Headline.co.id, Tim Pengendali Vektor Dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh ~ bersama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dan Kepala Puskesmas Lapang, melakukan tindakan pengendalian vektor nyamuk di pos-pos pengungsian Desa Kuala Cangkoi, Aceh Utara, pada 20 Januari 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya tanggap darurat pascabanjir untuk mencegah peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.
Kepala Puskesmas Lapang, Mastuti, mengungkapkan bahwa banjir telah mempengaruhi seluruh 11 desa di wilayah kerjanya, dengan Desa Kuala Cangkoi, Matang Baro, dan Kuala Keretou mengalami dampak paling parah. “Kami memiliki 11 desa dan semua terdampak banjir. Ada tiga desa yang terdampak paling parah hingga rumah warga hanyut dibawa air,” ujarnya pada Sabtu (24/1/2026).
Pengendalian vektor dilakukan melalui pemeriksaan jentik di tempat penampungan air di area pengungsian, pemberian bubuk abate, serta edukasi pencegahan sarang nyamuk kepada masyarakat dengan penerapan 3M Plus. Tim menyusuri pos-pos pengungsian di wilayah pesisir dan melakukan pemeriksaan langsung terhadap tempat penampungan air yang tidak tertutup, kubangan air di sekitar tenda pengungsian, serta fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) darurat.
Edukasi kepada warga disampaikan menggunakan bahasa daerah agar pesan pencegahan DBD lebih mudah dipahami. Ketua Tim Pengendali Vektor Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Muhammad Jamil, menjelaskan bahwa bubuk abate diberikan pada penampungan air luar rumah atau penampungan air dalam rumah yang tidak digunakan untuk air minum. “Apabila ditemukan jentik pada tempat penampungan air minum, air akan dipindahkan ke wadah lain terlebih dahulu, kemudian tempat penampungan disikat dan dibersihkan agar telur nyamuk dapat dihilangkan,” jelasnya.
Salah seorang warga pengungsian, Efendi (50), menyambut baik kegiatan pemeriksaan jentik tersebut dan menyatakan hingga saat ini belum ditemukan kasus DBD maupun malaria di lokasi pengungsian. Jamil menegaskan bahwa hingga kini belum terjadi peningkatan kasus DBD dan malaria pascabanjir di Aceh Utara. Kabupaten Aceh Utara juga telah berstatus eliminasi malaria sejak 2020.
Ia mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan 3M Plus, yakni menutup, menguras, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta melakukan langkah tambahan lain guna mencegah perkembangbiakan nyamuk. Langkah tambahan tersebut meliputi menabur bubuk larvasida, memakai obat anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, memasang kasa di jendela, menanam tanaman penangkal nyamuk, memeriksa tempat penampungan air, bergotong royong membersihkan lingkungan, menyimpan pakaian dalam keadaan tertutup, dan memperbaiki saluran serta talang air yang rusak.



















