Headline.co.id, Pekanbaru ~ Surplus perdagangan Riau mencapai USD6,97 miliar selama Januari hingga Mei 2026. Capaian itu ditopang nilai ekspor sebesar USD8,60 miliar, sementara impor tercatat USD1,63 miliar. Kinerja perdagangan tersebut menjadi salah satu indikator daya tahan perekonomian Riau di tengah konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan internasional. Komoditas kelapa sawit beserta produk turunannya disebut masih menjadi penopang utama daya saing Riau di pasar internasional.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Riau Adnan Wimbyarto menyampaikan perkembangan itu saat merilis Realisasi Fiskal Regional Riau hingga 30 Juni 2026 di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Kamis (30/7/2026). Menurut dia, perekonomian Riau tetap menunjukkan ketahanan meskipun kondisi global masih dipengaruhi konflik di Timur Tengah, khususnya Iran dan Amerika Serikat beserta sekutunya.
Surplus Perdagangan Riau Ditopang Komoditas Unggulan
Adnan mengatakan konflik geopolitik tersebut meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan mendorong fluktuasi harga minyak. Selain itu, fragmentasi perdagangan global dan kebijakan moneter negara-negara maju turut menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Namun, kondisi eksternal itu belum menghambat kinerja perdagangan Riau. Selama lima bulan pertama 2026, ekspor provinsi tersebut tercatat lebih dari lima kali lipat dibandingkan nilai impornya. Selisih ekspor dan impor itu menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar USD6,97 miliar.
“Kinerja tersebut menunjukkan bahwa komoditas unggulan Riau, khususnya kelapa sawit beserta produk turunannya, masih memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional,” jelas Adnan.
Surplus perdagangan tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Pada Triwulan I 2026, ekonomi Riau tumbuh 4,89 persen secara tahunan atau year-on-year. Pertumbuhan itu didorong oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, dan investasi yang tetap kuat.
Ekonomi Riau Tumbuh 4,89 Persen
Adnan menilai perekonomian Indonesia, termasuk Riau, masih mampu mempertahankan stabilitas di tengah tekanan global. Permintaan domestik tetap terjaga, inflasi relatif terkendali, dan sektor keuangan berada dalam kondisi stabil.
“Meskipun demikian, perekonomian Indonesia khususnya di Provinsi Riau tetap menunjukkan resiliensi yang baik. Permintaan domestik terjaga, inflasi relatif terkendali, sektor keuangan stabil, dan APBN tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujarnya.
Menurut Adnan, kinerja ekonomi Riau pada Triwulan I 2026 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan karena didukung tiga sektor utama, yakni industri pengolahan, perdagangan, dan investasi. Sektor-sektor tersebut juga berperan dalam menjaga aktivitas ekonomi daerah ketika perekonomian global menghadapi ketidakpastian.
“Perkembangan ekonomi Provinsi Riau juga menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Riau tumbuh 4,89 persen (year-on-year), didukung oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, dan investasi yang tetap kuat,” ungkapnya.
Dari sisi harga, inflasi Riau pada Juni 2026 tercatat 0,35 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 4,55 persen. Kenaikan harga terutama dipengaruhi cabai merah, minyak goreng, tomat, bensin, biaya pemeliharaan kendaraan pribadi, dan ikan patin.
“Secara umum inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Adnan.
Meski indikator perdagangan dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan kinerja positif, kesejahteraan petani yang tercermin melalui Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan. Pada Juni 2026, NTP Riau berada di angka 193,69 atau turun 6,62 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan itu dipengaruhi melemahnya harga sejumlah komoditas, yaitu kelapa sawit, kelapa, ayam ras pedaging, sapi potong, dan nanas. Kendati demikian, Riau masih menjadi provinsi dengan NTP tertinggi kedua di Sumatera setelah Bengkulu.
Adnan mengatakan kondisi tersebut mencerminkan kuatnya nilai tukar petani, terutama karena dominasi petani sawit rakyat dengan nilai komoditas yang tinggi. Adapun Nilai Tukar Nelayan (NTN) Riau relatif stabil di angka 109,02.
“Hal ini mencerminkan kuatnya nilai tukar petani terutama karena dominasi petani sawit rakyat dengan nilai komoditas yang tinggi. Sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) cukup stabil di angka 109,02,” tutup Adnan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















