Headline.co.id, Jakarta ~ – Pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga 2029 untuk meningkatkan nilai tukar dan pendapatan nelayan. Program tersebut dikembangkan dengan memperpendek rantai distribusi hasil perikanan melalui fasilitas penyimpanan, logistik, dan unit usaha perikanan. Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (5/8/2026), Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa salah satu KNMP yang siap dioperasionalkan berada di Desa Warloka, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kawasan itu diproyeksikan meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan melalui pengelolaan terpadu dari penanganan hingga distribusi.
Pembangunan KNMP dilatarbelakangi panjangnya rantai distribusi hasil perikanan yang selama ini membuat nilai jual tangkapan nelayan belum optimal. Keterbatasan fasilitas penyimpanan dan akses pasar juga menyebabkan nelayan belum mendapatkan nilai ekonomi maksimal, meskipun Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar.
Target 5.000 KNMP hingga 2029
Program Kampung Nelayan Merah Putih menjadi salah satu dari delapan klaster Program Kerja Prioritas Nasional Presiden. Pemerintah merancang KNMP bukan hanya sebagai pembangunan infrastruktur kawasan pesisir, tetapi juga sebagai ekosistem ekonomi yang menghubungkan nelayan dengan pasar secara lebih efisien.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ekosistem tersebut didukung cold chain, sarana logistik, serta berbagai unit usaha perikanan. Melalui dukungan itu, hasil tangkapan diharapkan dapat ditangani dan disimpan dengan lebih baik sebelum didistribusikan ke pasar.
Secara nasional, pemerintah menargetkan 5.000 KNMP terbangun hingga 2029. Dari target tersebut, sebanyak 1.369 kawasan ditargetkan terbangun hingga 2026.
Pembangunan tahap pertama telah rampung 100 persen di 65 lokasi yang tersebar pada 25 provinsi. Sementara itu, 35 lokasi tahap kedua ditargetkan selesai secara bertahap pada Agustus 2026.
Pemerintah juga telah menyelesaikan verifikasi terhadap 1.269 lokasi. Verifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan kawasan tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
KNMP Warloka Didukung 263 Nelayan
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah terbangun empat KNMP yang berada di Manggarai Barat, Flores Timur, Alor, dan Kupang. Keempat kawasan itu disebut siap dioperasionalkan.
Salah satu kawasan tersebut adalah KNMP Warloka di Desa Warloka, Kabupaten Manggarai Barat. Kawasan ini dikembangkan sebagai pusat aktivitas ekonomi pesisir terpadu, mulai dari penanganan hasil tangkapan, penyimpanan, distribusi, hingga peningkatan nilai tambah produk perikanan.
KNMP Warloka didukung 263 nelayan aktif dan 178 unit armada kapal. Komoditas unggulan di kawasan itu meliputi ikan tongkol, tembang, dan layang.
Kawasan tersebut diproyeksikan menghasilkan 1.038 ton per tahun. Setelah KNMP beroperasi, pendapatan nelayan diproyeksikan meningkat sekitar Rp3,5 juta per orang per bulan.
Untuk mendukung distribusi yang lebih efisien dan menjaga mutu hasil tangkapan, KNMP Warloka dilengkapi satu unit portable cold storage, satu unit pabrik es, satu unit mobil berpendingin, dan 50 unit cool box.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari sistem penanganan hasil perikanan di kawasan pesisir. Dengan dukungan penyimpanan dan transportasi berpendingin, hasil tangkapan dapat dipertahankan mutunya sebelum masuk ke proses distribusi.
Potensi Omzet Rp6,97 Miliar per Tahun
Berdasarkan analisis kelayakan usaha, KNMP Warloka berpotensi membukukan omzet Rp6,97 miliar per tahun. Kawasan tersebut juga diproyeksikan menghasilkan laba bersih Rp677,77 juta per tahun dari sepuluh unit usaha.
Kontributor omzet terbesar berasal dari unit cold storage dengan potensi Rp4,32 miliar per tahun. Berikutnya, kios perbekalan diproyeksikan menyumbang Rp2 miliar per tahun, sedangkan pabrik es berpotensi menghasilkan Rp288 juta per tahun.
Menko Pangan Zulkifli Hasan mengatakan peningkatan nilai tukar nelayan menjadi salah satu sasaran utama kebijakan tersebut. “Kebijakan presiden yang utama kita harus swasembada, nilai tukar nelayan kita diangka 103, sampai dengan 2027 kita proyeksikan nilai tukarnya meningkat menjadi 120,” kata Zulkifli.
Melalui sistem distribusi yang lebih efisien, pemerintah memproyeksikan kualitas hasil tangkapan tetap terjaga dan akses pasar semakin luas. Pengelolaan kawasan juga diharapkan meningkatkan nilai tambah produk perikanan serta mendukung pertumbuhan kesejahteraan nelayan dan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















