Headline.co.id, Jakarta ~ Bulan Sya’ban menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah sekaligus melunasi kewajiban puasa Ramadan yang tertunda. Banyak muslim memanfaatkan bulan ini untuk berpuasa sunnah, sementara sebagian lainnya masih memiliki tanggungan qadha Ramadan. Para ulama menegaskan bahwa penggabungan niat puasa Sya’ban dan qadha Ramadan diperbolehkan secara syar’i dan tetap bernilai pahala ganda. Ketentuan ini didasarkan pada dalil hadits, pendapat ulama madzhab, serta praktik ibadah yang telah lama berkembang di tengah masyarakat.
Puasa sunnah di bulan Sya’ban dianjurkan karena Rasulullah Muhammad SAW memperbanyak ibadah puasa pada bulan tersebut sebagai persiapan menyambut Ramadan. Hal ini sekaligus menjadi solusi bagi umat Islam yang ingin menunaikan kewajiban qadha tanpa kehilangan keutamaan puasa sunnah.
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya’ban,” kata Aisyah RA dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
Kronologi dan Latar Belakang Hukum
Pertanyaan mengenai boleh tidaknya menggabungkan niat puasa Sya’ban dan qadha Ramadan sering muncul menjelang Ramadan. Banyak umat Islam memiliki sisa kewajiban puasa akibat sakit, bepergian, atau uzur syar’i pada Ramadan sebelumnya, namun tetap ingin mengejar keutamaan ibadah sunnah.
Mayoritas ulama dari madzhab Syafi’i memperbolehkan penggabungan niat puasa wajib dan sunnah, selama niat tersebut dilakukan dengan benar dan ikhlas. Dalam kitab Fathul Mu’in, Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan bahwa satu niat dapat mencakup dua jenis ibadah apabila tujuan keduanya tidak saling bertentangan.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Syekh Abu Bakar bin Syatha dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin, yang menukil pandangan Syekh al-Kurdi, al-Khatib asy-Syarbini, dan Sulaiman al-Jamal. Mereka menyebutkan bahwa puasa pada hari-hari yang dianjurkan tetap memperoleh keutamaan, meskipun niat utamanya adalah puasa lain.
“Berpuasa pada hari-hari yang sangat dianjurkan otomatis tertuju pada keutamaan hari tersebut, bahkan jika seseorang berniat dengan niat puasa lain, maka tetap diperoleh keutamaan keduanya,” tulis para ulama tersebut dalam penjelasannya.
Dalam kitab Al-I’ab, Syekh al-Barizi juga menegaskan bahwa seseorang yang berpuasa qadha pada hari yang dianjurkan tetap mendapatkan pahala ganda, baik disertai niat sunnah maupun tidak.
“Apabila seseorang berpuasa qadha di hari-hari yang dianjurkan berpuasa, maka pahala keduanya bisa didapat, baik disertai niat puasa sunnah atau tidak,” tulis Syekh al-Barizi.
Tata Cara dan Bacaan Niat
Bagi umat Islam yang ingin menggabungkan niat puasa Sya’ban dan qadha Ramadan, berikut bacaan niat yang dianjurkan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ شَهْرِ شَعْبَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: “Saya berniat berpuasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa di bulan Ramadan dan melaksanakan puasa sunnah di bulan Sya’ban karena Allah Ta’ala.”
Sementara itu, bagi yang hanya ingin mengqadha puasa Ramadan tanpa menggabungkannya dengan puasa sunnah, niatnya sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: “Saya berniat berpuasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa Ramadan karena Allah Ta’ala.”
Kedua niat tersebut dinyatakan sah menurut syariat, menyesuaikan tujuan dan kebutuhan masing-masing individu.
Waktu Niat dan Teknis Pelaksanaan
Untuk puasa wajib seperti qadha Ramadan, niat harus dilakukan sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar. Sementara untuk puasa sunnah, niat masih dapat dilakukan hingga sebelum zawal atau sebelum tengah hari, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Dengan ketentuan ini, umat Islam diharapkan dapat lebih tertib dalam menunaikan kewajiban sekaligus memaksimalkan pahala sunnah di bulan Sya’ban.
Hikmah dan Keutamaan Puasa Sya’ban
Bulan Sya’ban dipandang sebagai masa transisi spiritual sebelum Ramadan. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa amal manusia diangkat kepada Allah SWT pada bulan ini. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menuliskan bahwa Rasulullah SAW memperbanyak puasa agar amalnya diangkat dalam keadaan beribadah.
Penggabungan niat qadha dan puasa sunnah dinilai memberi manfaat ganda, yakni melunasi kewajiban sekaligus memperbanyak amal. Praktik ini juga melatih kedisiplinan, keikhlasan, serta kesiapan fisik dan mental dalam menyambut Ramadan.
Penegasan Akhir
Dengan dasar dalil hadits dan pendapat para ulama, penggabungan niat puasa Sya’ban dan qadha Ramadan dinyatakan sah serta berpahala ganda. Umat Islam dianjurkan memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki kualitas ibadah sekaligus menyelesaikan tanggungan puasa. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, memperbanyak amal di bulan Sya’ban menjadi bekal spiritual yang kuat menuju datangnya Ramadan.





















