Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria meminta media arus utama memperkuat jurnalisme profesional di tengah meningkatnya peredaran hoaks, disinformasi, dan misinformasi di media sosial. Pesan itu disampaikan Nezar saat bertemu awak media setelah peringatan HUT ke-3 Sin Po TV di Jakarta Barat, Minggu (18/10/2026). Menurut dia, media perlu menjadi rujukan publik untuk memperoleh informasi yang telah melalui proses jurnalistik dan verifikasi. Pernyataan tersebut disampaikan karena masyarakat kini semakin banyak menerima informasi dari media sosial tanpa penyaringan yang memadai.
Dalam keterangan bertanggal Selasa, 19 Oktober 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut perkembangan teknologi telah mengubah lanskap komunikasi. Perubahan itu memungkinkan masyarakat berperan sekaligus sebagai produsen dan konsumen informasi.
Situasi tersebut membuat arus informasi bergerak semakin cepat. Namun, banyaknya informasi yang beredar tidak selalu diikuti proses pemeriksaan kebenaran. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih rentan menerima hoaks, disinformasi, dan misinformasi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Media Diminta Menjadi Rumah Penjernih Informasi
Nezar menegaskan media arus utama memiliki peran penting dalam menjaga kualitas informasi yang diterima publik. Ia mendorong Sin Po TV dan media arus utama lainnya tetap menjalankan tugas jurnalistik sesuai kode etik.
“Sin Po TV dan media-media arus utama yang lain bisa berdiri dengan tegak untuk bisa menjadi rumah penjernih informasi,” ujar Wamen Nezar saat bertemu awak media seusai peringatan HUT ke-3 Sin Po TV di Jakarta Barat.
Menurut Nezar, keberadaan media yang menjalankan jurnalisme profesional dibutuhkan untuk menjaga ekosistem informasi tetap sehat. Media tidak hanya dituntut mengikuti perubahan teknologi, tetapi juga harus mempertahankan prinsip jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Ia menjelaskan, kehadiran platform media sosial telah menjadi bagian dari lanskap komunikasi saat ini. Di ruang tersebut, setiap orang dapat menyebarkan informasi sekaligus menerima informasi dari pihak lain.
“Di tengah disrupsi teknologi media, terutama platform media sosial, yang masuk ke lanskap komunikasi kita saat ini, di mana semua orang bisa menjadi produsen informasi sekaligus juga konsumen informasi, kita tetap membutuhkan media yang menjalankan tugas-tugas jurnalistik sesuai kode etik secara profesional agar kita bisa menjaga lanskap informasi yang sehat,” jelasnya.
Masyarakat Rentan Terpapar Hoaks
Nezar menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Menurut dia, masyarakat kini lebih banyak menerima informasi melalui media sosial tanpa filter yang memadai.
Kondisi itu, kata Nezar, meningkatkan potensi masyarakat menjadi korban informasi yang tidak benar. Kerentanan tersebut mencakup hoaks, disinformasi, maupun misinformasi.
“Masyarakat lebih banyak menerima informasi dari media sosial tanpa filter sehingga kita melihat ada banyak korban hoaks, ada juga yang rentan menjadi korban disinformasi dan misinformasi,” ungkap Wamen Nezar.
Peredaran informasi tanpa verifikasi juga menjadi tantangan bagi media. Media perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebiasaan masyarakat, tetapi tetap menjaga standar jurnalistik yang profesional.
Dalam konteks itu, media arus utama diharapkan tidak meninggalkan prinsip kebenaran, akurasi, dan kepatuhan terhadap kode etik ketika memproduksi maupun menyebarkan berita. Prinsip tersebut dinilai penting agar publik tetap memiliki akses terhadap informasi yang kredibel.
Tantangan Sin Po TV dan Sin Po Media Grup
Nezar secara khusus meminta Sin Po TV dan Sin Po Media Grup membaca perubahan zaman serta perkembangan teknologi. Adaptasi tersebut, menurut dia, perlu dilakukan bersamaan dengan upaya mempertahankan komitmen terhadap jurnalisme profesional.
Ia menilai profesionalisme jurnalistik menjadi dasar bagi media untuk tetap menjalankan perannya sebagai sumber informasi bagi masyarakat di tengah disrupsi teknologi media.
“Tantangan untuk Sin Po TV dan Sin Po Media Grup adalah bagaimana bisa membaca gerak zaman ini dan gerak teknologi ini dengan tetap menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang profesional. Hidupkan terus jurnalisme yang mengedepankan kebenaran,” pungkasnya.
Pesan itu menempatkan media profesional sebagai salah satu unsur penting dalam menghadapi meningkatnya disinformasi di ruang digital. Ketika masyarakat semakin aktif menerima dan memproduksi informasi, media dituntut menjalankan fungsi penyaring serta menyajikan informasi berdasarkan prinsip jurnalistik.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















