Headline.co.id, Batang ~ Harga cabai di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, melonjak sejak sepekan terakhir akibat kemarau panjang yang melanda wilayah Pantura. Kenaikan terjadi di Pasar Batang dan menyasar hampir seluruh jenis cabai, dengan rata-rata peningkatan sekitar Rp5 ribu per kilogram. Selain harga, kemarau juga berdampak pada kualitas cabai karena tanaman kekurangan air. Kondisi tersebut disampaikan para pedagang saat ditemui di Pasar Batang, Selasa (29/9/2026).
Pedagang sayuran di Pasar Batang, Yuli, mengatakan kenaikan harga mulai terjadi sejak Senin pada pekan sebelumnya. Kenaikan itu terjadi pada berbagai jenis cabai, mulai dari cabai teropong besar, cabai keriting, rawit hijau, hingga rawit merah.
“Harga cabai merah dan rawit hijau semula Rp35 ribu jadi Rp40 ribu, rawit merah semula Rp75 ribu jadi Rp80 ribu serta keriting dari Rp50 ribu jadi Rp55 ribu per kilogram,” kata Yuli saat ditemui di kiosnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Yuli, kemarau panjang menjadi faktor utama kenaikan harga sekaligus memengaruhi kualitas cabai yang dipasok distributor. Ia menyebut stok cabai masih aman, tetapi mutu komoditas yang diterima tidak selalu baik.
“Kalau stok masih aman, tiap hari ambil 5 kilogram untuk semua jenis cabai, tapi kualitas kadang kurang baik karena kekeringan, hari ini pas kualitasnya segar, tidak terlalu kering dan kecil,” ujarnya.
Harga Cabai di Batang Naik Bersamaan dengan Sayuran Lain
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai. Sejumlah sayuran lain juga mengalami peningkatan harga di Pasar Batang.
Buncis yang sebelumnya dijual Rp10 ribu naik menjadi Rp20 ribu. Harga daun bawang meningkat dari Rp12 ribu menjadi Rp14 ribu, sedangkan bawang merah naik dari Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram.
Pedagang sayuran lainnya, Hidayati, juga mengakui adanya kenaikan harga sejak beberapa hari terakhir. Menurut dia, kenaikan paling dominan terjadi pada berbagai jenis cabai dan dipengaruhi oleh kemarau panjang di Kabupaten Batang.
“Kualitas cabai yang dipetik pun sering kali kurang baik karena faktor kekurangan air, sehingga berpengaruh pada penurunan mutu saat dipanen. Harganya rata-rata naik Rp5 ribu, cabai teropong merah dari Rp25 ribu jadi Rp31 ribu, keriting hijau dari Rp20 jadi Rp25 ribu per kilogram,” terang Hidayati.
Keterangan para pedagang menunjukkan dampak kemarau tidak hanya dirasakan dari sisi harga, tetapi juga dari kondisi fisik cabai yang dipasarkan. Kekurangan air membuat sebagian cabai yang dipanen memiliki kualitas lebih rendah.
Pedagang Sayur Keliling Kurangi Keuntungan
Kenaikan harga cabai turut memengaruhi pedagang yang membeli komoditas tersebut untuk dijual kembali kepada konsumen. Castonah, pedagang sayur keliling, mengatakan tetap berbelanja cabai meski harganya meningkat selama sepekan terakhir.
Ia tetap mengambil stok untuk memenuhi kebutuhan konsumen di lokasi tempatnya berjualan. Namun, kenaikan harga membuatnya harus mengurangi keuntungan agar pembeli tetap dapat membeli cabai.
“Ya terpaksa ambil untung sedikit, biar pembelinya tetap bisa beli. Yang penting untung sedikit tapi pembeli lancar,” ujar Castonah.
Dengan demikian, pedagang memilih mempertahankan kelancaran penjualan meski margin keuntungan menyusut. Sementara itu, harga cabai dan sejumlah sayuran lainnya masih berada di atas harga sebelum kemarau panjang berdampak pada pasokan serta kualitas hasil panen.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















