Headline.co.id, Jakarta ~ Seni suara menjadi media penting dalam penyebaran Islam di Nusantara karena mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Lagu Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim menunjukkan bagaimana dakwah dikemas melalui lantunan bernuansa budaya, sejarah, dan nilai keislaman yang sederhana namun bermakna. Warisan ini terus dilestarikan hingga kini dalam berbagai kegiatan keagamaan dan edukasi, sebagaimana dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (20/1/2026). Melalui syair yang mudah diingat, pesan moral disampaikan secara efektif kepada generasi lintas usia.
Lagu ini mengangkat sosok Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik sebagai pelopor dakwah Islam di Jawa, sekaligus memperkenalkan peran Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam secara damai dan adaptif terhadap budaya lokal. Melalui pendekatan seni, dakwah menjadi lebih inklusif dan menyentuh sisi emosional masyarakat, sehingga nilai-nilai ajaran lebih mudah dipahami dan diamalkan.
Dalam penggalan sholawatnya, lagu ini memuat pujian kepada Rasulullah SAW sebagai teladan utama umat Islam. Lirik “Ya Rasulallah Salamun Alaik, Ya Rafiassyani Waddaroji, Ya Uhailaljuudi Walkaromii” menggambarkan kemuliaan, kasih sayang, dan kedermawanan Nabi Muhammad SAW. Makna tersebut menumbuhkan rasa cinta dan penghormatan umat kepada Rasulullah.
Bagian selanjutnya mengenalkan satu per satu Walisongo, mulai dari Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus, hingga Sunan Gunung Jati. Masing-masing Sunan digambarkan memiliki metode dakwah yang berbeda, seperti melalui perdagangan, falsafah hidup, seni tembang, musik gamelan, wayang, hingga nilai toleransi dan kebijakan sosial. Keragaman pendekatan ini mencerminkan strategi dakwah yang bijak dan kontekstual dengan budaya masyarakat Jawa.
Makna utama lagu ini terletak pada pesan moral “eling saklawase”, yakni ajakan untuk selalu mengingat nilai kebaikan, ajaran agama, serta keteladanan para ulama dalam kehidupan sehari-hari. Lagu ini tidak hanya menjadi hiburan religi, tetapi juga sarana edukasi spiritual yang mengajarkan toleransi, kebijaksanaan, dan kecintaan terhadap tradisi.
Pencipta lagu “Walisongo – Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim” diketahui adalah Gus Ahans Mahabie, pengasuh Pondok Pesantren Hanacaraka Wonogiri. Lagu tersebut mengisahkan perjalanan dakwah Maulana Malik Ibrahim sebagai pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa serta memperkenalkan Walisongo beserta metode dakwah mereka yang humanis dan damai.
Selain aspek lirik, lagu ini juga populer dimainkan dengan iringan gitar menggunakan tempo sedang, baik dengan teknik petikan maupun strumming ringan. Struktur chord yang sederhana membuat lagu ini mudah dipelajari oleh masyarakat umum, sehingga semakin memperluas penyebarannya di berbagai kegiatan keagamaan, pengajian, hingga pendidikan pesantren.
Dalam konteks sejarah budaya, tembang dolanan yang dikaitkan dengan Sunan Giri, seperti Cublak-Cublak Suweng, Padhang Bulan, dan Gambang Suling, juga menjadi bagian dari pendekatan dakwah berbasis seni. Tembang tersebut mengandung nilai filosofis tentang pencarian kebenaran, kebersihan hati, dan makna kebahagiaan sejati yang tidak semata bersifat material.
Secara keseluruhan, lagu Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim menjadi bukti bahwa seni suara memiliki peran strategis dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman secara santun dan berkelanjutan. Warisan ini tetap relevan hingga kini karena mampu menjembatani pesan agama dengan budaya lokal, sekaligus memperkuat identitas spiritual masyarakat.
Sebagaimana dirangkum Liputan6.com, nilai luhur dalam lagu ini tidak hanya mengingatkan jasa Maulana Malik Ibrahim dan Walisongo, tetapi juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga akhlak, toleransi, serta semangat persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.





















