Headline.co.id, Buleleng ~ – Luh Rusmiati mengembangkan usaha kerajinan koran bekas di Banjar Dinas Ceblong, Desa Sudaji, Kabupaten Buleleng, Bali. Sejak 2016, ia mengolah kertas bekas menjadi berbagai produk, mulai dari keranjang, tempat pensil, nampan, tatakan gelas, hingga meja dan kursi. Melalui usaha bernama Gegaen Lima Craft, sejumlah produknya pernah dibawa ke Jepang dan Afrika setelah Rusmiati bekerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar pada 2017. Usaha tersebut dijalankan untuk menghasilkan pendapatan sekaligus membuka peluang keterlibatan masyarakat sekitar dalam pengolahan limbah kertas.
Ide usaha itu bermula ketika Rusmiati melihat tumpukan koran bekas di rumah saudaranya. Tanpa memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang kerajinan, ia mencoba mengolah koran tersebut menjadi keranjang sederhana untuk tempat air mineral.
Percobaan itu kemudian menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Pesanan mulai berdatangan dan jenis produk yang dibuat semakin beragam. Dari proses tersebut, usaha Gegaen Lima Craft mulai berkembang.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Awalnya saya melihat tumpukan koran di rumah saudara. Saya ingin membuat keranjang untuk tempat air mineral. Setelah ada saudara yang tertarik dan meminta dibuatkan, akhirnya berkembang dan ada yang meminta dibuatkan produk lain seperti bokor,” tutur Rusmiati saat ditemui di galerinya, Senin (5/10/2026).
Dari Kertas Donasi hingga Sistem Barter
Rusmiati kini mengolah berbagai jenis kertas menjadi produk anyaman dan kerajinan rumah tangga. Selain tempat pensil, nampan, tatakan gelas, dan gantungan kunci, ia juga membuat perabot berupa meja dan kursi.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, koran bekas sebagian dibeli. Sementara itu, jenis kertas lainnya banyak diperoleh dari donasi teman-temannya. Bahan yang didapatkan melalui donasi tidak selalu diberikan secara cuma-cuma karena Rusmiati menerapkan sistem barter.
Dalam sistem tersebut, para penyumbang memberikan kertas bekas, lalu Rusmiati mengembalikan sebagian hasil olahannya dalam bentuk produk kerajinan. Pola itu membuat hubungan dengan para penyedia bahan baku tetap terjaga sekaligus memberi manfaat bagi kedua pihak.
“Kalau koran biasanya saya beli. Kalau kertas-kertas lainnya banyak yang dapat dari donasi teman. Kadang saya barter, mereka memberikan kertas, kemudian saya kasih tempat pensil atau nampan kecil,” jelasnya.
Produk Dibawa ke Jepang dan Afrika
Perkembangan Gegaen Lima Craft membuka akses Rusmiati ke pasar yang lebih luas. Pada 2017, ia sempat bekerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar. Melalui kerja sama tersebut, produk seperti tatakan gelas dan nampan dibawa hingga ke Jepang dan Afrika.
Wisatawan mancanegara yang menginap di homestay di sekitar lokasi usaha juga menjadi salah satu pasar bagi produk kerajinan tersebut. Mereka membeli hasil karya Rusmiati sebagai suvenir untuk dibawa pulang ke negara masing-masing.
Rusmiati memperkirakan omzet usahanya dapat mencapai sekitar Rp5 juta per bulan. Namun, nilai tersebut bergantung pada jumlah pesanan yang diterima. Harga produk juga bervariasi sesuai jenisnya, mulai dari gantungan kunci sekitar Rp5.000 per buah hingga meja dan kursi yang dijual dalam bentuk set berdasarkan jenis dan ukuran.
Berharap Libatkan Masyarakat Sekitar
Bagi Rusmiati, pengolahan kertas bekas tidak hanya berkaitan dengan pendapatan. Ia berharap usaha tersebut terus berkembang dan dapat membuka kesempatan bagi masyarakat di sekitar Desa Sudaji untuk ikut terlibat.
“Harapannya usaha ini terus berkembang. Saya juga berharap ada orang-orang di sekitar yang mau ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini, sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi orang-orang di sekitar,” ungkapnya.
Pengembangan usaha itu mendapat dukungan pemerintah melalui kesempatan mengikuti pameran dan promosi produk lokal. Rusmiati tercatat mengikuti Lovina Festival, Buleleng Festival, serta berbagai kegiatan di tingkat kecamatan.
Menurut Rusmiati, kegiatan tersebut membantu memperkenalkan produk Gegaen Lima Craft kepada pasar yang lebih luas. Promosi melalui berbagai kegiatan itu juga menjadi salah satu cara untuk mempertemukan produk kerajinan berbahan kertas bekas dengan calon pembeli.
Dukungan Pemerintah Desa
Perbekel Desa Sudaji I Made Ngurah Fajar Kurniawan mengapresiasi kreativitas Rusmiati dan pelaku UMKM lainnya yang mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
Ia menilai pengolahan limbah kertas masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Dengan demikian, produk UMKM Desa Sudaji diharapkan tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga dapat menjangkau pasar nasional dan internasional.
“Pemerintah Desa Sudaji sangat mendukung dan mengapresiasi semangat UMKM kami. Salah satunya pengelolaan limbah kertas yang diolah menjadi sebuah karya seni yang nantinya bisa dipasarkan di seluruh Nusantara maupun dunia,” ujar Fajar.
Fajar mengatakan pemerintah desa juga berupaya membantu pelaku UMKM menghadapi kendala permodalan, pemasaran, dan kebutuhan pengembangan usaha. Dukungan itu dilakukan melalui motivasi, pembinaan, serta pembangunan jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan.
Usaha Rusmiati menunjukkan bahwa kertas bekas dapat diolah menjadi karya bernilai ekonomi. Melalui ketekunan, kreativitas, dukungan promosi, dan pendampingan pemerintah desa, bahan yang semula dianggap tidak berguna itu menjadi produk kerajinan yang memiliki pasar hingga mancanegara.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















