Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong rumah ibadah agar tidak hanya digunakan untuk kegiatan ritual, tetapi juga menjadi ruang pelayanan sosial bagi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan saat perayaan HUT ke-78 GPIB dan HUT ke-331 Gedung Gereja Sion Jakarta, Sabtu (7/11/2026). Menag menilai penguatan peran rumah ibadah diperlukan agar nilai-nilai keagamaan hadir dalam kehidupan sosial dan dapat dirasakan masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama. Ia menyampaikan gagasan itu melalui pengembangan pelayanan kemanusiaan, pembaruan cara menyampaikan pesan agama, serta perawatan warisan sejarah rumah ibadah.
“Masjid itu meeting point umat dengan Tuhannya. Karena itu, rumah ibadah jangan hanya menjadi tempat untuk beribadah, tetapi juga harus menjadi rumah besar bagi kemanusiaan,” ujar Menag dalam sambutannya.
Dalam acara tersebut, Nasaruddin didampingi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Jeane Marie Tulung dan Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kerjasama Luar Negeri, Kerukunan, Pelayanan Agama, dan Pengawasan Gugun Gumilar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Rumah ibadah perlu dekat dengan generasi muda
Menag mengatakan rumah ibadah menghadapi tantangan untuk tetap dekat dengan generasi muda. Menurut dia, pesan-pesan keagamaan perlu disampaikan dengan pendekatan yang dapat dipahami generasi masa kini, tanpa menghilangkan substansi ajaran agama.
Ia menekankan pentingnya kemampuan mengartikulasikan teks-teks suci ke dalam bahasa yang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal itu dinilai penting agar generasi muda dapat memahami kitab suci secara utuh.
“Bagaimana secara hermeneutik bisa mengartikulasikan teks-teks suci kita itu ke dalam sebuah bahasa yang bisa dicerna oleh generasi kita. Saya khawatir kalau kita gagal memberikan penjelasan yang komprehensif, itu tidak bisa membaca kitab suci ini secara utuh,” ungkap Menag.
Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kata dia, menjadi tantangan sekaligus ruang bagi para pemuka agama untuk menghadirkan pendekatan yang lebih kontekstual. Dengan cara penyampaian yang dapat dicerna generasi muda, agama diharapkan tetap hadir sebagai pedoman dalam kehidupan mereka.
Gereja Sion berpotensi menjadi wisata spiritual
Dalam perayaan tersebut, Menag juga menyoroti nilai sejarah Gedung Gereja Sion yang telah berusia 331 tahun. Ia menyebut gereja bersejarah itu berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata spiritual karena memiliki kekayaan sejarah, makam tokoh-tokoh penting, serta benda-benda antik.
Menurut Menag, perawatan terhadap Gereja Sion dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh sejarah kehidupan keagamaan di Indonesia. Gereja tersebut tidak hanya memiliki arti bagi jemaat, tetapi juga menyimpan daya tarik bagi masyarakat yang ingin mempelajari warisan sejarahnya.
“Ini kalau dirawat, Bapak-Ibu sekalian, ini bisa menjadi wisata rohani atau wisata spiritual. Selain umat yang beribadah di sini, orang lain juga bisa melihat bahwa di sini ada makam-makam bersejarah, ini gereja 330 tahun,” ungkap Menag.
Ia mendorong agar warisan sejarah di Gereja Sion dirawat dengan baik sehingga dapat terus dinikmati dan dipelajari masyarakat. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengembangan rumah ibadah sebagai ruang yang memiliki manfaat spiritual, sosial, dan sejarah.
Rumah ibadah didorong membuka layanan sosial
Selain fungsi keagamaan dan sejarah, Menag mengajak rumah ibadah memperluas kontribusinya melalui pelayanan sosial. Ia mencontohkan pemanfaatan masjid sebagai tempat singgah bagi masyarakat yang melakukan perjalanan saat libur Natal.
Fasilitas rumah ibadah, menurut dia, dapat digunakan untuk membantu masyarakat beristirahat dan memenuhi kebutuhan selama perjalanan. Layanan itu lain berupa akses ke toilet dan kamar mandi, penyediaan kopi serta teh, ruang menyusui, tempat istirahat, hingga bantuan bagi pengendara yang mengalami kendala di perjalanan.
“Jadi kita minta supaya masjid itu dibuka, toiletnya, kamar mandinya. Jamaahnya di situ menyiapkan kopi, teh. Termasuk juga saya mohon gereja-gereja juga dibuka. Pada hari Natal, dibuka untuk umum,” tutur Menag.
Menag menilai pelayanan tersebut dapat membuat rumah ibadah hadir sebagai ruang yang terbuka bagi masyarakat luas. Pemanfaatan fasilitas itu diharapkan tidak dibatasi oleh perbedaan agama, melainkan diarahkan untuk menghadirkan manfaat kemanusiaan.
Ia juga mengajak seluruh elemen umat beragama menjadikan Indonesia sebagai contoh laboratorium perdamaian. Momentum HUT GPIB dan HUT Gereja Sion digunakan untuk mendorong umat merawat rumah ibadah, memperkuat nilai-nilai spiritual, serta menjadikannya ruang yang terbuka dan bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















