Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan makan peserta didik, tetapi juga menjadi sarana membangun literasi gizi dan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Kepala BGN Sudaryono atau Mas Dar menyampaikan hal itu dalam Kick-off Literasi Gizi dan Keamanan Pangan bagi Guru, Rabu (12/8/2026). Kegiatan tersebut digelar BGN bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memperkuat pemahaman mengenai gizi dan keamanan pangan di satuan pendidikan. Edukasi itu dilakukan agar manfaat MBG tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan makan, tetapi turut membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
Sudaryono mengatakan, keberhasilan MBG tidak dapat diukur hanya dari banyaknya makanan yang dikonsumsi peserta didik. Menurut dia, makanan yang diberikan harus memenuhi prinsip bergizi serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
“MBG ini bukan hanya sekadar memberikan makan. Tapi memberikan gizi. Nah, gizi yang cukup itu akan menjadi kecukupan untuk berkembang, anak-anak kita, ibu hamil, menyusui, balita, dan anak-anak sekolah kita. Jadi gizi ini penting. Jadi tidak hanya sekadar kenyang,” ujar Sudaryono.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Literasi Gizi MBG Tidak Sekadar Membuat Kenyang
Sudaryono menegaskan, MBG harus dipahami sebagai program yang menyediakan makanan bergizi, bukan sekadar makanan dalam jumlah banyak. Pemahaman tersebut menjadi penting agar peserta didik mengenali tujuan utama program sekaligus memahami manfaat makanan yang mereka konsumsi.
“Tidak hanya sekadar kenyang. Makan bergizi itu makan bergizi, bukan makan banyak. Bukan makan kenyang gratis, bukan makan banyak gratis, bukan makan enak gratis, tapi makan bergizi gratis,” tegasnya.
Karena itu, edukasi mengenai gizi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG. Peserta didik perlu memahami unsur-unsur gizi yang terdapat dalam makanan, lain protein, serat, vitamin, mineral, dan karbohidrat. Pemahaman mengenai unsur tersebut diharapkan membantu peserta didik mengetahui manfaatnya bagi tubuh.
Literasi gizi juga diarahkan untuk membangun kemampuan peserta didik dalam memilih dan mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, edukasi tersebut diharapkan membentuk kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Guru Berperan Menyebarkan Pemahaman Gizi ke Keluarga
Dalam upaya meningkatkan literasi gizi, guru dinilai memiliki peran strategis. Pengetahuan yang diterima peserta didik di sekolah diharapkan dapat diteruskan ke lingkungan keluarga, sehingga pemahaman mengenai gizi tidak hanya berkembang di ruang kelas.
Sudaryono mengatakan, pemahaman anak mengenai gizi diharapkan dapat memengaruhi kebiasaan dan pengetahuan orang-orang di sekitarnya, terutama keluarga tempat anak tinggal bersama orang tua.
“Penting untuk si anak yang kita didik, untuk kemudian dia memahami itu dan kemudian bisa dengan pemahamannya itu bisa memengaruhi lingkungan dia, terkhusus adalah lingkungan keluarga di mana dia tinggal bersama orang tuanya,” ujarnya.
Dengan peran tersebut, guru tidak hanya menjadi pendamping peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru juga diharapkan menjadi penggerak edukasi mengenai pola makan bergizi dan kebiasaan hidup sehat di sekolah maupun lingkungan keluarga.
Keberhasilan MBG Butuh Gizi Seimbang dan Keamanan Pangan
Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN Mariman Darto mengatakan, keberhasilan MBG membutuhkan lebih dari sekadar tersedianya makanan bergizi. Menurut dia, program tersebut juga memerlukan pemahaman mengenai gizi seimbang, keamanan pangan, kebersihan, kedisiplinan, serta kebiasaan hidup sehat di satuan pendidikan.
“Tentu saja kegiatan ini sangat penting karena keberhasilan program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan bergizi, tetapi juga ditentukan oleh tersedianya dan pemahaman mengenai gizi seimbang, keamanan pangan, kebersihan, kedisiplinan, dan tentu kebiasaan hidup sehat di satuan pendidikan,” ujar Mariman.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pelaksanaan MBG perlu berjalan bersama edukasi yang mendukung perilaku hidup sehat. Ketersediaan makanan bergizi menjadi salah satu bagian, sedangkan pemahaman dan kebiasaan peserta didik menjadi bagian lainnya.
Melalui kolaborasi BGN, Kemendikdasmen, guru, peserta didik, dan keluarga, MBG diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mendukung pembentukan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
Upaya penguatan literasi gizi itu sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Generasi muda diharapkan tumbuh sehat, berkualitas, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















