Headline.co.id, Jakarta ~ Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa 99 persen pengelolaan keuangan rumah tangga melibatkan perempuan, terutama ibu, baik sebagai pengambil keputusan utama maupun bersama pasangan. Hal ini disampaikan oleh Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Cecep Setiawan, yang menyoroti peran ibu sebagai manajer keuangan keluarga sehari-hari. Ibu bertanggung jawab atas kegiatan seperti menabung, membayar tagihan, dan mengatur belanja harian. Meskipun keputusan besar seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dibahas bersama pasangan, aliran kas harian tetap berada di bawah kendali ibu.
Cecep menyampaikan hal tersebut dalam seminar bertajuk “Waspada Investasi dan Pinjaman Online Ilegal serta Kejahatan Digital bagi Perempuan” yang diadakan di Jakarta. Ia menambahkan bahwa ibu juga berperan sebagai pendidik finansial pertama bagi anak-anaknya. Kebiasaan menabung, perencanaan belanja, dan sikap terhadap uang banyak ditiru anak dari sang ibu. Namun, survei literasi keuangan terbaru pada tahun 2025 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan perempuan masih lebih rendah dibandingkan laki-laki.
OJK menekankan empat pilar untuk membangun ketahanan finansial keluarga, yaitu mengelola keuangan harian dengan membayar tagihan tepat waktu, menabung rutin, dan mengelola utang dengan bijak. Pilar kedua adalah membangun ketahanan dengan menyiapkan dana darurat dan memiliki perlindungan asuransi. Pilar ketiga adalah merencanakan masa depan dengan mempersiapkan dana pensiun dan kebutuhan hari tua. Pilar keempat adalah berinvestasi dengan cerdas, yaitu berinvestasi secara aman, percaya diri, dan waspada terhadap penipuan.
Di era digital, kejahatan finansial seperti investasi bodong dan pinjaman online ilegal semakin marak. OJK mengingatkan masyarakat untuk menghindari tawaran yang tidak legal dan tidak logis. Cecep menekankan pentingnya prinsip sederhana dalam menghadapi tawaran tersebut. Ibu juga diajak untuk menerapkan pengeluaran yang bertanggung jawab, yaitu berbelanja secara sadar dengan memahami bahwa setiap pengeluaran hari ini adalah pengorbanan atas kebutuhan masa depan.
Penguatan literasi keuangan bagi ibu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga merupakan investasi untuk memutus mata rantai ketidaktahanan finansial lintas generasi. Dengan menguatkan peran strategis ibu sebagai manajer keuangan dan garda terdepan literasi keuangan keluarga, diharapkan tercipta generasi yang tidak hanya mandiri, tetapi juga mampu berkembang dan berkontribusi bagi bangsa.






















