Headline.co.id ~ Hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia turun menjadi 527 titik hingga Minggu (4/10/2026) pukul 21.10 WIB. Data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) itu menunjukkan penurunan 139 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 666 titik. Meski demikian, Kementerian Kehutanan tetap memperkuat operasi darat dan udara karena ancaman karhutla masih dapat berubah mengikuti cuaca, kondisi lahan, dan aktivitas manusia.
Di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi tercatat 225 titik, turun dari 429 titik pada Sabtu (3/10). Namun, Kalimantan Tengah menjadi pengecualian karena jumlah hotspot meningkat dari 96 menjadi 116 titik sekaligus menjadi wilayah dengan angka tertinggi di enam provinsi prioritas.
Kalimantan Tengah Jadi Fokus Pemantauan
Kenaikan hotspot di Kalimantan Tengah membuat pemantauan dan verifikasi lapangan tetap diperkuat. Pemerintah memastikan setiap indikasi kebakaran segera diperiksa agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, sehingga setiap titik masih harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan atau groundcheck.
Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, data pemantauan satelit digunakan sebagai dasar untuk menentukan lokasi yang menjadi prioritas pengecekan dan penanganan, bukan sebagai angka pasti jumlah kebakaran.
Penanganan karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta unsur terkait lainnya.
Operasi Darat dan Udara Tetap Berjalan
Operasi udara dilaksanakan bersamaan dengan penanganan di darat. Kegiatan tersebut meliputi patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.
Penanganan diperkuat secara khusus di kawasan gambut. Bara api di wilayah tersebut dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat. Kondisi ini membuat proses pemadaman tidak berhenti setelah api terbuka berhasil dikendalikan.
Penurunan jumlah hotspot secara nasional juga belum menjadi alasan untuk mengurangi kewaspadaan. Kementerian Kehutanan menegaskan ancaman karhutla belum berakhir karena situasi dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca, kondisi lahan, serta aktivitas manusia.
Masyarakat dan pelaku usaha diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran diminta segera melapor agar respons dapat dilakukan sedini mungkin.
Kualitas Udara Dipantau dari Konsentrasi PM2,5
Selain memantau titik panas dan api, pemerintah mengawasi dampak karhutla terhadap kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5. Sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah tercatat memiliki kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan beberapa lokasi masuk kategori berbahaya.
Kondisi udara dapat berubah sesuai perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer. Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah.
Jika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Masker juga dianjurkan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak paparan asap dan partikulat akibat karhutla.
Karhutla Mengancam Satwa Liar
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara, tetapi juga mengancam satwa liar. Karhutla dapat mengganggu habitat, sumber pakan, serta jalur pergerakan satwa.
Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan berdasarkan asesmen lapangan.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke permukiman diminta tidak melakukan evakuasi secara mandiri. Warga dapat menjaga jarak, menghindari tindakan yang membuat satwa stres atau agresif, kemudian melaporkan lokasi dan kondisi satwa kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Penurunan hotspot menjadi perkembangan positif, tetapi belum menunjukkan bahwa risiko karhutla telah sepenuhnya berakhir. Pemerintah meminta laporan segera terkait asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan agar langkah respons dapat dilakukan lebih cepat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















