Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan pentingnya memperkuat partisipasi bermakna perempuan dalam pembangunan ASEAN. Penegasan itu disampaikan pada penutupan 4th ASEAN Women Leaders’ Summit di Filipina, sebagaimana disampaikan dalam siaran pers Kementerian PPPA, Senin (5/10/2026). Menurut Arifah, keterlibatan perempuan tidak cukup hanya melalui representasi, tetapi harus diwujudkan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan di berbagai sektor agar perempuan memiliki pengaruh nyata dalam menentukan arah pembangunan kawasan.
Arifah mengatakan, kepemimpinan perempuan perlu memperoleh perhatian lebih besar, terutama dalam isu aksi iklim atau climate action, sains, teknologi, rekayasa dan matematika atau STEM, Perempuan, Perdamaian dan Keamanan (Women, Peace and Security/WPS), serta sektor nontradisional lainnya.
Partisipasi Bermakna Perempuan dalam Pembangunan ASEAN
“Mengangkat isu-isu kepemimpinan perempuan sangat krusial dan membutuhkan perhatian lebih besar di kawasan. Khususnya pada bidang terkait aksi iklim, STEM, WPS, serta sektor-sektor nontradisional lainnya,” ujar Arifah Fauzi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia menjelaskan, keterlibatan perempuan dalam pembangunan harus diarahkan pada partisipasi bermakna (meaningful participation). Konsep tersebut memungkinkan perempuan memiliki pengaruh nyata dalam proses pengambilan keputusan dan kepemimpinan di berbagai tingkatan.
Arifah menilai keterlibatan nyata perempuan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan masa depan ASEAN yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Karena itu, komitmen terhadap kesetaraan perlu diterjemahkan melalui kebijakan dan tindakan yang membuka ruang kepemimpinan lebih luas bagi perempuan dan anak perempuan.
“Indonesia berkomitmen penuh untuk memajukan kepemimpinan perempuan melalui kebijakan yang kuat dan aksi nyata. Untuk membangun Komunitas ASEAN yang inklusif, kita harus mengubah komitmen bersama menjadi pengaruh yang nyata dan berkelanjutan bagi perempuan dan anak perempuan,” kata Arifah.
Indonesia Dorong Kerja Sama Berbasis Kesetaraan
Menurut Arifah, Indonesia melihat potensi besar dalam kerja sama ASEAN yang berlandaskan kesetaraan, saling menghormati, dan pembelajaran bersama. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memastikan perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan kawasan.
Kerja sama lintas negara dinilai penting untuk memperluas peluang kepemimpinan perempuan di berbagai sektor. Dengan pendekatan tersebut, partisipasi bermakna perempuan tidak berhenti pada komitmen, tetapi dapat diwujudkan melalui kebijakan, praktik, dan ruang pengambilan keputusan yang lebih inklusif.
Arifah juga menyampaikan apresiasi kepada Filipina atas kepemimpinannya sebagai Ketua ASEAN sekaligus penyelenggara 4th ASEAN Women Leaders’ Summit. Ia menilai forum tersebut telah memperkuat ruang dialog dan kolaborasi mengenai kepemimpinan perempuan di kawasan.
Hasil Forum Ditindaklanjuti Pemerintah
Arifah menekankan, momentum ASEAN Women Leaders’ Summit perlu dilanjutkan melalui langkah konkret dan kerja sama lintas negara. Langkah tersebut diperlukan agar komitmen terhadap partisipasi bermakna perempuan dapat diterapkan dalam kebijakan, praktik, serta peluang kepemimpinan yang lebih inklusif di berbagai bidang.
Hasil diskusi dalam ASEAN Women Leaders’ Summit selanjutnya akan menjadi salah satu elemen dalam penyusunan draf Joint Ministerial Statement on Women’s Leadership for Inclusive Prosperity. Draf tersebut akan ditindaklanjuti oleh pemerintah.
Melalui tindak lanjut itu, Indonesia mendorong agar pembahasan mengenai kepemimpinan perempuan di ASEAN menghasilkan pengaruh yang nyata dan berkelanjutan bagi perempuan serta anak perempuan di kawasan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















