Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menekankan pentingnya menciptakan ekosistem digital yang aman dan sehat untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan sebagai womenpreneur. Hal ini disampaikan Meutya dalam acara She-Connects bertema “Perempuan Terkoneksi Penggerak Ekonomi Negeri” di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, pada Kamis (15/1/2026).
Meutya Hafid mengungkapkan bahwa banyak perempuan masih ragu untuk terjun ke dunia digital karena kekhawatiran terhadap penipuan, kejahatan siber, dan risiko keamanan lainnya. “Rata-rata perempuan yang belum confident masuk ke ranah digital karena merasa bahwa ranah digital itu tidak aman. Banyak penipuan, takut ditipu, takut ribet. Padahal risikonya sekarang sudah semakin bisa kita kecilkan,” ujar Meutya.
Menurut Meutya, regulasi pemerintah, termasuk kebijakan perlindungan anak di ruang digital, berperan penting dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih ramah bagi perempuan. “Ketika ekosistemnya lebih sehat, saya yakin lebih banyak perempuan yang bisa lebih confident untuk masuk,” katanya.
Menkomdigi juga menegaskan bahwa menciptakan ruang digital yang aman bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan peran aktif keluarga, terutama para ibu, dalam mengawasi anak-anak. “Pemerintah membuat aturannya, tapi tetap anak-anaknya ada di ibu-ibunya. Pelaksanaan ini berhasil atau tidak sangat tergantung kepada orang tua di rumah,” jelasnya.
Meutya menggambarkan ruang digital seperti lingkungan bermain anak yang tampak indah namun berpotensi bahaya jika tidak diawasi. “Kita tidak mungkin membiarkan anak bermain sendiri di hutan yang indah, karena di hutan itu bisa saja ada ular. Begitu juga di ruang digital,” ungkapnya.
Menkomdigi menekankan bahwa pembatasan akun bagi anak tidak berarti melarang anak belajar digital, selama tetap didampingi orang tua. “Yang dilarang adalah anak membuat akun sendiri. Kalau belajar lewat platform edukasi dan didampingi ibunya, itu tidak masalah,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa langkah Indonesia dalam memperkuat perlindungan anak di ruang digital sejalan dengan kebijakan berbagai negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara Eropa. Menkomdigi optimistis bahwa jika kejahatan digital seperti penipuan, pornografi, judi online, dan perdagangan manusia dapat ditekan, maka ruang bagi UMKM digital akan semakin luas. “Digital itu seperti rumah besar. Kalau isinya hal-hal negatif, UMKM harus berbagi ruang dengan itu semua. Tapi kalau yang buruk-buruk kita bersihkan, maka ruang untuk UMKM digital tumbuh menjadi lebih besar,” tukas Meutya Hafid.



















