Headline.co.id, Jakarta ~ Bulan Sya’ban 1447 Hijriah akan dimulai pada Selasa, 20 Januari 2026, berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Kementerian Agama dan Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa sunnah sebagaimana dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW sebagai persiapan spiritual menjelang Ramadan yang diperkirakan mulai 18 Februari 2026 (Muhammadiyah) atau 19 Februari 2026 (Kemenag). Anjuran tersebut bersumber dari sejumlah hadis sahih yang menegaskan bahwa Nabi SAW lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban dibandingkan bulan lainnya selain Ramadan. Praktik ini bertujuan memperkuat kesiapan ibadah dan meningkatkan kualitas amal sebelum memasuki bulan suci.
Bulan Sya’ban berada di antara Rajab dan Ramadan dengan durasi 29 atau 30 hari, tergantung hasil rukyat dan hisab. Perbedaan metode penetapan awal Ramadan menjadi faktor perbedaan prediksi awal puasa di Indonesia.
Dalil Rasulullah SAW Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
Kebiasaan Nabi Muhammad SAW memperbanyak puasa di bulan Sya’ban ditegaskan dalam hadis riwayat Sayyidah ‘Aisyah RA:
فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ اِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ اَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ
Artinya: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW melaksanakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan, dan tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa dalam satu bulan selain bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengisi sebagian besar hari di bulan Sya’ban dengan puasa sunnah meskipun tidak berpuasa penuh satu bulan.
Hadis Tentang Banyaknya Puasa Nabi di Bulan Sya’ban
Riwayat lain dari Sayyidah ‘Aisyah RA yang diriwayatkan Muslim menyebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ، وَمَا رَأَيْتُهُ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Artinya: “Rasulullah SAW sering berpuasa hingga kami mengira beliau tidak berbuka, dan sering berbuka hingga kami mengira beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan, dan tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.” (Muttafaq ‘Alaih).
Hadis lain juga menyebutkan:
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: “Rasulullah SAW sering berpuasa Sya’ban seluruhnya, atau berpuasa Sya’ban kecuali sedikit.” (HR. Muslim).
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa makna “seluruhnya” adalah mayoritas hari di bulan Sya’ban, bukan satu bulan penuh.
Hadis Tambahan tentang Kesinambungan Puasa Sya’ban dan Ramadan
Hadis dari Ummu Salamah RA menyatakan:
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ
Artinya: “Saya tidak pernah melihat Nabi SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali Sya’ban dan Ramadan.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi).
Hadis ini menegaskan bahwa puasa Sya’ban menjadi rangkaian persiapan spiritual menuju Ramadan.
Larangan Puasa Menjelang Ramadan
Meski dianjurkan memperbanyak puasa, Rasulullah SAW melarang puasa satu atau dua hari menjelang Ramadan, kecuali bagi yang terbiasa puasa sunnah. Dalilnya:
لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
Artinya: “Jangan kalian mendahului Ramadan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali seseorang yang memang memiliki kebiasaan puasa, maka ia boleh melakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadwal Puasa Sya’ban 2026
Berdasarkan kalender Hijriah 1447 H, puasa sunnah Sya’ban dapat dilakukan pada hari Senin dan Kamis, di antaranya 22 Januari, 26 Januari, 29 Januari, 2 Februari, 5 Februari, 9 Februari, 12 Februari, dan 16 Februari 2026.
Puasa Ayyamul Bidh (13–15 Sya’ban) jatuh pada 1–3 Februari 2026, sekaligus bertepatan dengan puasa Nisfu Sya’ban pada Selasa, 3 Februari 2026, dengan malam Nisfu Sya’ban dimulai sejak Magrib pada Senin, 2 Februari 2026.
Amalan Lain yang Dianjurkan di Bulan Sya’ban
Selain puasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, zikir, istighfar, sedekah, serta mengqadha puasa Ramadan sebelumnya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal kepada Allah SWT.
Dengan demikian, puasa Sya’ban tidak dibatasi jumlah hari tertentu, namun dianjurkan dilakukan sebanyak mungkin tanpa melanggar larangan menjelang Ramadan. Penegasan Sayyidah ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa penuh selain Ramadan menjadi pedoman utama dalam mengamalkan ibadah di bulan Sya’ban sebagai persiapan menyambut bulan suci.




















