Headline.co.id, Jakarta ~ Bulan Syaban 1447 Hijriah diperkirakan dimulai pada Selasa, 20 Januari 2026, berdasarkan kalender resmi Kementerian Agama (Kemenag) serta prediksi organisasi keagamaan. Penetapan awal Syaban ini merujuk pada hasil hisab dan rukyat hilal yang dilakukan setelah Matahari terbenam pada Senin, 19 Januari 2026. Informasi ini diperkuat oleh prakiraan hilal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepastian awal Syaban menjadi penting karena bulan ini merupakan pengantar menuju Ramadhan dan memiliki sejumlah keutamaan ibadah.
BMKG mencatat bahwa secara astronomis konjungsi atau ijtimak terjadi pada Ahad, 18 Januari 2026 pukul 19.51.60 UT atau Senin, 19 Januari 2026 pukul 02.51.59 WIB. Dengan waktu Matahari terbenam paling awal di Jayapura pada pukul 17.55.12 WIT dan paling akhir di Calang, Aceh pada pukul 18.45.05 WIB, konjungsi dinyatakan telah terjadi sebelum Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia.
Berdasarkan perhitungan tersebut, pelaksanaan rukyat hilal penentu awal Syaban 1447 H dilakukan setelah Matahari terbenam pada 19 Januari 2026. Bagi pihak yang menggunakan metode hisab, kriteria posisi hilal juga menjadi acuan utama dalam penetapan awal bulan Hijriah.
BMKG merinci sejumlah parameter astronomis pada saat Matahari terbenam 19 Januari 2026. Ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara 5,2 derajat di Jayapura, Papua hingga 6,42 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat. Elongasi geosentris tercatat antara 6,9 derajat di Jayapura hingga 8,12 derajat di Calang, Aceh. Sementara umur Bulan berkisar antara 13,05 jam di Jayapura hingga 15,88 jam di Calang.
Adapun lag atau selisih waktu terbenam Bulan setelah Matahari terbenam berada pada rentang 26,1 menit di Jayapura hingga 31,5 menit di Tua Pejat. Fraksi iluminasi Bulan diperkirakan antara 0,27 persen di Jayapura hingga 0,4 persen di Banda Aceh. Pada waktu yang sama, terdapat objek astronomis Venus dengan jarak sudut kurang dari 10 derajat dari Bulan.
Sementara itu, penetapan 1 Syaban 1447 H versi pemerintah merujuk pada Kalender Hijriah 1447 H/2026 yang diterbitkan Kemenag, yakni jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Prediksi tersebut sejalan dengan perhitungan Nahdlatul Ulama melalui Almanak Tahun 2026 Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Bojonegoro.
“Posisi hilal belum memenuhi kriteria imkanurrukyah sehingga 1 Syaban 1447 H diprediksi jatuh pada Selasa Pahing, 20 Januari 2026,” demikian keterangan dari Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro.
Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) juga menetapkan awal Syaban 1447 H pada tanggal yang sama, yakni Selasa, 20 Januari 2026. Dengan demikian, terdapat kesamaan penetapan awal bulan Syaban antara pemerintah, NU, dan Muhammadiyah.
Meski demikian, terdapat perbedaan prediksi mengenai lamanya bulan Syaban. Pemerintah dan NU memperkirakan Syaban berlangsung selama 30 hari dan berakhir pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara Muhammadiyah memprediksi Syaban berlangsung 29 hari dan berakhir pada Selasa, 17 Februari 2026.
Bulan Syaban dikenal memiliki keutamaan dalam Islam. Salah satunya adalah sebagai bulan diangkatnya amal manusia. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa beliau memperbanyak puasa di bulan Syaban karena pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Allah SWT.
“Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang, yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu diangkat amal-amal kepada Allah Tuhan Semesta Alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa,” demikian sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid.
Keutamaan lain terletak pada malam Nisfu Syaban. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Ibnu Hibban, disebutkan bahwa Allah SWT memberikan ampunan yang sangat luas kepada hamba-Nya pada malam pertengahan Syaban. Rasulullah SAW bersabda bahwa pengampunan yang diberikan lebih banyak dari jumlah bulu domba Bani Kilab.
Selain itu, Syaban juga menjadi bulan kegemaran Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan puasa sunnah. Aisyah RA dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim menuturkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa lebih banyak di luar Ramadhan selain pada bulan Syaban.
Pada bulan ini pula umat Islam dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Ahzab ayat 56. Syaban juga dipandang sebagai bulan persiapan menuju Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, puasa, dan membaca Al-Qur’an.
Sebagaimana dinukil dari Abu Bakr al-Balkhi rahimahullah, Rajab diibaratkan sebagai bulan menanam, Syaban sebagai bulan menyiram tanaman, dan Ramadhan sebagai bulan memanen hasil. Pemahaman ini menjadi pengingat agar umat Islam mempersiapkan diri secara spiritual sejak memasuki bulan Syaban.





















