Headline.co.id, Jakarta ~ Harga emas menguat tipis pada perdagangan Rabu setelah bangkit dari level terendah dalam sekitar delapan pekan, ketika investor menunggu data inflasi Amerika Serikat yang menjadi salah satu acuan utama Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter. Spot gold naik 0,3 persen menjadi US$4.193,62 per troy ounce, sedangkan kontrak berjangka emas menguat 1,1 persen ke US$4.223,47 per troy ounce. Meski mengalami rebound, kenaikan harga emas masih dibayangi tingginya harga energi, penguatan dolar AS, serta imbal hasil obligasi yang meningkatkan ekspektasi kebijakan suku bunga lebih ketat.
Pergerakan harga emas saat ini terutama dipengaruhi perhatian pasar terhadap Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi yang kerap digunakan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Analis Pasar Senior Trade Nation David Morrison mengatakan rilis Core PCE berpotensi memicu volatilitas pasar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“[Rabu] ini menghadirkan pembaruan terbaru mengenai Core PCE AS, ukuran inflasi pilihan The Fed, yang berpotensi mengguncang pasar sedikit,” kata David Morrison dalam sebuah catatan.
Harga emas memang mengalami kenaikan dalam perdagangan terbaru. Namun, secara bulanan logam mulia tersebut masih berada dalam tekanan setelah harga spot emas turun lebih dari 6 persen selama sebulan terakhir.
Inflasi AS Jadi Fokus Pasar Emas
Pasar menunggu perkembangan inflasi karena angka tersebut dapat menentukan seberapa agresif The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Untuk Agustus, inflasi inti PCE yang tidak memasukkan harga pangan dan energi diperkirakan naik menjadi 0,3 persen secara bulanan dari sebelumnya 0,2 persen. Sementara inflasi PCE keseluruhan diproyeksikan meningkat menjadi 0,4 persen dari 0,2 persen.
Secara tahunan, PCE inti diperkirakan berada di level 3,3 persen, sedangkan PCE keseluruhan diproyeksikan mencapai 3,7 persen. Angka tersebut masih jauh berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2 persen.
Perkembangan tersebut menjadi penting bagi harga emas karena kebijakan suku bunga tinggi dapat meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada awal bulan sebagai bagian dari upaya menekan tekanan inflasi.
Namun, arah kebijakan berikutnya masih menjadi perhatian pasar. Presiden Fed New York John Williams menyatakan mungkin tidak terdapat “urgensi” untuk segera menaikkan kembali suku bunga pada Oktober.
Di sisi lain, hampir seluruh pejabat dalam proyeksi terbaru Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini. Hanya dua dari 18 anggota yang tidak menyerukan setidaknya satu kali kenaikan tambahan.
Harga Minyak Tinggi Tambah Tekanan Inflasi
Selain data PCE, tingginya harga minyak turut menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya di berbagai sektor perekonomian dan mendorong inflasi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan atau kembali menaikkan suku bunga.
Emas selama ini banyak dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika inflasi mendorong suku bunga dan imbal hasil obligasi naik, daya tarik emas dapat melemah karena logam mulia tersebut tidak menawarkan bunga.
Tekanan juga datang dari penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun tercatat melampaui 5,61 persen pada Selasa dan mencapai level yang terakhir terlihat pada 2002. Sementara imbal hasil tenor dua tahun sempat turun sekitar lima basis poin sebelum berada di sekitar 4,88 persen.
“Meningkatnya ekspektasi terhadap lebih banyak kenaikan suku bunga The Fed membuat dolar tetap kuat, imbal hasil tetap tinggi. Saya pikir kenaikan mungkin agak terbatas hari ini dan pasar akan tetap fokus pada data inflasi PCE besok dan data lapangan pekerjaan pada hari Jumat,” kata Grant.
Harga Emas Rebound, tetapi Tren Jangka Pendek Masih Tertekan
Harga emas XAU/USD sebelumnya rebound dari level terendah sekitar delapan minggu hingga mendekati US$4.180 pada awal perdagangan Asia Rabu.
Meski demikian, para ahli strategi OCBC menilai tekanan terhadap harga emas belum sepenuhnya mereda setelah logam mulia tersebut jatuh ke level terendah sekitar tujuh minggu.
Menurut OCBC, kenaikan harga minyak telah memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi dan ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed.
OCBC menyebut “imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang lebih tinggi dan USD yang kuat menambah tekanan”, sementara “penembusan di bawah 4200 kemungkinan memperburuk aksi jual teknis”.
Dalam jangka pendek, OCBC melihat minyak dan respons suku bunga terkait sebagai faktor utama yang memengaruhi emas. Data ekonomi AS yang lebih lemah, termasuk PCE inti maupun Nonfarm Payrolls, atau penurunan imbal hasil obligasi dapat membantu harga emas stabil.
Sebaliknya, kenaikan lanjutan pada harga minyak dan imbal hasil berpotensi mempertahankan tekanan terhadap harga emas.
Analisis Teknikal XAU/USD Masih Bearish
Dari sisi teknikal, XAU/USD masih berada di bawah simple moving average atau SMA 100 hari serta garis tengah Bollinger Bands pada grafik harian.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jangka pendek masih berlangsung meskipun emas telah rebound dari level di bawah US$4.100.
Relative Strength Index atau RSI berada di level 40,11. Posisi itu masih berada di wilayah bearish, meskipun sudah keluar dari kondisi jenuh jual sehingga menunjukkan momentum penurunan mulai sedikit mereda.
Resistance terdekat berada pada SMA 100 hari di sekitar US$4.295, kemudian garis tengah Bollinger Bands pada US$4.325. Batas atas Bollinger Bands berada di sekitar US$4.490.
Sementara support terdekat berada di sekitar US$4.165. Penembusan level tersebut berpotensi membuka ruang bagi koreksi harga emas yang lebih dalam.
Pasar juga mencermati perkembangan Timur Tengah. Qatar tengah menjadi mediator antara Washington dan Teheran dalam pembicaraan yang antara lain membahas kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pembukaan jalur tersebut berpotensi memperbaiki aliran pasokan minyak global. Namun, prospek tercapainya kesepakatan masih belum jelas setelah Presiden Donald Trump menolak laporan mengenai kemungkinan keringanan sanksi terhadap Teheran, sementara Iran tetap mendorong persyaratan terkait pembukaan blokade selat.
Dengan harga minyak yang masih tinggi, tekanan inflasi tetap menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut membuat data PCE AS menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi menentukan arah kebijakan The Fed sekaligus pergerakan harga emas dalam jangka pendek.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















