Headline.co.id, Purwakarta ~ Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi bersama Wakil Menteri PPPA Veronica Tan melakukan kunjungan kerja ke Kampung Ilmu, Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau langsung sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesehatan perempuan dan anak melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berbasis komunitas dan kearifan lokal.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri PPPA menekankan pentingnya peran perempuan sebagai manajer gizi keluarga. Menurutnya, penguatan pemahaman perempuan adalah kunci keberhasilan Program MBG, terutama dalam memanfaatkan potensi pangan lokal di setiap daerah. “Terkait penguatan perempuan dan anak dalam program MBG, fokus utama kami adalah meningkatkan pemahaman perempuan sebagai manajer dalam keluarga, khususnya dalam pemenuhan gizi berbasis kearifan lokal. Setiap daerah memiliki potensi pangan lokal yang berbeda, sehingga menu MBG harus berangkat dari kearifan lokal masing-masing,” ujar Arifah Fauzi dalam siaran pers, Senin (2/2/2026).
Menteri PPPA juga menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi perempuan dan anak, seperti tingginya Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Ia menegaskan bahwa perhatian terhadap perempuan dan anak tidak hanya menjadi prioritas pembangunan nasional, tetapi juga bagian dari komitmen global yang harus dijalankan secara berkelanjutan dan kolaboratif.
Selain itu, Kementerian PPPA mendorong penguatan ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah. Upaya ini dilakukan dengan menanam kebutuhan pangan sehari-hari seperti cabai dan sayuran, sekaligus memperkuat komunitas desa agar mampu menjadi pemasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Rencana besar ke depan adalah memperbanyak SPPG di desa, sehingga kebutuhan pangan tidak harus dibeli dari luar desa, tetapi dapat dipenuhi dari desa itu sendiri,” kata Arifah Fauzi.
Dalam kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Badan Gizi Nasional (BGN) Florencio Mario Vieira menjelaskan bahwa Program MBG dirancang sebagai ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir. Namun, saat ini fokus utama masih berada pada penguatan layanan di hilir. “Hingga hari ini, terdapat hampir 21.000 SPPG aglomerasi dan 8.670 SPPG terpencil yang sedang dalam proses. Tantangan terbesar ke depan adalah rantai pasok, karena kualitas dan kesegaran pangan sangat penting agar tidak menimbulkan risiko kesehatan,” jelas Mario.
Ia menambahkan bahwa Program MBG juga berdampak signifikan terhadap pemberdayaan perempuan. Sekitar 90 persen tenaga kerja di SPPG merupakan perempuan, dengan jumlah keterlibatan mencapai lebih dari satu juta orang di seluruh Indonesia. “Dampaknya sangat terasa, termasuk perubahan peran dalam rumah tangga. Namun, juga terdapat tantangan sosial seperti kecemburuan dan resistensi, sehingga pemberdayaan perempuan perlu disertai dengan edukasi sosial dan penguatan relasi keluarga,” ungkap Mario.
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda yang turut mendampingi kunjungan tersebut menyampaikan kesiapan daerahnya untuk menjadi pilot project pengembangan ekosistem MBG terintegrasi. “Di Maluku Utara, kami memiliki banyak SMK, namun belum sepenuhnya menghasilkan SDM yang siap pakai. Saya membayangkan adanya SMK terintegrasi yang menggabungkan pendidikan, dapur MBG, ekosistem pemberdayaan perempuan, pemeriksaan kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Sherly, Maluku Utara memiliki potensi besar dari sisi lahan, bangunan, dan anggaran. Namun, pendampingan dan penguatan sumber daya manusia masih menjadi kebutuhan utama agar seluruh potensi tersebut dapat dioptimalkan secara maksimal.
















