernitas, tersimpan logika kekuasaan untuk membentuk narasi tunggal identitas nasional. Praktik ini, dalam pandangan sosiolinguistik ortografi, adalah bentuk normalisasi bahasa yang menjadikan satu bentuk tulisan sebagai pusat dan lainnya sebagai pinggiran. Dampaknya tidak hanya pada kebijakan, tetapi juga merembes ke psikologi penutur. Masyarakat minoritas kerap merasa bahasa mereka kehilangan otentisitas ketika dipaksa ditulis dengan huruf “asing”. “Inilah yang dapat disebut sebagai alienasi linguistik, bahasa sendiri terasa asing di tangan penuturnya,” ujar Suleman Bouti.
Selain Prof. Dr. Suleman Bouti, UNG juga mengukuhkan empat guru besar lainnya: Prof. Dr. Dakia N. Djou (Antropolinguistik), Prof. Dr. Ir. Sardi Salim (Geografi Elektrifikasi), Prof. Dr. Asna Ntelu (Analisis Wacana Budaya), dan Prof. Dr. Frida Maryati Yusuf (Belajar dan Pembelajaran FMIPA). Acara ini dihadiri langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok.






















