Headline.co.id, Jakarta ~ Abu Ubaidah bin al-Jarrah kembali menjadi sorotan sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah Islam karena keteladanan kepemimpinannya yang jujur, sederhana, dan penuh tanggung jawab. Sosok sahabat Nabi Muhammad SAW ini dikenal sebagai panglima besar yang memimpin pembebasan wilayah Syam—meliputi Suriah, Palestina, Lebanon, dan Yordania—dengan pendekatan humanis dan perlindungan terhadap warga sipil. Selain itu, ia menyandang gelar kehormatan “Aminul Ummah” atau Kepercayaan Umat yang diberikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Kajian mengenai keteladanan Abu Ubaidah kembali diulas pada Selasa (20/1/2026) berdasarkan rujukan dari Dar al-Ifta Mesir, riset Universitas Al-Azhar, serta literatur sirah klasik.
Kiprah Abu Ubaidah tidak hanya tercatat dalam keberhasilan militer, tetapi juga dalam konsistensi menjaga nilai moral dan etika kepemimpinan. Ia menjadi contoh bahwa kekuasaan dapat berjalan seiring dengan kesederhanaan dan kasih sayang terhadap sesama.
Profil dan Gelar “Aminul Ummah”
Abu Ubaidah bin al-Jarrah memiliki nama asli Amir bin Abdullah bin al-Jarrah. Ia termasuk generasi awal yang memeluk Islam setelah mendapatkan ajakan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sejak awal masuk Islam, ia dikenal memiliki keteguhan iman yang kuat serta integritas yang tidak mudah tergoyahkan.
Dalam perjalanan hidupnya, Abu Ubaidah pernah menghadapi ujian berat yang menuntut pilihan antara ikatan keluarga dan ketaatan kepada agama. Sikapnya yang tegas dalam mempertahankan prinsip keimanan semakin memperkuat reputasinya sebagai pribadi yang dapat dipercaya.
Gelar “Aminul Ummah” diberikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan atas sifat amanah dan kejujuran Abu Ubaidah. Melansir Lembaga Fatwa Mesir (Dar al-Ifta), Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan bagi umat Islam, sosok tersebut adalah Abu Ubaidah. “Setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah,” demikian makna sabda Nabi sebagaimana dikutip Dar al-Ifta.
Gelar tersebut bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan cerminan dari konsistensi Abu Ubaidah dalam mengelola urusan penting negara, termasuk keuangan dan informasi strategis. Meski memegang jabatan tinggi, ia tetap hidup sederhana dan menjauhi kemewahan.
Kepemimpinan yang Rendah Hati dan Tidak Haus Kekuasaan
Dalam keseharian, Abu Ubaidah dikenal sangat rendah hati dan tidak menunjukkan ambisi kekuasaan. Ia lebih menempatkan amanah sebagai tanggung jawab moral daripada sebagai sarana memperoleh kehormatan pribadi.
Kesederhanaan itu tercermin dari gaya hidupnya yang apa adanya. Ia tidak memanfaatkan posisi strategis untuk menumpuk kekayaan atau fasilitas berlebihan. Sikap tersebut membuatnya dicintai oleh sesama sahabat dan dihormati oleh masyarakat di wilayah yang dipimpinnya.
Keteladanan ini menjadi salah satu alasan mengapa kepemimpinan Abu Ubaidah sering dijadikan rujukan tentang bagaimana seorang pejabat publik seharusnya bersikap: mengutamakan kepentingan umat, menjunjung kejujuran, serta menjaga integritas dalam setiap keputusan.
Keberanian dan Pengorbanan di Medan Perang
Di medan pertempuran, Abu Ubaidah dikenal sebagai sosok yang selalu berada di garis depan. Ia tidak hanya memimpin dari belakang, tetapi turut merasakan langsung risiko dan kesulitan yang dihadapi pasukannya.
Salah satu peristiwa yang paling dikenang terjadi pada Perang Uhud. Dalam situasi genting, ketika cincin besi menancap di pipi Nabi Muhammad SAW, Abu Ubaidah dengan berani mencabutnya menggunakan giginya sendiri hingga giginya tanggal. Tindakan ini menjadi simbol pengorbanan dan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah.
