Headline.co.id, Jogja ~ Berdasarkan laporan World Risk Report 2023, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara paling rawan bencana di dunia, tepat di bawah Filipina. Meskipun risiko bencana tinggi, kapasitas kesiapsiagaan di Indonesia dinilai belum memadai. Hal ini terlihat dari dampak besar yang ditimbulkan oleh bencana di berbagai wilayah. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengubah pendekatan dari sekadar tanggap bencana menjadi kesiapsiagaan aktif.
Prof. Djati Mardiatno, Guru Besar Kebencanaan dan Staf Ahli Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, menyatakan bahwa perhatian pemerintah terhadap penguatan kesiapsiagaan bencana belakangan ini menurun. Hal ini tercermin dari alokasi anggaran mitigasi bencana yang lebih kecil dibandingkan anggaran darurat bencana. Padahal, investasi dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana dapat mengurangi dampak bencana. “Investasi untuk mitigasi dan kesiapsiagaan bencana akan mengurangi dampak dari kejadian bencana,” ujarnya pada Kamis (15/1).
Djati menekankan pentingnya masyarakat meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana. Upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas harus didukung oleh pemerintah dengan menyediakan fasilitas pendukung. “Multiple helix dalam penanganan bencana itu penting karena masalah bencana menjadi urusan bersama,” tambahnya.
Ia juga menyoroti perlunya penyempurnaan Undang-Undang No.24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana berdasarkan pengalaman dari kejadian sebelumnya. Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) dari peraturan tersebut memerlukan penguatan, karena beberapa daerah menganggap peraturan ini belum strategis. “Penguatan peran lembaga BNPB perlu dikuatkan karena merupakan lembaga strategis dalam penanggulangan bencana,” tegasnya.
Djati menambahkan bahwa bencana alam hidrometeorologis akibat pengaruh iklim masih menjadi ancaman besar bagi Indonesia. Oleh karena itu, upaya mitigasi harus diperkuat agar dampaknya tidak terlalu besar, tanpa mengabaikan mitigasi bencana lainnya seperti gempa bumi. Keterlibatan masyarakat dan akademisi dalam penanggulangan bencana juga perlu ditingkatkan. “Peran masyarakat, akademisi perlu diperbanyak diintensifkan keterlibatannya dalam penanggulangan bencana,” pungkasnya.



















