Headline.co.id, Jakarta ~ Infeksi influenza A perlu diwaspadai karena dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memicu pneumonia pada kondisi parah. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, Joyce Bratanata, mengingatkan masyarakat di Jakarta dan daerah lain agar tidak menyepelekan gejala seperti batuk, pilek, serta demam. Peringatan itu disampaikan karena influenza A dapat membuka celah bagi bakteri di saluran pernapasan untuk masuk ke paru-paru. Pemeriksaan medis, penggunaan masker, cuci tangan, dan vaksinasi influenza tahunan menjadi sejumlah langkah yang dianjurkan untuk menekan risiko penularan dan keparahan penyakit.
“Virus influenza itu memperlemah sistem imun tubuh dan membuka celah. Jika barier pertahanan tubuh terganggu, bakteri yang berkolonisasi di saluran napas atas bisa masuk ke paru-paru dan berkembang menjadi pneumonia,” ujar Joyce, dikutip dari , Sabtu (26/9/26).
Gejala Influenza A Tak Boleh Disepelekan
Menurut Joyce, gejala awal influenza A umumnya menyerupai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) lainnya. Gejala tersebut meliputi nyeri tenggorokan, batuk kering, hingga demam tinggi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Batuk dan pilek sering dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, masyarakat diminta tidak menunggu sampai kondisi memburuk atau muncul sesak napas.
“Jangan menunggu sampai gejalanya berat atau sesak napas. Jika batuk dan pilek sudah berlangsung tiga hari disertai demam, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter,” kata Joyce.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu memastikan etiologi atau penyebab penyakit. Pemeriksaan itu dapat dilakukan melalui swab test atau uji usap antigen influenza serta pemeriksaan panel PCR.
Dengan metode pemeriksaan yang sesuai, hasil diagnosis diharapkan lebih tepat sehingga pasien dapat memperoleh terapi yang sesuai. Pemeriksaan juga penting agar pasien tidak sembarangan mengonsumsi obat.
Kelompok Rentan Mengalami Perburukan
Joyce mengingatkan bahwa tidak semua penderita influenza perlu mengonsumsi obat antivirus. Terapi antivirus umumnya diprioritaskan bagi pasien yang memiliki indikasi klinis jelas atau termasuk kelompok rentan dengan risiko tinggi.
Kelompok yang paling rentan mengalami perburukan akibat influenza A meliputi anak-anak usia balita, anak usia 6-7 tahun, lansia, serta individu dengan penyakit komorbid.
Penyakit komorbid yang dimaksud lain penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Orang dengan daya tahan tubuh yang menurun juga termasuk kelompok rentan.
Kelompok tersebut mencakup penderita autoimun, pengidap kanker yang sedang menjalani kemoterapi, serta orang dengan HIV.
Pencegahan Influenza A dan Vaksinasi
Untuk mencegah penyebaran influenza A semakin meluas, Joyce mengimbau masyarakat memperketat kembali protokol kesehatan dasar di lingkungan rumah maupun kantor. Influenza mudah menyebar melalui udara atau airborne.
Langkah pencegahan yang dianjurkan lain menggunakan masker dengan benar dan mencuci tangan memakai sabun serta air mengalir sebelum menyentuh anggota keluarga. Masyarakat juga diimbau tidak merokok di ruangan tertutup.
Joyce menganjurkan masyarakat melengkapi vaksinasi influenza tahunan jika memungkinkan. “Vaksin influenza yang beredar saat ini umumnya memberikan perlindungan terhadap galur influenza A dan B. Vaksinasi tahunan menjadi langkah proteksi penting untuk menekan risiko penularan dan keparahan penyakit,” jelasnya.
Kasus Influenza A(H3N2) Subclade K
Kementerian Kesehatan mencatat 184 kasus influenza A(H3N2) Subclade K sejak 2025 hingga minggu ke-36 2026. Kasus tersebut tersebar di 20 provinsi.
Kasus paling banyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Khusus pada 2026 hingga minggu ke-36, tercatat 22 kasus influenza A H3N2 Subclade K yang tersebar di enam provinsi.
Pada periode tersebut, kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Papua Selatan. Influenza tipe ini juga dikenal dengan istilah super flu, sedangkan Subclade K merupakan bagian dari influenza A(H3N2) yang telah mengalami mutasi.
Berdasarkan kelompok usia, super flu paling banyak ditemukan pada anak usia 0-4 tahun, yakni 38 persen. Berikutnya adalah kelompok usia 5-9 tahun sebesar 23,4 persen, usia 10-17 tahun sebesar 21,2 persen, usia 18-59 tahun sebesar 15,8 persen, dan usia di atas 60 tahun sebesar 1,6 persen.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