Keberanian tersebut tidak berhenti pada satu peristiwa. Sepanjang perjalanan militernya, Abu Ubaidah dikenal konsisten menjaga keselamatan pasukan dan menjunjung etika perang.
Panglima Besar Penakluk Wilayah Syam
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Abu Ubaidah mendapat amanah besar sebagai panglima tertinggi pasukan Islam di wilayah Syam pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ia menggantikan Khalid bin Walid tanpa adanya konflik atau persaingan pribadi.
Pergantian kepemimpinan itu justru memperlihatkan kedewasaan sikap Abu Ubaidah. Ia mampu bekerja sama secara harmonis dengan Khalid bin Walid demi menjaga stabilitas dan efektivitas pasukan.
Melansir riset sejarah Universitas Al-Azhar, gaya kepemimpinan Abu Ubaidah dinilai sangat manusiawi. Saat membebaskan kota-kota besar seperti Damaskus dan Yerusalem, ia memastikan agar tidak ada warga sipil yang disakiti dan rumah ibadah tetap dilindungi. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan militer dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.
Kedekatan dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab
Hubungan Abu Ubaidah dengan para Khulafaur Rasyidin terjalin sangat erat. Saat proses penentuan pemimpin setelah wafatnya Nabi, namanya sempat diusulkan sebagai khalifah. Namun, ia dengan rendah hati menolak dan memilih mendukung Abu Bakar Ash-Shiddiq demi menjaga persatuan umat.
Kedekatannya dengan Umar bin Khattab juga menjadi catatan penting dalam sejarah. Umar menaruh kepercayaan besar kepada Abu Ubaidah dan menyebutnya sebagai salah satu figur paling layak memimpin umat.
Mengutip dokumentasi sejarah di Islamweb, Umar pernah mengunjungi rumah Abu Ubaidah di wilayah Syam dan menangis melihat kondisi rumah yang sangat sederhana. Di rumah panglima besar itu hanya terdapat pedang, perisai, dan pelana kuda. Kesederhanaan tersebut memperkuat citra Abu Ubaidah sebagai pemimpin yang konsisten antara perkataan dan perbuatan.
Loyalitas terhadap Kepemimpinan dan Ketelitian dalam Tugas
Sebagai panglima wilayah, Abu Ubaidah dikenal sangat setia terhadap instruksi pemimpin pusat di Madinah. Ia menjalankan setiap amanah dengan teliti dan penuh tanggung jawab.
Namun, loyalitas tersebut tidak menghilangkan sikap kritis yang konstruktif. Ia tetap berani memberikan masukan apabila menemukan kebijakan yang menurutnya perlu disempurnakan. Sinergi antara kepemimpinan pusat dan daerah inilah yang memperkuat fondasi pemerintahan Islam pada masa awal perkembangannya.
Wafat Saat Bertugas di Tengah Wabah Amwas
Perjalanan hidup Abu Ubaidah berakhir ketika wabah penyakit menular yang dikenal sebagai Wabah Amwas melanda wilayah Syam pada tahun 639 Masehi atau 18 Hijriah. Dalam situasi tersebut, Khalifah Umar bin Khattab sempat memintanya kembali ke Madinah demi keselamatan pribadi.
Namun, Abu Ubaidah menolak permintaan tersebut. Ia merasa tidak pantas menyelamatkan diri sementara pasukannya menghadapi risiko besar akibat wabah. Keputusan ini kembali menegaskan komitmennya terhadap amanah dan solidaritas.
Pesan Terakhir dan Warisan Keteladanan
Mengacu pada catatan Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisham, menjelang wafat Abu Ubaidah sempat menyampaikan pesan kepada umat Islam agar senantiasa menjaga shalat, memperbanyak sedekah, serta saling menasihati dalam kebaikan.
Wafatnya Abu Ubaidah menjadi duka mendalam bagi umat Islam karena kehilangan sosok pemimpin yang bersih hati dan konsisten dalam prinsip. Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai simbol kepemimpinan yang berakhlak mulia, amanah, dan mengutamakan kemaslahatan umat.
Warisan terbesar Abu Ubaidah bukanlah kekayaan atau luasnya wilayah kekuasaan, melainkan nilai kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab moral yang terus relevan dalam praktik kepemimpinan di berbagai bidang.





















